Tumpek Wayang di Pura Er Jeruk, Koster Tegaskan Sad Kerthi sebagai Fondasi Masa Depan Bali

0
1044
Foto: Gubernur Bali Wayan Koster bersama kepala daerah dan jajaran pemerintah daerah melaksanakan persembahyangan Rahina Suci Tumpek Wayang di Pura Dang Khayangan Er Jeruk, Kabupaten Gianyar, Sabtu (10/10/2026).

GIANYAR, KEN-KENKHABARE – Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan nilai-nilai kearifan lokal Sad Kerthi harus menjadi pedoman dalam membangun Bali yang berkelanjutan, dengan menjaga keseimbangan alam, manusia, dan kebudayaan. Pesan tersebut disampaikan saat persembahyangan Rahina Suci Tumpek Wayang di Pura Dang Khayangan Er Jeruk, Kabupaten Gianyar, Sabtu (10/10/2026).

Persembahyangan yang berlangsung pada Saniscara Kliwon, Wuku Wayang tersebut diikuti Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa, Bupati Klungkung I Made Satria, Wakil Bupati Gianyar Anak Agung Gde Mayun, Wali Kota Denpasar yang diwakili Asisten I Pemerintah Kota Denpasar, serta kepala organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah Provinsi Bali.

Dalam sambutannya, Koster menyampaikan bahwa persembahyangan secara niskala merupakan ungkapan rasa syukur sekaligus bentuk penghormatan terhadap ajaran leluhur yang diwariskan kepada krama Bali. Warisan tersebut mencakup nilai-nilai Sad Kerthi yang menjadi landasan untuk menjaga kesejahteraan dan keberlangsungan kehidupan.

“Secara niskala, kita sudah melaksanakan persembahyangan sebagai rasa syukur untuk memuliakan ajaran leluhur yang diwariskan kepada kita sebagai krama Bali,” ujar Koster.

Sad Kerthi, Enam Landasan Menjaga Kehidupan

Koster menjelaskan, Sad Kerthi mencakup enam nilai utama, yakni Atma Kerthi, Segara Kerthi, Danu Kerthi, Wana Kerthi, Jana Kerthi, dan Jagat Kerthi.

Atma Kerthi bermakna penyucian dan pemuliaan atman atau jiwa. Segara Kerthi menekankan penyucian dan pemuliaan laut serta pantai. Danu Kerthi berkaitan dengan pemuliaan sumber air, sedangkan Wana Kerthi berorientasi pada pelestarian tumbuh-tumbuhan.

Sementara itu, Jana Kerthi menekankan penyucian dan pemuliaan manusia, serta Jagat Kerthi mengandung makna penyucian dan pemuliaan alam semesta.

Menurut Koster, ajaran tersebut menunjukkan bahwa leluhur Bali telah mewariskan konsep tata kehidupan yang menempatkan alam sebagai sumber utama keberlangsungan hidup manusia.

Ia mencontohkan, tumbuh-tumbuhan berperan penting dalam menyediakan oksigen, laut berkaitan dengan siklus air dan hujan, sedangkan sumber air dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari hingga mendukung sistem pertanian dan keberlangsungan subak.

“Ini menurut Titiang hanya ada di Bali, ajaran Sad Kerthi sebagai ilmu kehidupan yang diwariskan oleh leluhur. Maka ajaran ini saya implementasikan dalam visi pembangunan Bali, dinamakan dengan Nangun Sat Kerthi Loka Bali dengan nilai Sad Kerthi,” jelas Koster.

Koster menekankan, visi pembangunan Nangun Sat Kerthi Loka Bali harus dijalankan secara tertib dan disiplin oleh seluruh bupati dan wali kota beserta jajaran pemerintahan daerah.

Ia mengingatkan bahwa pembangunan tidak semata-mata diarahkan untuk memenuhi kebutuhan saat ini, tetapi juga membentuk tatanan kehidupan dan peradaban yang mampu menjaga keberlangsungan alam, manusia, serta kebudayaan Bali.

Menurutnya, pembangunan yang berlandaskan nilai-nilai kearifan lokal harus mampu mewujudkan kehidupan masyarakat yang berkualitas dan berkelanjutan, sekaligus menjaga agar warisan budaya dan lingkungan tetap dapat dinikmati generasi mendatang.

Koster juga mengajak seluruh komponen masyarakat untuk belajar dari kebijaksanaan leluhur yang telah membangun sistem kehidupan Bali melalui ajaran, upakara, dan keberadaan tempat-tempat suci di berbagai wilayah.

Ia mengingatkan agar pembangunan dilaksanakan secara konsisten dan tidak mengabaikan nilai kesakralan serta karakter wilayah Bali.

Dalam kesempatan tersebut, Koster menegaskan pentingnya menjaga keberlanjutan perayaan rahina Tumpek di Bali. Ia meminta jajaran Dinas Pendidikan agar pelestarian nilai-nilai Sad Kerthi dan perayaan Tumpek terus diperkuat di lingkungan sekolah.

Menurutnya, pengenalan nilai kearifan lokal sejak dini merupakan bagian penting dalam membentuk karakter generasi muda yang akan menentukan masa depan peradaban Bali.

Baca Juga:  Rare Angon Festival akan berlangsung dari tanggal 15-18 Agustus Jadi Kalender Event Tahunan

Upaya tersebut juga sejalan dengan Haluan Pembangunan Bali Masa Depan 100 Tahun Bali Era Baru 2025–2125, yang menjadi arah pembangunan Bali dalam jangka panjang.

Koster berharap nilai-nilai leluhur tidak hanya dipahami sebagai warisan tradisi, tetapi juga diterapkan dalam perilaku sehari-hari, penyelenggaraan pemerintahan, dan pelaksanaan pembangunan.

Lebih lanjut, Koster menyampaikan bahwa upaya mewujudkan ekosistem kehidupan Bali yang sehat, bersih, dan berkualitas harus disertai penerapan kebijakan yang mendukung pelestarian lingkungan.

Sejumlah kebijakan yang disorot meliputi pengelolaan sampah berbasis sumber, pembatasan plastik sekali pakai, penerapan energi bersih, pengembangan transportasi ramah lingkungan, serta penguatan pertanian organik.

Menurutnya, langkah-langkah tersebut merupakan bagian dari upaya menerjemahkan nilai-nilai Sad Kerthi ke dalam kebijakan pembangunan yang konkret. Dengan demikian, pelestarian lingkungan tidak berhenti pada ajaran dan ritual, tetapi juga diwujudkan melalui tindakan serta tata kelola pembangunan.

Baca Juga:  Sekda Denpasar I.B Alit Wiradana Hadiri Rapat Kerja Nasional ASDEPAMSI

Dalam konteks pembangunan berkelanjutan, Koster juga menyampaikan kesepakatan bersama pemerintah kabupaten dan kota di Bali untuk menetapkan enam kawasan rendah emisi.

Kawasan tersebut meliputi Ubud di Kabupaten Gianyar, Kepulauan Nusa Penida di Kabupaten Klungkung, Nusa Dua dan Kuta di Kabupaten Badung, serta Sanur dan Kawasan Cagar Budaya Gajah Mada di Kota Denpasar.

Koster menjelaskan, kawasan-kawasan tersebut dipilih karena menjadi tempat berkumpulnya aktivitas pariwisata sehingga perlu dikelola dengan memperhatikan keseimbangan antara kegiatan manusia, lingkungan, dan ekosistem.

Penetapan kawasan rendah emisi diharapkan mendukung terciptanya lingkungan yang lebih sehat sekaligus menjaga keberlanjutan destinasi pariwisata Bali.

Bagi Koster, pelestarian alam, penguatan budaya, dan pembangunan yang tertib merupakan bagian yang tidak terpisahkan. Nilai-nilai Sad Kerthi, menurutnya, perlu terus dihidupkan agar Bali dapat mempertahankan identitasnya sekaligus membangun kualitas kehidupan yang berkelanjutan bagi generasi mendatang.

Editor: I Nyoman Arta Wirawan
Sumber: HumasPemprovBali
Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here