Hadiri Ngenteg Linggih Pura Gunung Sari, Jaya Negara Apresiasi Kemandirian dan Semangat Gotong Royong Umat

0
67
Foto: Wali Kota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara melakukan ngelingga tangan pada Prasasti Karya Ngenteg Linggih Pura Gunung Sari, Desa Adat Peraupan, Rabu (29/7/2026).

DENPASAR, KEN-KEN – Wali Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara, menghadiri rangkaian Karya Ngenteg Linggih Padudusan, Mupuk Pedagingan, Tawur Wrespati Kalpa Agung, lan Panilapatian Pegat Soot di Pura Gunung Sari, Banjar Jurang Asri, Desa Adat Peraupan, Rabu (29/7/2026).

Pelaksanaan karya yang bertepatan dengan Rahina Purnama Sasih Karo tersebut dilaksanakan menyusul rampungnya pemugaran dan pembaruan sejumlah palinggih di Pura Gunung Sari.

Dalam kesempatan itu, Wali Kota Jaya Negara melakukan ngelingga tangan atau menandatangani Prasasti Karya. Ia juga mengikuti prosesi mendem pedagingan di Bale Gedong serta menyerahkan punia kepada panitia karya.

Turut hadir Anggota DPRD Provinsi Bali I Gusti Ngurah Gede Marhaendra Jaya, Ketua Komisi II DPRD Kota Denpasar I Wayan Sutama, Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat Setda Kota Denpasar Ida Bagus Alit Surya Antara, Camat Denpasar Utara I Wayan Ariyanta, tokoh agama, pengempon pura, dan masyarakat setempat.

Di sela-sela pelaksanaan upacara, Jaya Negara mengatakan Karya Ngenteg Linggih di Pura Gunung Sari menjadi salah satu sarana meningkatkan sradha dan bhakti umat Hindu kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Baca Juga:  Pujawali di Pura Praja Natha, Wali Kota Jaya Negara Ajak ASN Perkuat Integritas dan Pelayanan kepada Masyarakat

Menurutnya, pelaksanaan yadnya di lingkungan pesemetonan dan desa adat juga memiliki peran penting dalam mempererat persaudaraan, persatuan, serta semangat gotong royong masyarakat.

“Komunitas masyarakat seperti pesemetonan dan desa adat perlu diapresiasi karena mampu membangun sradha bhakti masyarakat melalui upakara yang dilaksanakan,” ujar Jaya Negara.

Ia menjelaskan, Pemerintah Kota Denpasar terus mengedepankan pemberdayaan masyarakat yang tidak terlepas dari bidang keagamaan, adat, dan budaya.

Namun, hal yang tidak kalah penting adalah tumbuhnya kesadaran dan kemandirian masyarakat dalam melaksanakan upacara keagamaan secara tulus, bergotong royong, dan sesuai dengan kemampuan.

Kemandirian tersebut diharapkan dapat menghadirkan manfaat pelaksanaan yadnya yang berlandaskan konsep Tri Guna Karya dan Satwika Karya.

Jaya Negara berharap, setelah seluruh rangkaian Karya Ngenteg Linggih dilaksanakan, warga dan pengempon Pura Gunung Sari dapat terus meningkatkan rasa persaudaraan dan persatuan antarsesama umat.

“Pelaksanaan yadnya ini menjadi sarana meningkatkan nilai spiritual umat beragama. Kami berharap karya ini memberikan energi positif bagi umat, memperkuat keharmonisan masyarakat, serta menetralisasi berbagai hal negatif di lingkungan desa,” katanya.

Ketua Panitia Karya, I Made Sueca, mengatakan Karya Ngenteg Linggih dilaksanakan setelah seluruh proses pembaruan palinggih di Pura Gunung Sari selesai dikerjakan.

Baca Juga:  Gubernur Koster Minta Masyarakat Tak Terprovokasi, Jaga Bali Tetap Aman dan Kondusif

Rangkaian upacara pada Rabu tersebut diisi dengan prosesi mendem pedagingan. Sementara itu, puncak karya dijadwalkan berlangsung pada Rabu, 5 Agustus 2026, dan akan dipuput oleh Ida Peranda Mpu Nabe Yoga Daksa Paramitha dari Griya Peraupan.

Sueca menyampaikan terima kasih atas kehadiran dan dukungan Wali Kota Denpasar dalam pelaksanaan karya tersebut.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Wali Kota Denpasar yang telah hadir menyaksikan upacara Ngenteg Linggih, meresmikan karya melalui ngelingga tangan atau penandatanganan prasasti, serta memberikan punia kepada kami. Semoga karya ini labda karya dan memargi antar,” ungkapnya.

Pelaksanaan Karya Ngenteg Linggih di Pura Gunung Sari menjadi wujud komitmen masyarakat Desa Adat Peraupan dalam menjaga kesucian pura sekaligus melestarikan tradisi keagamaan Hindu Bali.

Sinergi pemerintah, desa adat, pengempon pura, dan masyarakat diharapkan terus terpelihara guna memperkuat kehidupan yang harmonis, berbudaya, dan berlandaskan nilai-nilai spiritual.

Pewarta/Editor: I Nyoman Arta Wirawan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here