Gubernur Koster: Pariwisata Jadi Indikator Penting Pertumbuhan Ekonomi Bali

0
1038
Foto: Gubernur Bali Wayan Koster saat menghadiri Temu Wirasa Stakeholders 2026 yang diselenggarakan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali di Gedung Dharma Negara Alaya, Denpasar. (23/10/2026). (Ist)

DENPASAR, KEN-KENKHABARE — Seberapa sehat perekonomian Bali? Bagi Gubernur Bali Wayan Koster, salah satu indikator pentingnya dapat dilihat dari pergerakan kunjungan wisatawan, baik mancanegara maupun domestik. Sebab, pariwisata bukan sekadar sektor unggulan, melainkan penggerak ekonomi yang manfaatnya menjangkau berbagai lapisan masyarakat di Pulau Dewata.

“Secara umum, melihat ekonomi Bali bagus atau tidak itu sederhana, dapat dilihat dari jumlah wisatawan yang berkunjung ke Bali, baik wisatawan asing maupun domestik, apakah naik atau turun,” ujar Koster saat menghadiri Temu Wirasa Stakeholders 2026 yang diselenggarakan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali di Gedung Dharma Negara Alaya, Denpasar, Jumat (23/10/2026).

Menurut Koster, kuatnya keterkaitan pariwisata dengan berbagai sektor menjadikan pergerakan kunjungan wisatawan sebagai salah satu indikator penting untuk membaca dinamika perekonomian Bali. Aktivitas pariwisata tidak hanya menghidupi hotel, vila, restoran, dan usaha transportasi, tetapi juga menggerakkan UMKM, pertanian, kerajinan, serta penyediaan bahan pangan.

Dengan demikian, peningkatan kunjungan wisatawan berpotensi memberikan dampak berantai terhadap aktivitas usaha dan pendapatan masyarakat di berbagai wilayah Bali.

Koster mengungkapkan, kontribusi sektor pariwisata terhadap perekonomian Bali pada 2025 mencapai sekitar 66 persen. Besarnya kontribusi tersebut menunjukkan bahwa kondisi pariwisata memiliki pengaruh signifikan terhadap kinerja ekonomi daerah.

Pada tahun yang sama, perekonomian Bali tumbuh sebesar 5,82 persen. Koster menilai capaian tersebut menunjukkan pentingnya menjaga keberlanjutan sektor pariwisata sebagai penopang utama perekonomian daerah.

Ia menjelaskan, karakter ekonomi berbasis pariwisata berbeda dengan ekonomi yang bertumpu pada eksploitasi sumber daya alam. Dampak pariwisata dapat menyebar melalui hubungan usaha, rantai pasok, dan kebutuhan jasa yang melibatkan masyarakat di berbagai kabupaten/kota.

“Bedanya ekonomi berbasis sumber daya alam dengan ekonomi pariwisata sangat jauh. Kalau ekonomi berbasis sumber daya alam, seperti tambang, minyak, gas, dan emas, hanya terkonsentrasi di satu tempat. Namun, kalau ekonomi berbasis pariwisata, dampaknya menyebar ke seluruh kabupaten/kota di Bali,” jelasnya.

Menurut Koster, meskipun aktivitas pariwisata banyak terkonsentrasi di Denpasar, Badung, dan Gianyar, daerah lain turut terhubung melalui penyediaan produk pertanian, bahan pangan, kerajinan, transportasi, dan jasa pendukung lainnya.

Keterkaitan tersebut menjadikan pariwisata bukan hanya urusan pelaku industri wisata, melainkan bagian dari ekosistem ekonomi Bali secara keseluruhan.

Dari sisi kunjungan wisatawan, Koster menyampaikan bahwa jumlah wisatawan mancanegara hingga akhir September 2026 menunjukkan tren positif dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Ia mengakui kunjungan sempat mengalami penurunan pada Februari hingga April 2026 akibat dinamika geopolitik global. Namun, setelah periode tersebut, kunjungan wisatawan mancanegara kembali pulih dan menunjukkan peningkatan.

Sementara itu, pada 2025 Bali mencatat sekitar 7,05 juta kunjungan wisatawan mancanegara. Koster menyebut capaian tersebut sebagai yang tertinggi dalam sejarah pariwisata Bali, bahkan melampaui jumlah kunjungan sebelum pandemi COVID-19 pada 2019.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa perkembangan pariwisata perlu dilihat secara menyeluruh, termasuk pergerakan wisatawan domestik yang memiliki peran penting dalam menjaga aktivitas ekonomi daerah.

Koster menyoroti penurunan kunjungan wisatawan domestik yang antara lain dipengaruhi kenaikan harga tiket pesawat domestik. Kondisi tersebut perlu mendapat perhatian karena wisatawan nusantara turut menopang tingkat hunian akomodasi, konsumsi, transportasi, dan kegiatan usaha lainnya.

Baca Juga:  Di Yeh Gangga, Bupati Sanjaya Bersih-Bersih Pantai Hingga Berikan Kursi Roda Pada Penyandang Disabilitas

Kinerja ekonomi Bali juga tercermin dari sejumlah indikator sosial. Berdasarkan angka yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, tingkat kemiskinan tercatat sebesar 3,42 persen, tingkat pengangguran terbuka 1,45 persen, dan rasio Gini sebesar 0,333.

Koster optimistis perekonomian Bali pada 2026 akan tumbuh lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya, sejalan dengan perkembangan kunjungan wisatawan dan aktivitas ekonomi masyarakat.

“Jadi, kalau dibandingkan pertumbuhan ekonomi Bali tahun 2026 dengan tahun 2025, pasti jauh lebih bagus,” tegasnya.

Namun, optimisme tersebut perlu diiringi upaya menjaga ketahanan sektor pariwisata. Ketergantungan yang besar terhadap pariwisata juga membuat Bali perlu memperhatikan berbagai risiko yang dapat memengaruhi perjalanan wisata, daya beli, konektivitas, dan kegiatan usaha.

“Sekarang, pariwisata menjadi tumpuan ekonomi Bali. Artinya, hidup kita di Bali bergantung pada pariwisata. Kalau ini terganggu, dampaknya tidak hanya ke ekonomi, tetapi juga ke bidang sosial dan lain sebagainya,” ungkap Koster.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa keberlanjutan pariwisata berkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat. Karena itu, penguatan sektor ini perlu berjalan seiring dengan upaya memperluas manfaat ekonomi, menjaga keterlibatan UMKM, serta memperkuat hubungan pariwisata dengan sektor produktif lainnya.

Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Achris Sarwani, menekankan pentingnya ketersediaan data dan informasi yang akurat dari para pemangku kepentingan untuk memahami perkembangan ekonomi daerah.

Menurut Achris, informasi dari responden survei Bank Indonesia dapat menjadi sinyal awal untuk mengidentifikasi perkembangan dunia usaha, perilaku konsumen, dan pergerakan harga sebelum data makroekonomi resmi dirilis.

Baca Juga:  Kenakan Tenun Endek Warna Merah, Gubernur Koster Sambut Menhan RI Sjafrie Sjamsoeddin

Informasi tersebut menjadi salah satu bahan dalam penyusunan proyeksi pertumbuhan ekonomi, perkiraan inflasi, serta rekomendasi kebijakan.

Dalam kegiatan tersebut, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali memperkirakan perekonomian Bali pada 2026 tetap tumbuh positif pada kisaran 5,4–5,9 persen. Sementara itu, inflasi diharapkan tetap terkendali dalam rentang sasaran 2,5 persen ± 1 persen.

Temu Wirasa Stakeholders 2026 mengusung tema “Data Pramana, Bali Rahayu: Bersinergi Mendorong Pertumbuhan Bali yang Lebih Tinggi dan Berdaya Tahan”.

Kegiatan ini menjadi wadah penguatan sinergi antara Bank Indonesia, responden survei, dan para pemangku kepentingan untuk meningkatkan kualitas serta ketersediaan data ekonomi daerah.

Melalui pertukaran informasi yang berkelanjutan, data diharapkan dapat menjadi dasar perumusan kebijakan yang lebih tepat, sekaligus membantu Bali menjaga ketahanan ekonomi di tengah dinamika global dan mendorong pertumbuhan yang inklusif serta berkelanjutan.

Editor: I Nyoman Arta Wirawan
Sumber: Humaspemprovbali
Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here