Dharma Shanti Nasional Nyepi Saka 1948 di Bali Gaungkan Harmoni, Persaudaraan, dan Pengendalian Diri

0
179

DENPASAR, KEN-KEN – Perayaan Dharma Shanti Nasional Hari Suci Nyepi Tahun Saka 1948, yang dipusatkan di Bali berlangsung khidmat dengan mengusung tema “Vasudhaiva Kutumbakam: Satu Bumi, Satu Keluarga, Nusantara Harmoni, Indonesia Maju”, Jumat, (Sukra, Wage, Landep), 17/4/2026, di Pangung Terbuka Ardha Chandra, Denpasar.

Dharma Shanti Nasional yang dihadiri oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia, Pratikno, Wamen Kebudayaan RI, Giring Ganesa, Wamen Pariwisata, Ni Luh Enik Ermawati, Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Indonesia, Isyana Bagoes Oka, Gubernur Bali, I Wayan Koster, dan Ketua Umum Pengurus Harian PHDI Pusat Wisnu Bawa Tenaya, Sulinggih, Ida Pedanda Gde Mandhara Putra Kekeran, Anggota DPR RI, DPD RI, DPRD Bali, serta tokoh adat dan lintas agama.

Kegiatan ini menegaskan pesan penting tentang persaudaraan, toleransi, pengendalian diri, dan kebersamaan dalam menjaga harmoni bangsa di tengah tantangan zaman yang terus berubah.

Rangkaian acara diawali dengan menyanyikan Indonesia Raya tiga stanza, dilanjutkan dengan berbagai sambutan kebangsaan, pesan spiritual, serta pertunjukan seni budaya Bali yang menambah suasana agung dan penuh makna.

Ketua Panitia Dharma Shanti, Laksamana Madya (Purn) Susila, dalam laporannya menyampaikan bahwa pelaksanaan Dharma Shanti tahun ini tidak hanya diisi dengan seremoni keagamaan, tetapi juga diawali dengan berbagai kegiatan sosial sebagai bentuk nyata pengabdian kepada masyarakat.

Ketua Umum Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Pusat, Mayjen TNI (Purn) Wisnu Bawa Tenaya, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Gubernur Bali Wayan Koster atas dukungan penuh sehingga pelaksanaan Dharma Shanti Nasional yang dipusatkan di Bali dapat berjalan dengan baik dan lancar.

Mengawali sambutannya dengan salam Pancasila, Wisnu Bawa Tenaya menegaskan bahwa semangat Vasudhaiva Kutumbakam harus menjadi landasan dalam memperkuat rasa persaudaraan, kebersamaan, dan harmoni nasional.

“Melalui spirit Vasudhaiva Kutumbakam: satu bumi, satu keluarga, Nusantara harmoni, Indonesia maju,” ujarnya.

Sementara itu, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto, dalam sambutan tertulisnya, mengucapkan selamat kepada seluruh umat Hindu di Indonesia atas pelaksanaan Dharma Shanti Nyepi Tahun Saka 1948. Presiden menegaskan bahwa Dharma Shanti merupakan momentum penting untuk saling memaafkan, mempererat persaudaraan, dan meneguhkan nilai-nilai dharma dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Baca Juga:  Bicara di Forum APEX 2026, Gubernur Koster Tegaskan Bali Butuh Kepastian Ketersediaan Energi

Presiden juga menekankan bahwa Indonesia harus terus dibangun sebagai bangsa yang kuat, rukun dalam keberagaman, serta menjunjung tinggi toleransi, gotong royong, dan kerja sama.

“Berbeda-beda, tetapi kita tetap satu. Kita bangun bangsa yang kuat, rukun dalam keragaman, dan menjunjung tinggi toleransi,” demikian pesan Presiden.

Presiden meyakini umat Hindu Indonesia telah dan akan terus menjadi bagian penting dalam menjaga harmoni sosial, memperkuat persatuan nasional, serta membangun Indonesia yang adil, makmur, dan bermartabat.

Selain itu, Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha juga menyampaikan ucapan selamat kepada umat Hindu di seluruh Indonesia yang merayakan rangkaian Hari Suci Nyepi dengan puncak acara Dharma Shanti Nasional. Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa Nyepi bukan sekadar ritual keagamaan, tetapi momentum refleksi untuk menata diri, mengendalikan pikiran, dan membangun sikap hidup yang lebih bijak.

Ia mengaitkan nilai-nilai Nyepi dengan ajaran Bhagawadgita, khususnya tentang pentingnya bertindak dengan niat yang benar tanpa selalu terikat pada hasil. Menurutnya, manusia harus terus menanamkan kebaikan, meski hasilnya tidak selalu hadir secara instan.

Giring juga mengajak seluruh masyarakat untuk menghilangkan kebencian, fitnah, dan kemarahan, serta menggantinya dengan semangat merangkul, membantu, dan melindungi sesama.

Selanjutnya Menko PMK, Pratikno dalam sambutannya menyampaikan bahwa Hari Suci Nyepi semakin relevan di tengah kehidupan modern yang serba cepat, padat, dan penuh distraksi. Arus informasi yang tidak pernah berhenti, banjir konten digital, serta derasnya media sosial dinilai membuat manusia semakin sulit memberi ruang bagi perenungan dan pengendalian diri.

Baca Juga:  Pemkot Denpasar Dukung Program Pemagangan Nasional, Jembatani Dunia Pendidikan dan Dunia Kerja

Di tengah dunia yang serba cepat, manusia sering lebih mudah tersinggung daripada memahami, lebih cepat membangun citra daripada membangun karakter, dan lebih sering bereaksi daripada merenung.

Karena itu, Nyepi dipandang sebagai momentum pemulihan yang sangat penting, yakni saat manusia berhenti sejenak untuk menata kembali hubungan dengan dirinya sendiri, dengan sesama, dengan alam, dan dengan Tuhan.

“Nyepi mengajarkan kita untuk berhenti sejenak di tengah dunia yang serba cepat. Dari keheningan itu, manusia diajak menata kembali diri, menahan amarah, mengurangi kebencian, dan menumbuhkan kepedulian kepada sesama,” katanya.

Nilai-nilai amati geni, amati karya, amati lelungan, dan amati lelanguan dipandang tidak hanya sebagai simbol laku spiritual, tetapi juga sebagai latihan pengendalian diri yang sangat relevan dalam kehidupan masa kini. Dari pengendalian diri itulah diharapkan lahir kepedulian sosial, keadilan, dan kebijaksanaan dalam bertindak.

Baca Juga:  Usai Aksi 400 Truk Sampah, TPA Suwung Kembali Dibuka Sementara

Sebagai ungkapan selamat datang kepada para tamu dan undangan, acara juga diisi dengan penampilan Tari Ayu Selat Segara, sebuah tari kreasi baru Bali yang sarat nuansa penyambutan dan penghormatan. Pertunjukan seni ini semakin memperkuat pesan bahwa Dharma Shanti tidak hanya menjadi ruang spiritual, tetapi juga wadah ekspresi budaya yang memperindah suasana kebersamaan.

Secara keseluruhan, Dharma Shanti Nasional Nyepi Tahun Saka 1948 di Bali tidak hanya menjadi momentum keagamaan bagi umat Hindu, tetapi juga menjadi ruang untuk meneguhkan nilai-nilai kebangsaan, toleransi, persaudaraan, gotong royong, dan semangat hidup harmonis di tengah keberagaman Indonesia. (ar)

Editor: Ken

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here