Guruh Soekarnoputra Wafat, Bali Kehilangan Seniman yang Menjadikan Pulau Dewata Sumber Inspirasi

0
1050
Foto: Megawati Soekarnoputri saat menaburkan bunga di makam Guruh Soekarnoputra, (26/9/2026). Ist.

JAKARTA, KEN-KENKHABARE – Indonesia kehilangan salah satu tokoh penting dalam perjalanan seni dan kebudayaan, Mohammad Guruh Irianto Soekarnoputra, putra bungsu Presiden pertama RI Soekarno dan Fatmawati, meninggal dunia pada Sabtu (26/9/2026) dalam usia 73 tahun.

Guruh mengembuskan napas terakhir di Jakarta. Kabar duka tersebut tidak hanya menyelimuti keluarga besar Soekarno dan dunia politik, tetapi juga dunia seni, musik dan kebudayaan Indonesia.

Bagi Bali, Guruh bukan sekadar seniman nasional yang pernah menggunakan unsur gamelan Bali dalam karyanya. Bali merupakan salah satu ruang penting dalam perjalanan kreativitas Guruh.

Sejak kecil, Guruh telah memiliki ketertarikan terhadap seni. Arsip Pusat Studi Arsip Statis Kepresidenan ANRI mencatat bahwa Guruh belajar tari Jawa, Sunda dan Bali sejak usia dini. Ketertarikannya terhadap seni kemudian berkembang menjadi perjalanan panjang sebagai musisi, koreografer dan pencipta pertunjukan.

Hubungan Guruh dengan Bali berkembang semakin kuat ketika ia mulai mendalami seni pertunjukan dan musik tradisional Bali.

Bali tidak hanya hadir sebagai ornamen dalam karya-karyanya. Unsur Bali menjadi bagian dari eksplorasi artistik Guruh dalam mencari pertemuan antara tradisi Nusantara dan ekspresi musik modern.

Salah satu tonggak terpentingnya adalah Guruh Gipsy, proyek musik yang mempertemukan Guruh dengan kelompok Gipsy. Eksperimen tersebut memadukan musik Barat dengan gamelan Bali.

ANRI mencatat, sepulang dari Belanda pada 1975, Guruh mengembangkan eksperimen musik yang memadukan gamelan Bali dan musik Barat. Eksperimen tersebut kemudian melahirkan album Guruh Gipsy, sebuah karya yang menjadi bagian penting dalam perjalanan musik Indonesia.

Karya tersebut memperlihatkan bagaimana Guruh melihat tradisi bukan sebagai sesuatu yang harus dipertentangkan dengan modernitas, melainkan sebagai sumber kekayaan yang dapat dikembangkan melalui kreativitas.

Kedekatan Guruh dengan Bali juga terlihat dari hubungan panjangnya dengan lingkungan seni Peliatan, Ubud.

Dalam perjalanan berkesenian di Bali, Guruh berhubungan dengan sejumlah maestro seni Peliatan dan lingkungan Tirta Sari. Ia bahkan menciptakan karya tari yang kemudian berkembang menjadi bagian dari repertoar seni pertunjukan Bali.

Salah satunya adalah Legong Untung Surapati, karya yang diciptakan Guruh pada 1982 dan berkaitan dengan tradisi Legong Peliatan. Karya tersebut kemudian terus dipentaskan oleh lingkungan seni Peliatan.

Hubungan tersebut tidak berhenti pada penciptaan karya. Guruh juga ikut mendokumentasikan dan menulis mengenai perjalanan seni Peliatan melalui buku “Dari Peliatan Menggetarkan Dunia”, bersama Anak Agung Oka Dalem dan Bulantrisna Djelantik.

Kedekatan Guruh dengan Bali tercermin dalam perjalanan karya seninya, termasuk keterlibatannya dengan lingkungan seni Peliatan dan penciptaan sejumlah karya yang menggunakan idiom seni Bali

Sebuah tulisan yang merekam sosok Guruh pada 1990-an menyebut bahwa dalam perjalanan seninya, Guruh mengaku tidak pernah lepas dari Bali. Nuansa Bali disebut terus hadir dalam karya-karyanya.

Hal tersebut dapat dilihat dari keberaniannya mengolah berbagai unsur seni Bali—musik gamelan, Legong, koreografi dan tradisi pertunjukan—kemudian mempertemukannya dengan unsur seni dari berbagai daerah Indonesia serta ekspresi modern.

Dengan pendekatan tersebut, Bali dalam karya Guruh bukan sekadar latar atau dekorasi. Bali menjadi sumber gagasan, ruang belajar sekaligus bagian dari proses pencarian identitas artistiknya.

Salah satu karya yang memperlihatkan hubungan tersebut adalah Legong Sri Sedana.

Karya yang diciptakan Guruh bersama AA Oka Dalem tersebut dipentaskan di Peliatan pada 2007. Karya itu menggunakan struktur dan bahasa tari Legong Peliatan, sementara gagasan artistiknya juga membawa pesan mengenai agraris, kesuburan dan hubungan manusia dengan alam.

Pada sebuah pementasan di Peliatan pada 2017, Guruh bahkan turut duduk memainkan kendang untuk mengiringi Legong Sri Sedana, karya yang diciptakannya bersama Oka Dalem. Momen tersebut memperlihatkan hubungan emosional Guruh dengan dunia seni Bali yang telah menjadi bagian panjang perjalanan kreatifnya.

Perjalanan Guruh memperlihatkan satu benang merah: kebudayaan Indonesia dapat menjadi sumber kreativitas modern tanpa harus kehilangan akar tradisinya.

Baca Juga:  PPK di Pemkot Denpasar Wajib Bersertifikasi Keahlian PBJ

Ia mengambil inspirasi dari Bali, Jawa, Sunda, Melayu dan berbagai kekayaan Nusantara, kemudian mengolahnya menjadi musik, tari dan pertunjukan dengan bahasa artistik yang khas.

Karena itu, ketika Guruh berpulang, yang kehilangan bukan hanya dunia politik atau keluarga besar Soekarno.

Dunia seni Bali juga kehilangan seorang sahabat, murid, pencipta dan pengolah seni yang selama puluhan tahun menjadikan Bali sebagai salah satu sumber inspirasinya.

Warisan Guruh dengan Bali dapat ditemukan dalam jejak musik Guruh Gipsy, karya-karya tari, hubungan dengan maestro Peliatan hingga berbagai upayanya mengangkat seni tradisi ke panggung pertunjukan modern.

Bagi Bali, Guruh meninggalkan pelajaran penting: bahwa tradisi tidak harus berhenti sebagai warisan masa lalu. Tradisi dapat menjadi sumber penciptaan, selama dipahami, dihormati dan dikembangkan dengan kreativitas.

Baca Juga:  Bupati Sanjaya Tunjukan Kolaborasi Dalam Musrenbangkab dan 3 Tahun Kepemimpinan Jaya Wira

Kepergian Guruh pada usia 73 tahun menutup perjalanan seorang seniman yang sepanjang hidupnya berusaha mempertemukan Indonesia masa lalu, masa kini dan masa depan melalui seni.

Namun hubungan Guruh dengan Bali tidak berakhir bersama kepergiannya.

Karya-karyanya akan tetap hidup di panggung-panggung seni, di musik yang memadukan gamelan dengan instrumen modern, dan terutama dalam ingatan masyarakat Bali yang pernah menjadi bagian dari perjalanan panjang kreativitasnya.

Penulis: I Nyoman Arta Wirawan
Editor: Arta
Sumber: ANRI
Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here