Gubernur Koster Ajak Generasi Z Rawat Semangat Marhaenisme di Era Digital

0
55
Foto: Gubernur Bali Wayan Koster memberikan sambutan dalam bedah buku Marhaenisme: Dalil Baru untuk Gen Z di Auditorium Universitas Mahasaraswati Denpasar, Selasa (21/7).

“Bedah Buku Rocky Gerung di Unmas Denpasar Dorong Mahasiswa Berpikir Kritis, Demokratis, dan Berpihak kepada Rakyat

DENPASAR, KEN-KEN – Gubernur Bali Wayan Koster mengajak generasi muda, khususnya mahasiswa, untuk merawat semangat Marhaenisme sebagai landasan berpikir kritis, berkeadilan, dan berpihak kepada rakyat di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital.

Ajakan tersebut disampaikan Gubernur Koster saat menghadiri bedah buku karya Rocky Gerung berjudul Marhaenisme: Dalil Baru untuk Gen Z di Auditorium Universitas Mahasaraswati (Unmas) Denpasar, Selasa (21/7).

Kegiatan yang diikuti ratusan mahasiswa tersebut menghadirkan Rocky Gerung selaku akademisi dan penulis buku, serta Dr. Airlangga Pribadi Kusman sebagai akademisi dan narasumber.

Diskusi berlangsung hangat dengan mengangkat relevansi nilai-nilai Marhaenisme dalam menjawab berbagai tantangan yang dihadapi Generasi Z di era algoritma, media sosial, kecerdasan buatan, dan derasnya arus informasi.

Dalam sambutannya, Gubernur Koster mengatakan bedah buku tersebut tidak sekadar menjadi agenda akademik, tetapi juga ruang pencarian makna untuk menjawab pertanyaan mengenai relevansi nilai-nilai perjuangan para pendiri bangsa bagi generasi muda masa kini.

“Ini adalah forum pencarian makna. Sebuah upaya kolektif untuk menemukan benang merah antara masa lalu yang kaya dengan pengalaman perjuangan dan masa depan yang penuh dengan berbagai kemungkinan baru,” ujar Koster.

Menurutnya, Marhaenisme lahir dari kegelisahan Bung Karno terhadap ketimpangan sosial dan berkembang sebagai gagasan kerakyatan yang berpijak pada realitas masyarakat Indonesia.

Melalui buku tersebut, semangat Marhaenisme diharapkan dapat dimaknai kembali agar tetap relevan bagi generasi yang menghadapi tantangan sosial, ekonomi, budaya, dan teknologi yang berbeda.

Koster juga menepis anggapan bahwa Generasi Z merupakan generasi yang apatis dan individualistis. Menurutnya, di tengah pandemi, krisis ekonomi, perubahan iklim, serta banjir informasi, banyak anak muda tetap menunjukkan kepedulian terhadap isu keadilan, kesetaraan, dan masa depan bangsa.

“Kehadiran mahasiswa dalam forum bedah buku seperti ini merupakan bukti bahwa generasi muda masih memiliki semangat untuk berpikir, membaca, berdiskusi, dan mencari jawaban atas berbagai persoalan kebangsaan,” katanya.

Ia menegaskan bahwa forum akademik harus menjadi ruang latihan demokrasi yang sehat. Setiap gagasan harus diuji melalui argumentasi, bukan kemarahan, sedangkan perbedaan pendapat harus dipandang sebagai kesempatan untuk saling belajar.

Lebih lanjut, Koster mengingatkan bahwa pembangunan Bali tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik, tetapi juga mencakup pembangunan nilai, budaya, moralitas, dan harmoni kehidupan.

Prinsip tersebut menjadi landasan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana dalam Bali Era Baru, yang diarahkan untuk menjaga kesucian dan keharmonisan alam Bali beserta seluruh isinya.

Menurutnya, semangat dalam bedah buku tersebut memiliki keterkaitan dengan pelaksanaan nilai-nilai Sad Kerthi.

Melalui budaya membaca dan berpikir kritis, mahasiswa turut membangun Atma Kerthi melalui penyucian pikiran dan jiwa. Kepedulian terhadap sesama menjadi wujud Jana Kerthi sebagai penghormatan terhadap kemanusiaan. Sementara komitmen membangun kehidupan yang lebih baik bagi seluruh makhluk merupakan bagian dari Jagat Kerthi.

Koster menekankan bahwa Bali membutuhkan generasi muda bukan sekadar sebagai penonton pembangunan, tetapi sebagai subjek yang aktif merancang, membangun, serta merawat masa depan Bali.

Namun, keterlibatan tersebut harus tetap berpijak pada kearifan lokal sebagai identitas dan kekuatan utama Pulau Dewata.

“Kearifan lokal Bali bukan berarti menolak modernitas. Justru Bali harus mampu menyerap hal-hal baik dari luar tanpa kehilangan jati dirinya. Nilai-nilai seperti Tri Hita Karana, Tat Twam Asi, dan Menyama Braya harus tetap menjadi fondasi dalam membangun masa depan Bali,” tegasnya.

Baca Juga:  Buka Rakerprov KONI Bali 2026, Gubernur Koster Minta Pembinaan Atlet Menuju Porprov dan PON Lebih Serius

Pada kesempatan tersebut, Ketua TP PKK Provinsi Bali, Ny. Putri Suastini Koster, turut memberikan sentuhan budaya dengan membacakan puisi berjudul “Agustus” karya Yudhistira Massardi.

Penampilan tersebut mendapat apresiasi dari para peserta dan semakin memperkaya suasana intelektual serta kebudayaan dalam rangkaian bedah buku.

Gubernur Koster juga menyampaikan tiga pesan kepada para mahasiswa. Pertama, menjadikan membaca sebagai kebiasaan yang tidak dapat ditawar di tengah derasnya arus informasi.

Kedua, membangun budaya diskusi yang sehat dengan tetap menghormati perbedaan pendapat. Ketiga, mengimplementasikan ilmu pengetahuan dalam kehidupan nyata agar nilai keadilan, kemanusiaan, dan keberpihakan kepada masyarakat menjadi pedoman dalam berkarya maupun memimpin.

Baca Juga:  Gubernur Koster Percepat Penetapan LP2B, Perkuat Perlindungan Lahan Produktif Bali

Di akhir sambutannya, Koster menyampaikan apresiasi kepada Rocky Gerung atas kontribusi pemikirannya melalui buku Marhaenisme: Dalil Baru untuk Gen Z, yang dinilai mampu menghidupkan kembali diskursus kebangsaan di kalangan generasi muda.

Apresiasi juga diberikan kepada Universitas Mahasaraswati Denpasar yang terus menghadirkan ruang akademik sebagai tempat tumbuhnya pemikiran kritis, dialog yang sehat, dan pembentukan karakter mahasiswa.

Koster berharap kegiatan tersebut menginspirasi mahasiswa untuk terus mengembangkan budaya literasi, memperkuat tradisi intelektual, serta memberikan kontribusi nyata bagi terwujudnya Bali yang maju, berdaya saing, dan tetap berakar kuat pada nilai budaya serta kearifan lokal.

Editor: Ken

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here