Gubernur Koster Bacakan Pesan Megawati pada The 3rd World Civilizations Harmony Forum

0
42
Foto: Gubernur Bali I Wayan Koster, Prof. Dr. Mahfud, MD, bersama Ketua Yayasan Prajna Harmonis, Kasino.

Serukan Peradaban Dunia yang Berkeadilan

DENPASAR, KEN-KEN – Gubernur Bali, Wayan Koster, membacakan sambutan Presiden ke-5 Republik Indonesia sekaligus Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Megawati Soekarnoputri, pada pembukaan The 3rd World Civilizations Harmony Forum yang berlangsung di Hotel Renaissance Bali Uluwatu, Badung, Senin (29/6).

Kegiatan ini mempertemukan tokoh lintas negara, agama, budaya, dan akademisi untuk membahas masa depan peradaban dunia yang damai, adil, harmonis, dan berkelanjutan.

Ketua Yayasan Prajna Harmonis, Kasino, dalam sambutannya menyampaikan bahwa cita-cita menciptakan harmoni dan perdamaian dunia saat ini terasa semakin menantang. Hal tersebut tidak terlepas dari berbagai konflik global yang masih terjadi di sejumlah kawasan dunia. Namun, menurutnya, para peserta forum tetap memilih berkumpul untuk bersama-sama memikirkan masa depan umat manusia.

Kasino menjelaskan, forum ini bertujuan menghormati keberagaman peradaban sekaligus menemukan nilai-nilai universal yang dapat menyatukan umat manusia. Nilai tersebut adalah hati nurani sebagai dasar martabat dan nilai setiap manusia, tanpa memandang kebangsaan, suku, agama, budaya, maupun ideologi.

Baca Juga:  Wayan Gede Yudiana Dorong Peradi SAI Denpasar Hadir Lebih Dekat untuk Desa Adat dan UMKM

Mengutip pandangan sejarawan dunia, Profesor Wang Gungwu, Kasino menyampaikan bahwa budaya merupakan identitas khas yang tumbuh dari kehidupan bersama suatu masyarakat. Karena itu, budaya bersifat lokal dan beragam. Namun, di balik keberagaman tersebut terdapat nilai-nilai kemanusiaan yang bersifat universal.

Atas dasar itu, forum ini mengusung tema “Harmony in Diversity, Human Fraternity.” Tema tersebut dinilai selaras dengan nilai-nilai Pancasila dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

Selain itu, nilai yang sama juga hidup dalam berbagai ajaran agama dan peradaban dunia, seperti Vasudhaiva Kutumbakam dalam Hindu, Ukhuwah Insaniyah dalam Islam, Tianxia Yijia dalam Konfusianisme, serta persaudaraan universal dalam tradisi Buddha dan Kristen.

Kasino juga mengingatkan kembali pesan Megawati Soekarnoputri pada The 2nd World Civilizations Harmony Forum. Saat itu, Megawati menegaskan bahwa dunia yang setara dan bermartabat tidak boleh dipimpin oleh “hukum rimba”, melainkan oleh “hukum hati nurani”. Menurut Kasino, teori benturan peradaban lahir dari sejarah panjang persaingan dan dominasi antarmanusia.

Baca Juga:  Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri Hadiri Penutupan Bulan Bung Karno di Bali

Padahal, hukum yang sesungguhnya bekerja di alam semesta adalah hukum harmoni yang menjaga keseimbangan, keterhubungan, dan kerja sama. Karena itu, forum ini diharapkan menjadi ruang untuk menyumbangkan gagasan, kebijaksanaan, dan suara hati demi membangun peradaban dunia yang lebih damai, adil, dan bermartabat.

Dalam sambutan Megawati Soekarnoputri yang dibacakan Gubernur Koster, Bali disebut sebagai cerminan harmoni antara alam, spiritualitas, budaya, dan keramahan masyarakat. Bali juga disebut menjadi salah satu wajah peradaban Indonesia di mata dunia.

Megawati menegaskan, filosofi Tri Hita Karana yang hidup dalam masyarakat Bali mengajarkan keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam semesta. Nilai tersebut dinilai sangat relevan dengan tema forum yang mengedepankan harmoni dalam keberagaman dan persaudaraan kemanusiaan.

Megawati juga menyoroti kondisi dunia yang semakin diwarnai persaingan hegemoni, konflik bersenjata, ketidakadilan, serta dominasi ekonomi, teknologi, dan informasi. Situasi tersebut dinilai berpotensi mengancam nilai-nilai kemanusiaan dan masa depan peradaban dunia.

Berangkat dari pengalaman Indonesia sebagai bangsa majemuk yang dipersatukan oleh Bhinneka Tunggal Ika, Megawati mengajukan lima agenda penting bagi keberlanjutan peradaban dunia.

Lima agenda tersebut yakni membangun regulasi global yang berkeadilan, memperkuat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), mereformasi sistem keuangan global, mengembangkan kearifan lokal sebagai fondasi pembangunan berkelanjutan, serta memperkuat sistem kebudayaan melalui pendidikan, kesehatan, dan pelestarian identitas budaya setiap bangsa.

Dalam pesan tersebut, Megawati juga menekankan bahwa setiap bangsa perlu menjaga akar kebudayaan dan identitasnya. Namun, kecintaan terhadap bangsa sendiri harus berjalan seiring dengan tanggung jawab membangun dunia yang lebih baik.

Menutup sambutannya, Megawati mengutip pesan Proklamator Republik Indonesia, Ir. Soekarno, bahwa internasionalisme tidak dapat tumbuh tanpa berakar pada nasionalisme.

Karena itu, kecintaan terhadap tanah air harus selaras dengan semangat kemanusiaan universal. Megawati mengajak dunia membangun masa depan yang berlandaskan kesetaraan, kemanusiaan, keadilan, dan kemakmuran bersama. Ia juga menyerukan kepada generasi muda di seluruh dunia untuk menjadi pembangun jembatan persaudaraan, bukan tembok pemisah.

Dengan semangat tersebut, generasi muda diharapkan mampu menjadi pelanjut peradaban yang mengedepankan dialog, empati, dan kerja sama lintas bangsa. Hadir pula dalam kesempatan tersebut Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Republik Indonesia periode 2019–2024, Prof. Dr. Mahfud MD.

Melalui penyelenggaraan The 3rd World Civilizations Harmony Forum di Bali, Indonesia kembali menegaskan komitmennya sebagai bangsa yang menjunjung Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, dan persaudaraan kemanusiaan. Forum ini diharapkan menjadi ruang dialog global untuk merawat harmoni peradaban, memperkuat keadilan dunia, serta membangun masa depan yang damai dan berkelanjutan bagi seluruh umat manusia.

Editor: Ken

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here