
BADUNG, KEN-KENKHABARE – Pemerintah Kabupaten Badung kembali menggelar Festival Seni Budaya (FSB) Kabupaten Badung XV Tahun 2026 sebagai langkah nyata melestarikan seni dan budaya lokal sekaligus memberikan ruang kreativitas bagi para seniman dan generasi muda.
Festival yang berlangsung pada 4–16 November 2026 tersebut dibuka secara resmi oleh Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa bersama Wakil Bupati Badung Bagus Alit Sucipta dan jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Badung melalui prosesi penancapan kayonan di Panggung Terbuka Balai Budaya Giri Nata Mandala, Pusat Pemerintahan (Puspem) Badung, Rabu (4/11/2026).
Mengusung tema “Sani Buddhayah Taya Ning Rat”, yang bermakna seni budaya merupakan sinar bagi hati dan dunia, festival tahun ini diharapkan menjadi ruang penguatan identitas budaya sekaligus mendorong keberlanjutan seni tradisional di tengah perkembangan zaman.
Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa menyampaikan apresiasi kepada para seniman, budayawan, dan seluruh panitia yang telah berkontribusi menyelenggarakan festival tersebut.

Menurutnya, pelestarian seni dan budaya lokal merupakan langkah strategis untuk menjaga identitas daerah di tengah derasnya arus globalisasi.
“Tentu saya berharap dengan kekuatan identitas budaya inilah kita bisa menjadi satu pertahanan yang kuat terutama dalam menjaga dan melestarikan budaya yang merupakan warisan daripada para leluhur kita ini. Festival ini kita jadikan sebagai momentum bagaimana kita berpihak kepada budaya lokal sekaligus juga memberikan ruang kepada para seniman, generasi muda untuk menunjukkan seni dan kreativitasnya hingga nanti diharapkan akan bermunculan hasil-hasil karya yang sekaligus bagian daripada pelestarian seni dan budaya itu sendiri,” jelas Adi Arnawa didampingi Bagus Alit Sucipta.
Libatkan 1.925 Seniman dari Berbagai Daerah
Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung I Gede Sukadana dalam laporannya menjelaskan, FSB XV dikemas melalui berbagai bentuk kegiatan seni dan budaya, meliputi Utsawa atau parade, Wimbakara atau lomba, Reksadana atau pagelaran, serta Kandarupa atau pameran.
Berbeda dari penyelenggaraan sebelumnya, festival tahun ini tidak hanya melibatkan seniman lokal dari berbagai wilayah di Bali, tetapi juga menghadirkan peserta dari luar daerah.
Sejumlah peserta dari luar Bali di antaranya berasal dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bandung, Jawa Barat, serta sanggar seni dari Provinsi Sumatera Barat.
Sukadana menyebutkan, total peserta festival diperkirakan mencapai 1.925 seniman. Jumlah tersebut terdiri atas 1.421 seniman karawitan, 386 seniman tari, 78 seniman musik, 10 seniman seni rupa, serta 30 seniman partisipan dari luar Bali.
Selain memberikan ruang bagi para seniman, festival ini juga melibatkan 81 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Kabupaten Badung.
Keterlibatan UMKM tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas manfaat penyelenggaraan festival, sehingga kegiatan seni dan budaya juga dapat memberikan ruang promosi serta peluang ekonomi bagi pelaku usaha lokal.
Pembukaan Festival Seni Budaya Badung XV turut dihadiri pimpinan dan anggota DPRD Badung, Sekretaris Daerah Kabupaten Badung I.B. Surya Suamba, para kepala organisasi perangkat daerah (OPD), organisasi kewanitaan, perwakilan Komite Ekonomi Kreatif, Listibiya Badung, camat se-Kabupaten Badung, lurah, perbekel, serta bendesa adat se-Kabupaten Badung.
Melalui penyelenggaraan festival yang berlangsung hingga 16 November 2026 ini, Pemerintah Kabupaten Badung berharap seni dan budaya lokal semakin mendapat ruang untuk berkembang, sekaligus mendorong keterlibatan generasi muda dalam menjaga warisan leluhur.
Dengan melibatkan ribuan seniman dan puluhan UMKM, Festival Seni Budaya Badung XV tidak hanya menjadi ajang pertunjukan dan kompetisi, tetapi juga wadah memperkuat identitas budaya serta mengembangkan potensi ekonomi kreatif daerah.
Editor: I Nyoman Arta Wirawan
Sumber: Prokopimbadung


