
KLUNKUNG, KEN-KEN – Persoalan sampah yang kerap dipandang sebagai beban justru berubah menjadi sumber inspirasi di Desa Tangkas, Kabupaten Klungkung. Keberhasilan desa ini dalam mengelola sampah berbasis masyarakat menarik perhatian akademisi hingga peserta internasional dalam kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Internasional yang digelar Program Studi Magister Sains Pertanian (MSP) Universitas Warmadewa bekerja sama dengan School of Business and Accountancy, University of Northern Philippines (UNC).
Kegiatan yang berlangsung pada 20–24 April 2026 tersebut mengangkat misi besar untuk mengkaji strategi pengelolaan sampah yang telah berjalan efektif di Desa Tangkas. Puncak kegiatan berlangsung pada 21 April 2026, saat tim PKM turun langsung ke lapangan untuk melakukan observasi dan diskusi mendalam terkait sistem pengelolaan limbah di desa tersebut.
Tim pelaksana dari MSP Universitas Warmadewa dipimpin langsung oleh Prof. Dr. Ir. Yohanes Parlindungan Situmeang, M.Si., selaku Ketua Program Studi MSP. Ia didampingi Prof. Dr. Ir. I Gede Pasek Mangku, M.P., serta Dr. Ir. Ida Bagus Komang Mahardika, M.Si. Nuansa internasional dalam kegiatan ini semakin kuat dengan kehadiran dua mahasiswa dari UNC Filipina, yakni Regine Antonette Loresto dan Sheralyn De Las Nieves, yang turut mengamati dan mendalami pola pengelolaan sampah di Desa Tangkas.
Rombongan disambut oleh jajaran perangkat Desa Tangkas sebelum memulai kunjungan ke lokasi pertama, yaitu TPS-3R Darma Winangun. Fasilitas ini berdiri sejak 2015 berdasarkan kesepakatan masyarakat adat setempat dan saat ini mampu mengolah hingga 40 ton sampah per bulan.
Di lokasi tersebut, narasumber utama I Ketut Darmawan, S.Pt., M.Si., yang juga alumni MSP Universitas Warmadewa, menjelaskan bagaimana sampah organik diolah menjadi kompos berkualitas. Meski sistem berjalan baik, tim juga mencatat sejumlah tantangan, seperti penumpukan residu dan perlunya penguatan pemilahan sampah dari tingkat rumah tangga.
“Pengelolaan sampah di Desa Tangkas bertumpu pada keterlibatan masyarakat. Kalau pemilahan dari rumah tangga semakin disiplin, maka proses pengolahan di TPS-3R akan semakin optimal dan residu yang tersisa bisa semakin ditekan,” ujar I Ketut Darmawan.
Kunjungan kemudian dilanjutkan ke Pabrik Pupuk Organik Darmapuri Agro Semesta, yang telah beroperasi sejak 2013. Di tempat ini, limbah peternakan dan pertanian diolah menjadi produk bernilai ekonomi seperti pupuk cair dan ecoenzyme. Menariknya, sejak awal 2026, pabrik tersebut juga mulai menerima sampah organik dari sektor pariwisata di kawasan Kuta dan Nusa Dua. Hal ini menunjukkan bahwa sistem pengelolaan sampah di Desa Tangkas tidak hanya melayani kebutuhan lokal, tetapi juga memiliki kapasitas mendukung keberlanjutan sektor pariwisata Bali.
Dua mahasiswa UNC Filipina, Regine Antonette Loresto dan Sheralyn De Las Nieves, menyampaikan apresiasi atas sinergi yang terbangun antara masyarakat, pemerintah desa, dan perguruan tinggi dalam pengelolaan sampah di Desa Tangkas. Bagi mereka, desa ini merupakan contoh nyata bagaimana solusi lokal mampu menjawab tantangan global.
Sementara itu, Prof. Yohanes Situmeang menegaskan bahwa TPS-3R dan pabrik pupuk organik di Desa Tangkas dapat menjadi laboratorium nyata bagi masyarakat dan dunia akademik untuk belajar bahwa sampah memiliki nilai ekonomi besar apabila dikelola dengan pendekatan ilmu pengetahuan yang tepat.
“Desa Tangkas memperlihatkan bahwa pengelolaan sampah tidak berhenti pada urusan kebersihan, tetapi juga bisa menjadi sumber nilai tambah ekonomi, edukasi, dan penguatan masyarakat. Ini yang menjadikan Desa Tangkas layak menjadi model pembelajaran bersama, bahkan pada level internasional,” ujar Prof. Yohanes Parlindungan Situmeang.
Melalui kegiatan PKM Internasional ini, kolaborasi antara Universitas Warmadewa dan UNC Filipina diharapkan terus berlanjut pada masa mendatang. Di sisi lain, Desa Tangkas semakin menegaskan posisinya sebagai contoh inspiratif dalam pengelolaan sampah mandiri, inovatif, dan berkelanjutan. (msp).
Editor: Ken


