
“Legiun Veteran RI Bali dan Tokoh Masyarakat dan Puri Usulkan Menjadi Pahlawan Nasional”
DENPASAR, KEN-KENKHABARE — Pemerintah Kota Denpasar bersama sejarawan, Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI), dan sejumlah pihak terkait mendorong penguatan kajian sejarah perjuangan Kapten Anumerta Ida Bagus Putu Japa sebagai bagian dari upaya mengusulkan tokoh pejuang tersebut menjadi Pahlawan Nasional.
Dorongan itu mengemuka dalam seminar bertajuk Mengenal Sosok, Perjuangan, Pengabdian, dan Keteladanan Kapten Anumerta Ida Bagus Putu Japa yang digelar pada Selasa, 27 Oktober 2026, di Graha Sewaka Dharma, Lumintang, Denpasar. Kegiatan tersebut juga dirangkaikan dengan peluncuran buku biografi Kapten Anumerta Ida Bagus Putu Japa.
Dalam sambutan Wali Kota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara, S.E., yang dibacakan Sekretaris Daerah Kota Denpasar Dr. Ir. I Gusti Ngurah Eddy Mulya, S.E., M.Si., disampaikan bahwa penggalian sejarah perjuangan para pahlawan memiliki arti penting bagi pembentukan karakter dan penanaman semangat kebangsaan, terutama bagi generasi muda.
Pemerintah Kota Denpasar mengapresiasi kontribusi para sejarawan, narasumber, keluarga pejuang, dan organisasi veteran dalam mendokumentasikan serta menyebarluaskan sejarah perjuangan di Bali. Nilai keberanian, pengabdian, patriotisme, dan tanggung jawab terhadap bangsa yang diwariskan para pejuang diharapkan terus menjadi inspirasi bagi masyarakat.
Sambutan tersebut juga menekankan pentingnya penelitian dan verifikasi sejarah secara cermat sebagai landasan dalam proses pengusulan Kapten Anumerta Ida Bagus Putu Japa sebagai Pahlawan Nasional. Dengan demikian, upaya tersebut tidak hanya bertumpu pada penghormatan terhadap jasa perjuangan, tetapi juga didukung bukti sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan.
Perjuangan dalam Serangan Umum Kota Denpasar
Kapten Anumerta Ida Bagus Putu Japa dikenal sebagai salah satu tokoh perjuangan dalam peristiwa Serangan Umum Kota Denpasar pada 11 April 1946. Ia disebut memimpin perjuangan di sektor timur, termasuk serangan terhadap Tangsi Kayumas, dalam upaya melawan kekuatan kolonial.
Berdasarkan kajian yang dipaparkan dalam seminar, Japa lahir pada 3 April 1925 di Sumerta Kelod, Denpasar. Ia mengikuti pendidikan militer pada masa pendudukan Jepang melalui PETA, kemudian bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Ia gugur dalam perjuangan pada usia 21 tahun.
Perjalanan hidup dan pengabdiannya menjadi bagian penting dari sejarah perjuangan kemerdekaan di Bali. Namun, pendalaman terhadap sejumlah detail peristiwa, struktur komando, jalur serangan, serta sumber primer tetap diperlukan untuk memperkuat dokumentasi sejarahnya.
Seminar melalui Dinsos Kota Denpasar tersebut menghadirkan empat narasumber, yakni I Gusti Bagus Saputera dari DPD LVRI Bali, Dr. Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra, Prof. I Ketut Ardhana, dan Bernard Keytimu. Para narasumber membahas sosok Japa dari perspektif perjuangan, sejarah, dan langkah yang diperlukan untuk memperkuat usulan pengakuan kepahlawanan.
DPD LVRI Bali menyampaikan dukungan terhadap upaya pengusulan Japa sebagai Pahlawan Nasional. Dukungan itu didasarkan pada nilai keberanian, kepemimpinan, serta pengorbanannya dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
Perlu Penelitian dan Dokumentasi Berkelanjutan
Selain memperkuat kajian sejarah, seminar menghasilkan sejumlah rekomendasi tindak lanjut. Di antaranya adalah penelitian dan verifikasi oleh Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Daerah (TP2GD), penguatan dokumentasi sejarah, serta penyusunan materi edukasi untuk memperkenalkan perjuangan Japa kepada masyarakat dan generasi muda.
Peserta juga mengusulkan pembangunan atau penguatan monumen pengingat perjuangan di kawasan Pagutan, Padangsambian Kaja, dan Tangsi Kayumas. Dokumentasi digital, termasuk pembuatan film dokumenter, serta kegiatan edukasi tahunan menjelang peringatan Serangan Umum Kota Denpasar pada 11 April turut menjadi rekomendasi.
Untuk memperkuat pembuktian sejarah, Bernard Keytimu juga menyoroti pentingnya penelusuran arsip, termasuk dokumen kolonial Belanda mengenai serangan terhadap barak Prajoda pada 11 April 1946. Penelusuran sumber primer tersebut diharapkan membantu memverifikasi kronologi dan detail peristiwa secara lebih komprehensif.
Pengusulan sebagai Pahlawan Nasional tetap harus melalui tahapan penelitian, pengkajian, verifikasi, dan prosedur resmi sesuai ketentuan yang berlaku. Dengan demikian, rekomendasi seminar merupakan langkah awal untuk memperkuat dasar historis dan administratif, bukan penetapan status kepahlawanan.
Melalui kegiatan ini, sejarah perjuangan Kapten Anumerta Ida Bagus Putu Japa diharapkan semakin dikenal luas dan menjadi bagian dari memori kolektif masyarakat Denpasar serta generasi penerus bangsa.
Editor: I Nyoman Arta Wirawan
Reporter: Tim Ken-kenkhabare


