Belajar dari Bali, Bupati Wakatobi Tertarik Kembangkan Produk Lokal

0
1049
Foto: Gubernur Bali Wayan Koster menerima kunjungan Bupati Wakatobi Haliana di Rumah Jabatan Jaya Sabha, Denpasar, Rabu (26/8/2026). Pertemuan membahas pengembangan pariwisata dan pemanfaatan produk lokal sebagai penggerak ekonomi masyarakat. Ist.

Koster Buka Peluang Wakatobi Belajar Tata Kelola Arak Bali, UMKM Lokal Jadi Penggerak Ekonomi

DENPASAR, KEN-KEN KHABARE – Bali menjadi salah satu rujukan bagi Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara, dalam mengembangkan sektor pariwisata sekaligus mengoptimalkan potensi produk lokal.

Bupati Wakatobi Haliana menyatakan ketertarikannya untuk mempelajari secara langsung kebijakan dan tata kelola yang diterapkan Pemerintah Provinsi Bali, terutama dalam pemanfaatan produk lokal sebagai bagian dari penguatan ekonomi masyarakat.

Hal tersebut disampaikan Haliana saat bertemu Gubernur Bali Wayan Koster di Rumah Jabatan Jaya Sabha, Denpasar, Rabu (26/8/2026).

Dalam pertemuan tersebut, Koster memaparkan sejumlah kebijakan Bali dalam mengembangkan produk lokal, salah satunya arak Bali.

Koster menjelaskan bahwa pengembangan arak Bali dilakukan melalui pendekatan tata kelola dan regulasi. Menurutnya, produk tradisional Bali tersebut tidak perlu dilarang, tetapi harus diatur agar dapat berkembang secara legal, aman, dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

“Jangan dilarang, tapi kita atur,” tegas Koster.

Menurut Koster, produksi arak Bali saat ini telah berkembang dan mampu bersaing dengan produk minuman beralkohol dari berbagai negara.

Pemerintah Provinsi Bali, kata dia, memberikan ruang bagi produksi arak secara legal sepanjang memenuhi ketentuan yang berlaku.

Namun, legalitas tersebut bukan berarti arak Bali dapat diperjualbelikan secara bebas. Tata kelola tetap diterapkan mulai dari perizinan, pengemasan, pelabelan hingga distribusi.

Distribusi juga diarahkan melalui koperasi maupun distributor resmi agar peredaran produk tetap berada dalam koridor aturan.

Koster menegaskan kebijakan tersebut juga diarahkan untuk memberikan kesempatan kepada pelaku usaha lokal agar memperoleh manfaat ekonomi dari pengembangan produk tradisional Bali.

“Kita tidak memberikan izin untuk korporasi besar. Kita fasilitasi UMKM lokal Bali untuk mengambil bagian,” ujar Koster.

Kebijakan tersebut sejalan dengan Pergub Bali Nomor 1 Tahun 2020 tentang Tata Kelola Minuman Fermentasi dan/atau Destilasi Khas Bali.

Regulasi tersebut menjadi salah satu dasar dalam menata, melindungi, sekaligus mengembangkan produk lokal Bali seperti arak, brem, dan tuak.

Koster menyebut dampak kebijakan tersebut antara lain terlihat dari keberadaan produk arak Bali di gerai kedatangan maupun keberangkatan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai.

Baca Juga:  Denpasar Fashion Street Siap Digelar 6 Juni, Angkat Kreasi Busana Berbahan Kain Perca

Menurutnya, arak Bali menjadi salah satu produk yang memiliki tingkat penjualan tinggi dibandingkan sejumlah produk lainnya.

Selain arak Bali, Koster turut memperkenalkan potensi produk lokal lainnya, termasuk garam Bali.

Ia menilai garam lokal memiliki kualitas yang sangat baik dan masih memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi produk unggulan daerah.

Pengembangan produk lokal tersebut, menurut Koster, perlu dilakukan dengan memperhatikan kualitas, tata kelola, legalitas, kemasan, pemasaran, serta akses pasar sehingga mampu meningkatkan nilai tambah bagi masyarakat.

Dalam pertemuan tersebut, Koster juga memberikan masukan kepada Bupati Wakatobi mengenai pengembangan paket pariwisata.

Menurutnya, sebuah paket wisata harus memiliki objek yang jelas dan menarik serta didukung fasilitas penunjang seperti hotel, restoran, dan destinasi berkualitas.

“Kita bisa berlakukan paket pariwisata untuk menarik kunjungan wisatawan ke Wakatobi. Harus ada objek yang ditawarkan, hotel, restoran, dan destinasi yang indah,” jelas Koster.

Pengembangan paket wisata dinilai penting agar potensi alam dan budaya Wakatobi dapat dikemas menjadi pengalaman wisata yang menarik sekaligus memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat setempat.

Baca Juga:  Upacara HUT Ke-81 RI di Renon, Koster Ajak Generasi Muda Tak Lupakan Jasa Pahlawan

Bupati Wakatobi Haliana mengatakan hubungan antara Wakatobi dan Bali memiliki peluang untuk dikembangkan, salah satunya melalui konektivitas penerbangan.

Saat ini, Wakatobi telah memiliki penerbangan langsung menuju Bali sebanyak dua kali dalam sepekan.

Menurut Haliana, konektivitas tersebut menjadi peluang untuk memperkuat hubungan pariwisata dan membuka ruang kerja sama antardaerah.

“Program yang bagus di Bali bisa kita implementasikan juga di Wakatobi,” kata Haliana.

Ia mengakui Bali merupakan salah satu daerah pariwisata yang telah memiliki reputasi internasional. Karena itu, Wakatobi ingin mempelajari pengalaman Bali dalam mengembangkan pariwisata sekaligus mengoptimalkan produk lokal.

“Saya mohon izin ke Pak Gubernur, kita nanti akan studi banding terkait pemanfaatan produk lokal,” ujarnya.

Pertemuan Gubernur Bali Wayan Koster dengan Bupati Wakatobi Haliana membuka peluang kerja sama yang lebih luas, khususnya dalam bidang pariwisata dan pengembangan produk lokal berbasis masyarakat.

Pengalaman Bali dalam menata produk tradisional hingga mampu masuk ke pasar yang lebih luas menjadi salah satu hal yang menarik perhatian Wakatobi.

Pola tersebut diharapkan dapat diadaptasi sesuai karakter, potensi, dan kebutuhan masyarakat Wakatobi.

Bagi kedua daerah, pengembangan pariwisata dan produk lokal tidak hanya menyangkut peningkatan kunjungan wisatawan, tetapi juga bagaimana masyarakat lokal dapat menjadi bagian utama dan memperoleh manfaat ekonomi dari pertumbuhan sektor tersebut.

Editor: I N Arta W
Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here