Dari Palu hingga Tolai, Ida Rsi Putra Manuaba Membawa Pesan Harmoni untuk Generasi Muda

0
1034
Foto: Ida Rsi Manuaba mengisi International Seminar 2026.

“Di hadapan sekitar 1.500 anak muda di Palu, Ida Rsi Putra Manuaba mengajak generasi muda menemukan harmoni dari dalam diri. Perjalanan ke Sulawesi Tengah ini mempertemukan pendidikan, spiritualitas, dan kebudayaan dalam satu pesan: kedamaian bersama berawal dari keseimbangan batin.“

PALU, KEN-KENKHABARE – Di tengah kehidupan yang bergerak semakin cepat, generasi muda menghadapi tantangan yang tidak selalu terlihat dari luar. Tuntutan untuk berhasil, perubahan sosial, derasnya arus informasi, dan perkembangan teknologi membuat kemampuan menjaga keseimbangan diri menjadi semakin penting.

Di sinilah pesan tentang harmoni menemukan relevansinya.

Pengasuh Ashram Gandhi Puri, Ida Rsi Putra Manuaba, membawa pesan tersebut dalam kunjungannya ke Sulawesi Tengah pada 4–8 November 2025. Salah satu agenda pentingnya adalah menyampaikan ceramah Dharma di Pura Agung Jagatnatha Wanakerta, Palu, di hadapan sekitar 1.500 anak muda.

Pesan yang disampaikan memiliki makna sederhana, tetapi mendasar: sebelum membangun keharmonisan dengan orang lain dan lingkungan, manusia perlu belajar hidup harmonis dengan dirinya sendiri.

Harmoni bukan semata-mata keadaan tanpa pertengkaran atau perbedaan. Ia berawal dari kemampuan mengenali pikiran, memahami perasaan, mengelola emosi, dan menempatkan keinginan secara bijaksana. Dari kesadaran tersebut, seseorang memiliki ruang untuk merespons kehidupan dengan lebih tenang dan menghargai orang lain.

Bagi generasi muda, pesan ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh pencapaian yang terlihat, tetapi juga oleh kualitas batin dan kedewasaan dalam menjalani kehidupan.

Ketika Dharma Bertemu Dunia Anak Muda

Kehadiran sekitar 1.500 anak muda dalam ceramah Dharma di Palu menjadi bagian penting dari rangkaian kunjungan Ida Rsi Putra Manuaba. Perjumpaan tersebut membuka ruang untuk membicarakan spiritualitas bukan hanya sebagai pengetahuan keagamaan, melainkan juga sebagai nilai yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Belajar berdamai dengan diri sendiri berarti tidak mudah dikuasai kemarahan, kecemasan, atau dorongan untuk terus membandingkan diri dengan orang lain. Kesadaran ini dapat menjadi dasar untuk membangun hubungan yang lebih sehat dengan keluarga, teman, masyarakat, dan lingkungan.

Dari dalam diri, harmoni kemudian bergerak keluar. Kemampuan memahami diri membantu seseorang belajar memahami orang lain. Kesediaan menerima kekurangan diri membuka ruang untuk menghargai perbedaan. Sementara kejernihan pikiran dapat membantu seseorang bersikap lebih bijaksana ketika menghadapi persoalan.

Dalam perspektif ini, Dharma tidak berhenti di ruang persembahyangan. Nilainya menemukan bentuk nyata melalui cara manusia berbicara, mengambil keputusan, memperlakukan sesama, dan menjaga hubungan dengan alam.

Membangun Jembatan antara Pendidikan dan Kebudayaan

Perjalanan Ida Rsi Putra Manuaba di Sulawesi Tengah tidak hanya berlangsung di ruang keagamaan. Ia juga menghadiri Seminar Internasional di STAH Dharma Sentana Palu atas undangan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM).

Pertemuan tersebut mempertemukan lingkungan akademik dengan pemikiran spiritual dan kearifan budaya Nusantara. Di dalamnya terdapat ruang untuk melihat pendidikan sebagai proses yang tidak hanya mengembangkan kemampuan intelektual, tetapi juga membentuk karakter dan tanggung jawab sosial.

Ilmu pengetahuan memberikan manusia kemampuan memahami perubahan zaman. Kebudayaan menyediakan akar yang membantu masyarakat mengenali identitas dan nilai-nilai yang diwariskan. Sementara spiritualitas memberi ruang refleksi tentang bagaimana pengetahuan dan kemampuan itu digunakan dalam kehidupan.

Ketiganya tidak harus berjalan sendiri-sendiri. Pendidikan yang terbuka terhadap perkembangan zaman dapat tetap berakar pada kebudayaan, sedangkan nilai spiritual dapat menjadi salah satu sumber pembentukan karakter dan kepekaan sosial.

Bagi generasi muda, pertemuan antara ketiga unsur tersebut menjadi penting agar keterbukaan terhadap dunia modern tidak membuat mereka kehilangan hubungan dengan nilai-nilai luhur yang membentuk kehidupan masyarakat.

Menyusuri Jejak Spiritual di Tolai

Dari ruang akademik dan ceramah Dharma, perjalanan Ida Rsi Putra Manuaba berlanjut dengan menyapa umat Hindu di Tolai. Ia juga mengunjungi sejumlah tempat suci yang menyimpan nilai spiritual dan kearifan lokal, termasuk Pura Batu Kapal.

Tempat ini dikenal dengan keberadaan campuhan dan batu besar berbentuk kapal. Bentang alam tersebut menjadi bagian dari kekayaan spiritual dan budaya masyarakat setempat.

Pura dan tempat-tempat sakral memiliki arti yang lebih luas daripada fungsinya sebagai ruang persembahyangan. Bagi komunitas yang menjaganya, tempat suci juga berkaitan dengan ingatan kolektif, tradisi, identitas, dan hubungan manusia dengan alam.

Kunjungan ke Pura Batu Kapal membuka ruang untuk melihat bagaimana spiritualitas hidup berdampingan dengan lingkungan dan kebudayaan lokal. Warisan seperti ini memerlukan perhatian lintas generasi agar nilai-nilai yang melekat padanya tidak terputus oleh perubahan zaman.

Perjumpaan dengan umat Hindu di Tolai sekaligus menjadi momentum untuk mempererat persaudaraan dan mengenali kekayaan tradisi yang tumbuh dalam kehidupan masyarakat setempat.

Foto: Ida Rsi Putra Manuaba di Sulawesi Tengah, dari pesan harmoni kepada 1.500 anak muda di Palu hingga perjumpaan budaya di Tolai.

Harmoni yang Tumbuh dari Dalam Diri

Jika dirangkai, tiga bagian perjalanan Ida Rsi Putra Manuaba di Sulawesi Tengah memperlihatkan hubungan yang saling melengkapi. Seminar di STAH Dharma Sentana Palu menghadirkan perjumpaan pendidikan dan kebudayaan. Ceramah Dharma di Pura Agung Jagatnatha Wanakerta mengajak generasi muda membangun harmoni dari dalam diri. Sementara kunjungan ke Tolai memperlihatkan kedekatan spiritualitas dengan tradisi dan alam.

Pendidikan memperluas wawasan. Spiritualitas mengajak manusia melihat ke dalam dirinya. Kebudayaan menjaga kesinambungan nilai-nilai yang diwariskan oleh generasi terdahulu.

Ketiganya dapat menjadi fondasi bagi kehidupan masyarakat yang lebih seimbang, terbuka, dan saling menghormati.

Pada akhirnya, harmoni bukan hanya gagasan besar yang dibicarakan dalam seminar atau ajaran yang didengar dalam ceramah. Harmoni diuji dalam keseharian: ketika seseorang mampu mengendalikan diri, menghormati perbedaan, menjaga alam, dan membangun hubungan yang baik dengan sesama.

Dari Palu hingga Tolai, pesan tersebut menemukan ruang perjumpaannya—bahwa membangun masyarakat yang damai dapat dimulai dari langkah paling dekat, yakni memahami dan menata diri sendiri.

“Harmoni dimulai dari dalam diri, tumbuh melalui pendidikan, dan diwariskan melalui kebudayaan.“

Editor: I Nyoman Arta Wirawan
Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here