Pemkab Badung Gandeng PT KAI Siapkan Trem Kuta-Canggu, Target Beroperasi 2028

0
1094
Foto: Gubernur Bali Wayan Koster bersama Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa dan Direktur PT KAI Bobby Rasyidin menandatangani Naskah Kesepakatan Bersama rencana pengembangan perkeretaapian di Kabupaten Badung di Ruang Kertha Sabha, Rumah Jabatan Gubernur Bali, Selasa (1/9/2026).

Proyek 13,1 Kilometer Hubungkan Bandara Ngurah Rai, Kuta, Legian, Seminyak hingga Canggu

BADUNG, KEN-KEN KHABARE – Pemerintah Provinsi Bali, Pemerintah Kabupaten Badung, dan PT Kereta Api Indonesia (Persero) resmi menandatangani Naskah Kesepakatan Bersama rencana pengembangan perkeretaapian di Kabupaten Badung, Selasa (1/9/2026).

Kerja sama tersebut menjadi langkah awal pengembangan moda transportasi trem massal yang dirancang menghubungkan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Kuta, Legian, Seminyak hingga Canggu.

Penandatanganan dilakukan Gubernur Bali Wayan Koster, Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa, dan Direktur PT KAI Bobby Rasyidin di Ruang Kertha Sabha, Rumah Jabatan Gubernur Bali.

Proyek perkeretaapian sepanjang 13,1 kilometer ini dikembangkan dalam kerangka Bali Low Emission Zone Initiative (BLEZI) dan diarahkan menjadi salah satu solusi untuk mengurangi kemacetan di kawasan Bali Selatan.

Rencana pembangunan trem tersebut dibagi menjadi dua fase.

Fase 1A akan menghubungkan Bandara Ngurah Rai–Legian sepanjang 6,6 kilometer dengan target operasi komersial pada kuartal IV 2028.

Selanjutnya, Fase 1B akan melanjutkan jalur Legian–Seminyak–Canggu sepanjang 6,5 kilometer dengan target operasi komersial pada kuartal I 2031.

Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa mengatakan, penandatanganan kesepakatan bersama menjadi tahap awal yang penting untuk merealisasikan sistem transportasi publik massal di kawasan pariwisata Badung.

Menurutnya, trase trem perlu dikaji secara komprehensif agar pembangunan tidak hanya menjadi solusi mobilitas, tetapi juga terintegrasi dengan jaringan jalan dan pengembangan kawasan pariwisata.

“Trase trem perlu dikaji secara komprehensif agar tidak hanya menjadi solusi mobilitas, tetapi juga terintegrasi dengan pengembangan jaringan jalan dan kawasan pariwisata Badung,” kata Adi Arnawa.

Pemkab Badung bersama PT KAI selanjutnya akan menindaklanjuti kesepakatan tersebut melalui penyusunan perjanjian kerja sama dan studi kelayakan atau Feasibility Study (FS).

Selain koridor Bandara-Kuta-Legian-Seminyak-Canggu, Adi Arnawa juga mendorong pengembangan konektivitas transportasi publik dari Nusa Dua menuju Uluwatu, Bandara Ngurah Rai dan kawasan Kuta.

Menurutnya, keberadaan transportasi publik massal akan memberikan alternatif bagi masyarakat maupun wisatawan untuk mengakses berbagai destinasi pariwisata tanpa harus bergantung pada kendaraan pribadi.

“Harapannya akan terbangun transportasi publik massal dalam bentuk trem sehingga menjadi pilihan masyarakat untuk berkunjung ke destinasi pariwisata sekaligus mengatasi kemacetan dan pertumbuhan kendaraan pribadi,” ujar Adi Arnawa.

Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan persoalan kemacetan harus segera ditangani karena dapat mempengaruhi keberlanjutan ekosistem pariwisata Bali.

Namun, Koster mengingatkan agar pembangunan trem tetap memperhatikan karakter Bali, kenyamanan, estetika, serta kearifan lokal.

Ia juga meminta pemerintah melakukan sosialisasi secara masif kepada masyarakat dan pelaku usaha, terutama pemilik hotel yang berada di sepanjang koridor trem.

Menurut Koster, keberadaan trem harus diposisikan bukan semata-mata sebagai infrastruktur transportasi, tetapi juga sebagai peluang baru yang dapat memperkuat daya tarik kawasan pariwisata.

Baca Juga:  Gubernur Koster Dukung Maybank Marathon, Dongkrak Sport Tourism dan UMKM Bali

Dari sisi teknis, Direktur PT KAI Bobby Rasyidin menjelaskan, sistem trem dirancang menggunakan jalur tunggal (single track) dengan jalur ganda pada terminus dan titik persilangan.

Untuk kawasan bandara, jalur trem dirancang melayang atau elevated, sedangkan sebagian besar trase lainnya berada di permukaan tanah.

Menariknya, trem akan menggunakan sistem berbasis baterai. Teknologi tersebut dipilih antara lain untuk menjaga kualitas visual kawasan pesisir.

Pengisian daya direncanakan dilakukan di depo, stasiun terminus, serta sejumlah titik persilangan.

Dengan rancangan tersebut, waktu tempuh Legian-Bandara diperkirakan sekitar 23 menit, sedangkan perjalanan Canggu-Bandara sekitar 40 menit.

Dalam implementasinya, PT KAI membutuhkan dukungan pemerintah daerah, antara lain terkait pembebasan lahan, penyediaan lahan depo, penguatan pesisir, akses trase menuju bandara hingga proses perizinan.

Desain teknis proyek juga memerlukan pendampingan dari Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan.

Baca Juga:  Wujudkan Bali Mandiri Energi, Pemprov Bali Dukung Proyek Percontohan Energi Arus Laut di Nusa Penida

Kerja sama ini diharapkan menjadi fondasi pengembangan transportasi publik massal yang lebih terintegrasi di kawasan Bali Selatan.

Dengan adanya trem, pemerintah menargetkan tersedianya alternatif mobilitas yang dapat mengurangi ketergantungan terhadap kendaraan pribadi sekaligus mendukung keberlanjutan pariwisata Bali.

Editor: I N Arta W
Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here