
GIANYAR, KEN-KENKHABARE – Kabupaten Gianyar menghadapi tekanan terhadap keberlanjutan sistem produksi pertanian di tengah meningkatnya kebutuhan pangan dan gizi masyarakat. Penyusutan lahan baku sawah, regenerasi petani, tekanan iklim serta pertumbuhan pariwisata menjadi sejumlah faktor yang mendorong perlunya strategi perekayasaan produksi pertanian yang efektif, efisien dan berkelanjutan.
Persoalan tersebut mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) Laporan Akhir Kajian Penelitian Perekayasaan Produksi Pertanian untuk Ketahanan Pangan dan Gizi Kabupaten Gianyar, yang digelar di Kantor Mal Pelayanan Publik Kabupaten Gianyar, Jumat (18/9/2026).
FGD menghadirkan tim pengkaji dari Lembaga Penelitian Universitas Warmadewa (Lemlit Unwar) Denpasar yang dipimpin Dr. I Wayan Rideng, S.H., M.H., bersama tim dari Fakultas Pertanian serta Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Warmadewa.
Kegiatan dibuka Sekretaris BRIDA Kabupaten Gianyar mewakili Kepala BRIDA Wayan Sedana, S.H. yang berhalangan hadir karena tugas.
Dalam penyampaiannya, Sekretaris BRIDA menekankan pentingnya kajian tersebut sebagai dasar merespons tekanan yang dihadapi para petani di Kabupaten Gianyar terhadap sistem produksi pertanian.
Tekanan tersebut berasal dari faktor internal, antara lain penyempitan lahan pertanian dan persoalan regenerasi petani. Sementara dari sisi eksternal, pertumbuhan kegiatan pariwisata yang masif dinilai dapat meningkatkan tekanan terhadap lahan pertanian, termasuk potensi alih fungsi lahan sawah.
Karena itu, diperlukan langkah strategis melalui perekayasaan produksi pertanian yang mampu meningkatkan efektivitas dan efisiensi sekaligus menjaga keberlanjutan sistem produksi pangan.
Dalam paparannya, I Wayan Rideng menyampaikan hasil kajian yang menunjukkan adanya penyusutan basis produksi pangan Kabupaten Gianyar selama satu dekade, 2014–2024.
Menurut hasil kajian, penyusutan tersebut terjadi ketika kebutuhan konsumsi terus meningkat. Lahan baku sawah tercatat tersisa 9.561 hektare, atau mengalami penurunan sebesar 33,65 persen.
Pada periode yang sama, produksi disebut mengalami penurunan 26,73 persen, sementara kebutuhan beras justru meningkat 6,67 persen.
“Kabupaten Gianyar dalam satu dekade mengalami penyusutan basis produksi pangan di tengah kebutuhan konsumsi yang terus meningkat,” ujar Rideng dalam paparannya.
Hasil kajian tersebut mengidentifikasi persoalan dalam empat dimensi utama, yakni input produksi, proses budidaya, lingkungan dan ekonomi.
Secara internal, titik lemah terutama berada pada aspek input produksi dan proses budidaya. Sementara faktor eksternal yang memberikan tekanan meliputi perubahan iklim, alih fungsi lahan dan kondisi ekonomi.
Berdasarkan kondisi tersebut, kajian merekomendasikan perlunya intervensi secara berkelanjutan melalui strategi perekayasaan produksi pertanian.
Strategi tersebut diarahkan untuk menjaga ketahanan pangan dan gizi Kabupaten Gianyar melalui kebijakan yang adaptif terhadap perubahan kondisi sekaligus berorientasi pada keberlanjutan.
FGD juga melibatkan kelompok ahli Kelitbangan Pemkab Gianyar, Forum Komunikasi Kepala Desa, Bappeda, Dinas PMD, Dinas Pertanian, Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan serta sejumlah perangkat daerah terkait.
Masukan dari para peserta menjadi bagian penting dalam pembahasan laporan akhir. Rideng menegaskan, berbagai tanggapan dan masukan yang disampaikan dalam FGD akan menjadi referensi tim pengkaji untuk menyempurnakan laporan hasil kajian sebelum menjadi dokumen akhir.
Kajian tersebut diharapkan dapat memberikan dasar bagi pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan perekayasaan produksi pertanian yang mampu menjawab tekanan terhadap lahan, produksi dan kebutuhan pangan, sekaligus mendukung ketahanan pangan dan gizi masyarakat Gianyar secara berkelanjutan.
Penulis : I Nyoman Arta Wirawan
Editor: I Nyoman Arta Wirawan


