
GIANYAR, KEN-KEN – Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Warmadewa memaparkan kajian ketahanan pangan Kabupaten Gianyar dalam forum rapat Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kabupaten Gianyar bersama Forum Perbekel se-Kabupaten Gianyar, Senin (25/5).
Rapat yang berlangsung di Ruang Rapat Mal Pelayanan Publik Kabupaten Gianyar tersebut dipimpin langsung Kepala BRIDA Kabupaten Gianyar, Ketut Sedana, A.P.
Kegiatan ini turut dihadiri OPD terkait, di antaranya Bappeda Kabupaten Gianyar, Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Gianyar, dan Dinas Pertanian Kabupaten Gianyar. Hadir pula para camat serta Ketua Forum Lurah/Perbekel Kecamatan se-Kabupaten Gianyar.
Forum tersebut menjadi ruang strategis untuk membahas arah kebijakan ketahanan pangan daerah berbasis data, potensi wilayah, serta masukan dari pemerintah desa. Keterlibatan para perbekel dinilai penting karena desa menjadi garda terdepan dalam memahami kondisi riil ketahanan pangan masyarakat.
Dalam kajian tersebut, LPPM Universitas Warmadewa menurunkan tim peneliti lintas bidang. Tim tersebut terdiri atas Dr. I Wayan Rideng pada bidang kelembagaan, Dr. Bagus Udayana, P.T. pada bidang pertanian, Dr. Ketut Darma, S.E., M.M. pada bidang statistik, serta Komang Putra, S.E., M.M. pada bidang ekonomi pembangunan.
Perwakilan Tim Peneliti LPPM Universitas Warmadewa, Dr. I Wayan Rideng, menyampaikan bahwa kajian ketahanan pangan Kabupaten Gianyar tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan dokumen akademik, tetapi juga diharapkan dapat menjadi dasar perumusan program yang aplikatif di tingkat desa.
Menurutnya, Universitas Warmadewa memiliki potensi besar untuk mendukung desa-desa di Kabupaten Gianyar melalui berbagai program akademik, termasuk Kuliah Kerja Nyata atau KKN. Dengan jumlah mahasiswa KKN yang cukup besar dalam setiap periode, hasil kajian ini diharapkan dapat menjadi dasar penempatan program yang lebih tepat sasaran.
“Kami berharap kajian ini tidak berhenti sebagai dokumen, tetapi bisa ditindaklanjuti dalam program nyata. Universitas Warmadewa memiliki mahasiswa KKN dalam jumlah besar pada setiap periode, sehingga ke depan bisa diarahkan untuk mendukung desa-desa sesuai kebutuhan mendasar masyarakat,” ujar Dr. Rideng.
Ia menambahkan, masukan dari perbekel sangat penting untuk memastikan rekomendasi yang disusun benar-benar sesuai dengan kondisi lapangan. Karena itu, forum bersama BRIDA, OPD, camat, dan Forum Perbekel menjadi ruang penting untuk mempertemukan data akademik dengan kebutuhan riil masyarakat.
“Masukan dari para perbekel dan perangkat daerah menjadi sangat penting. Dari forum seperti ini, kita bisa mengetahui kebutuhan mendasar desa, baik terkait kelembagaan, pertanian, ketahanan pangan, hingga persoalan teknis seperti air dan pengelolaan sumber daya. Jadi, rekomendasi yang lahir nanti benar-benar bisa digunakan,” jelasnya.
Dr. Rideng juga menekankan pentingnya keberlanjutan program setelah kajian selesai. Menurutnya, hasil kajian perlu ditindaklanjuti dalam waktu yang terukur, termasuk penyusunan rekomendasi akhir yang dapat dimanfaatkan pemerintah daerah.
“Kami berharap dalam waktu yang tidak terlalu lama, paling tidak dua bulan, hasil kajian ini sudah dapat dirampungkan. Setelah itu tentu perlu ada tindak lanjut program, termasuk kemungkinan sinergi dengan Dinas Pertanian dan perangkat daerah terkait,” katanya.
Sementara itu, Kepala BRIDA Kabupaten Gianyar, Ketut Sedana, A.P., menyambut baik kajian yang dilakukan LPPM Universitas Warmadewa. Menurutnya, forum ini menjadi bagian penting dalam memperkuat kebijakan ketahanan pangan berbasis riset, data, dan partisipasi desa.
Ketut Sedana menjelaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Gianyar sebelumnya telah memiliki dokumen Rencana Aksi Daerah atau RAD Pangan dan Gizi yang ditetapkan melalui Peraturan Bupati Nomor 64 Tahun 2024 untuk periode 2025–2027.
Menurutnya, hasil kajian yang dipaparkan LPPM Universitas Warmadewa memiliki arah yang sejalan dengan RAD Pangan dan Gizi tersebut. Namun, kajian terbaru ini diharapkan dapat memperkaya data dan memperbarui informasi berdasarkan kondisi terkini di lapangan.
“Di Gianyar sebelumnya sudah disusun RAD Pangan dan Gizi yang ditetapkan melalui Peraturan Bupati Nomor 64 Tahun 2024 untuk periode 2025–2027. Kalau dilihat dari substansi rekomendasi, hasil kajian ini hampir sejalan dengan RAD yang sudah kami susun,” ujar Ketut Sedana.
Ia menjelaskan, data dalam RAD Pangan dan Gizi sebelumnya masih menggunakan data tahun 2023 karena dokumen tersebut disusun pada tahun 2024. Karena itu, kajian dari LPPM Warmadewa diharapkan dapat menghadirkan data yang lebih mutakhir untuk penyempurnaan kebijakan.
“Data yang kami sajikan dalam RAD tersebut merupakan data tahun 2023. Karena itu, kajian ini kami harapkan dapat memberikan pembaruan data dan masukan yang lebih aktual, terutama dari desa-desa melalui Forum Perbekel,” jelasnya.
Lebih lanjut, Ketut Sedana menegaskan bahwa isu ketahanan pangan tidak dapat dilihat hanya dari satu sektor. Ketahanan pangan berkaitan dengan pertanian, kelembagaan, ekonomi, data statistik, distribusi, hingga kemampuan desa dalam mengelola potensi wilayahnya.
Karena itu, pihaknya mendorong agar hasil kajian ini mampu menghasilkan rekomendasi strategis yang dapat diterjemahkan dalam program pembangunan daerah.
“Harapan kami, kajian ini dapat memberikan rekomendasi yang konkret, baik dalam penguatan kelembagaan, pengelolaan sektor pertanian, pemanfaatan potensi komoditas lokal, maupun peningkatan ketahanan pangan masyarakat,” ujarnya.
Forum tersebut juga menekankan pentingnya penguatan basis data ketahanan pangan di Kabupaten Gianyar. Data yang akurat dan mutakhir dinilai menjadi landasan penting dalam menyusun program, menentukan prioritas kebijakan, dan memastikan intervensi pemerintah tepat sasaran.
Melalui forum ini, hasil kajian akademik diharapkan tidak hanya menjadi bahan diskusi, tetapi juga dapat diterjemahkan menjadi rekomendasi kebijakan yang aplikatif. Sinergi antara pemerintah daerah, akademisi, OPD, camat, dan perbekel menjadi kunci dalam memperkuat ketahanan pangan Kabupaten Gianyar secara berkelanjutan hingga tingkat desa. (wir)
Editor: Ken


