HUT ke-77 RRT, Koster Dorong Investasi Tiongkok untuk PLTS hingga 1.500 MWp di Bali

0
1042
Gubernur Bali Wayan Koster bersama Konsul Jenderal Republik Rakyat Tiongkok di Denpasar Zhang Zhisheng dalam peringatan HUT ke-77 Berdirinya Republik Rakyat Tiongkok di Bali Beach Convention Center, Sanur, Selasa (29/9/2026).

DENPASAR, KEN-KENKHABARE – Gubernur Bali Wayan Koster mendorong semakin kuatnya kerja sama Bali dengan Republik Rakyat Tiongkok (RRT), khususnya dalam pengembangan energi bersih. Koster membuka peluang investasi perusahaan Tiongkok dalam pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Bali yang kapasitasnya berpotensi mencapai 1.500 MWp.

Hal tersebut disampaikan Koster saat menghadiri peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-77 Berdirinya Republik Rakyat Tiongkok, di Bali Beach Convention Center, Sanur, Selasa (29/9/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Koster menyampaikan ucapan selamat kepada Pemerintah dan masyarakat RRT melalui Konsul Jenderal Republik Rakyat Tiongkok di Denpasar, Zhang Zhisheng.

“Atas nama Pemerintah Provinsi Bali dan masyarakat Bali, saya menyampaikan selamat Hari Ulang Tahun ke-77 Berdirinya Republik Rakyat Tiongkok,” ujar Koster.

Ia berharap RRT semakin maju dan hubungan antara Indonesia dengan Tiongkok, termasuk hubungan Pemerintah Provinsi Bali dengan Tiongkok, dapat terus berkembang.

Koster mengatakan hubungan Bali dengan Tiongkok telah berlangsung cukup lama dan tidak hanya terbatas pada satu sektor.

Kerja sama tersebut mencakup bidang budaya, ekonomi, perdagangan, ekspor buah-buahan, industri kerajinan rakyat, pariwisata hingga pendidikan.

Menurut Koster, hubungan tersebut terus berkembang. Salah satu indikatornya terlihat dari kunjungan wisatawan Tiongkok ke Bali yang menurut data yang disampaikannya telah mencapai lebih dari 400 ribu orang hingga 31 Agustus 2026.

Kerja sama terbaru yang disoroti Koster adalah pembangunan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Bali.

Proyek tersebut telah memasuki tahap pembangunan setelah groundbreaking pada 8 Juli 2026. PSEL Bali dirancang memiliki kapasitas pengolahan sekitar 1.500 ton sampah per hari, terutama berasal dari wilayah Denpasar dan Badung.

Data proyek yang dipublikasikan Zhejiang Weiming Environment Protection juga menyebut fasilitas PSEL Greater Denpasar dirancang dengan kapasitas 1.500 ton per hari dan merupakan proyek yang dikerjakan melalui perusahaan terkait Weiming bersama mitra Indonesia.

Selain PSEL, Koster berharap kerja sama Bali dan Tiongkok dapat diperluas ke sektor energi surya.

Ia menyebut Bali sedang memproses pengembangan PLTS bersama PT PLN dengan kapasitas yang ditargetkan mencapai 1.000 MWp dan berpotensi meningkat hingga 1.500 MWp.

Koster berharap keunggulan teknologi dan kapasitas pembiayaan yang dimiliki Tiongkok dapat menjadi peluang investasi untuk mendukung percepatan energi bersih di Bali.

“China selain memiliki keunggulan teknologi, juga memiliki dana yang cukup. Sehingga investasi dari China ke Bali untuk mewujudkan energi bersih sangat kami harapkan guna mendukung Bali Mandiri Energi,” kata Koster.

Baca Juga:  Bupati Adi Arnawa Serahkan Hibah Rp400 Juta untuk Karya Pitra Yadnya Massal di Banjar Adat Tiyingan

Rencana tersebut sejalan dengan program pengembangan PLTS Bali. Pemerintah Provinsi Bali sebelumnya menyatakan Bali memperoleh kuota awal PLTS sebesar 1.000 MWp dan berpeluang mendapatkan tambahan hingga 1.500 MWp. Lahan untuk pengembangan tersebut disiapkan antara lain di Jembrana, Buleleng dan Karangasem.

Bagi Koster, pengembangan energi bersih bukan hanya berkaitan dengan kebutuhan listrik, tetapi juga bagian dari upaya menjaga kualitas pembangunan Bali agar tetap berdaya saing dan berkelanjutan.

Ia berharap transformasi energi tersebut dapat mendukung terwujudnya Bali Mandiri Energi, sekaligus memberikan manfaat bagi kesejahteraan masyarakat.

Sementara itu, Konsul Jenderal Republik Rakyat Tiongkok di Denpasar, Zhang Zhisheng, menyampaikan bahwa hubungan Tiongkok dan Indonesia saat ini memasuki momentum yang penting.

Ia mengatakan Tiongkok ingin bekerja sama dengan Indonesia untuk melaksanakan kesepakatan strategis para pemimpin kedua negara dan mendorong kerja sama di berbagai bidang.

Zhang juga menyampaikan bahwa Konsulat Jenderal RRT di Denpasar akan terus berperan sebagai jembatan untuk memperdalam dan memperluas kerja sama antardaerah.

Baca Juga:  Sektor Horeka dan DTW Denpasar Komitmen Wujudkan Pengolahan Sampah Mandiri

Dalam satu tahun terakhir, menurut Zhang, sejumlah kerja sama telah berkembang di bidang politik, ekonomi, sosial, lingkungan, pendidikan dan kebudayaan.

Zhang menyebut beberapa perkembangan kerja sama tersebut, antara lain undangan kepada Presiden RI Prabowo Subianto untuk menghadiri KTT APEC di Tiongkok pada November 2026.

Di bidang sosial, Tiongkok juga menjalankan program Kemitraan Tanggap Darurat Berbasis Masyarakat Indonesia melalui Tim Penyelamat Kesejahteraan Masyarakat Shenzhen. Program tersebut mencakup pelatihan layanan publik di sejumlah lokasi, termasuk Denpasar dan Buleleng, dengan tujuan meningkatkan kemampuan tanggap darurat serta pengurangan risiko bencana.

Di bidang ekonomi, Zhang menyebut Tiongkok tetap menjadi salah satu mitra dagang dan sumber investasi asing bagi Indonesia. Untuk Bali, ia menyoroti ekspor salak Bali ke pasar Tiongkok serta perkembangan ekspor produk laut melalui rantai pendingin.

Kerja sama konektivitas juga ditandai dengan kembali beroperasinya penerbangan langsung Beijing–Denpasar.

Sementara di tingkat provinsi, Provinsi Yunnan yang disebut sebagai provinsi sahabat Bali melanjutkan tahap ketiga proyek kerja sama pariwisata pertanian lestari di Kabupaten Tabanan.

Baca Juga:  Tumpek Uye Dirayakan Serentak di Bali, Diperkuat Aksi Nyata Pelestarian Satwa dan Lingkungan

Zhang juga menyoroti keberadaan PT General Energy Bali yang merupakan bagian dari China Huadian Corporation dalam sistem ketenagalistrikan Bali.

Ia turut menyebut proyek PSEL Bali yang menggunakan teknologi dari Tiongkok sebagai salah satu bentuk kerja sama di bidang lingkungan.

Pembangunan PSEL Bali sendiri telah dimulai pada Juli 2026. Proyek tersebut dirancang mengolah sekitar 1.500 ton sampah per hari dan menggunakan teknologi dari perusahaan asal Tiongkok, Zhejiang Weiming Environment Protection.

Di bidang kebudayaan, hubungan Bali-Tiongkok juga berlangsung melalui pertukaran seni. Pematung Bali disebut telah berpartisipasi dalam Festival Internasional Salju dan Es Harbin selama beberapa tahun, sementara musisi Bali tampil di sejumlah kota di Tiongkok, termasuk Shanghai dan Guangzhou.

Bagi kedua pihak, rangkaian kerja sama tersebut menunjukkan hubungan Bali dan Tiongkok yang mencakup berbagai sektor, mulai dari perdagangan, pariwisata, pendidikan, lingkungan dan energi hingga pertukaran budaya.

Koster berharap hubungan tersebut terus berkembang dengan tetap memberikan manfaat bagi pembangunan Bali, khususnya dalam memperkuat ketahanan energi, menjaga lingkungan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Editor: I Nyoman Arta Wirawan
Sumber: Humaspemprovbali
Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here