
BULELENG, KEN-KENKHABARE – Rencana menghadirkan sirkuit di Buleleng kembali mendapat dorongan. Kawasan yang direncanakan tidak hanya diarahkan sebagai lintasan balap, tetapi juga dikembangkan sebagai sport center dengan berbagai fasilitas pendukung olahraga.
Gagasan tersebut disampaikan pengusaha asal Buleleng, I Gusti Ngurah Anom alias Cok Krisna, dalam momentum pergantian kepemimpinan Ikatan Motor Indonesia (IMI) Bali periode 2026–2030.
Cok Krisna mengatakan, pembahasan mengenai rencana tersebut telah dilakukan bersama Bupati Buleleng dan sejumlah pemilik lahan. Menurutnya, terdapat sekitar 16 pemilik lahan yang telah dibicarakan dalam proses awal tersebut.
“Dua minggu lalu saya sudah rapat dengan Bupati, termasuk beliau juga sebagai KONI Singaraja dan beberapa pemilik lahan yang ada di situ. Ada 16 pemilik lahan,” ujarnya.
Ia berharap rencana pembangunan sirkuit dapat segera diwujudkan. Menurut Cok Krisna, kawasan tersebut nantinya tidak hanya berfungsi sebagai tempat kegiatan otomotif, tetapi juga memiliki fasilitas olahraga yang lebih luas.
“Untuk jangka pendek, di situ dengan lahan sirkuit dengan luas 6,7 hektare, itu bukan hanya sirkuit saja, tetapi dibuat sport center, ditambah nanti fasilitas untuk sirkuit yang lain,” katanya.
Gagasan pengembangan kawasan olahraga tersebut sejalan dengan pembahasan Sport Center Lumbanan di Kecamatan Sukasada, Buleleng. Berdasarkan pemberitaan pada September 2026, pemerintah daerah bersama KONI Buleleng tengah menyiapkan tahapan survei, pengukuran, dan pemetaan lahan masyarakat untuk membuka akses menuju kawasan Sport Center.
Pertemuan dengan pemilik lahan melibatkan sekitar 16 pemilik. Akses menuju kawasan tersebut diperkirakan memiliki panjang sekitar 650 meter dan membutuhkan lahan untuk badan jalan serta drainase.
Dukungan terhadap pengembangan fasilitas olahraga juga datang dari Cok Krisna melalui dana CSR sebesar Rp1 miliar. Dana tersebut sebelumnya direncanakan untuk pembangunan sirkuit, namun dalam perkembangan pembahasan kemudian diarahkan untuk membantu proses pembebasan lahan akses menuju Sport Center Lumbanan.
Bagi Cok Krisna, pembangunan fasilitas olahraga harus dilihat dalam perspektif yang lebih luas. Keberadaan sarana olahraga diharapkan dapat membuka ruang pembinaan atlet sekaligus memberikan dampak ekonomi bagi kawasan Bali Utara.
Cok Krisna juga menyatakan kesiapannya memberikan dukungan apabila fasilitas dan sumber daya yang dimilikinya dibutuhkan oleh kepengurusan IMI Bali periode 2026–2030.
“Kalau memang nanti ketua yang baru mau pakai tempat saya, tempat sudah saya siapkan. Kalau pakai karyawan saya, gaji saya yang bayar. Kalau dibutuhkan kendaraan, mobil saya siapkan,” ujarnya.
Ia berharap kepemimpinan IMI Bali yang baru dapat melanjutkan berbagai hal yang sudah berjalan sekaligus melakukan penyempurnaan terhadap aspek-aspek yang masih perlu diperbaiki.
“Yang kurang mohon dilengkapi, yang tidak bagus mohon disempurnakan,” katanya.

Cok Krisna juga menitipkan pesan kepada ketua IMI Bali periode 2026–2030 agar mampu merangkul seluruh komunitas otomotif, klub, dan generasi muda di Bali.
“Pesan saya kepada ketua yang baru, tolong bisa merangkul semua klub pemuda-pemuda yang ada di Bali, jangan ada jarak dengan siapapun,” tegasnya.
Ia menekankan pentingnya kebersamaan dan perlakuan yang adil di lingkungan olahraga otomotif. Menurutnya, perbedaan kepentingan tidak semestinya menjadi penghalang bagi pengembangan olahraga dan pembinaan atlet.
“Buatlah secara adil-adilnya, jangan pernah ada jarak, egonya diturunkan, iri,” pesannya.
Ia berharap penguatan organisasi dan fasilitas olahraga dapat berjalan beriringan dengan pengembangan pariwisata Bali, khususnya melalui potensi sport tourism.
“Bali biar pariwisatanya jadi bagus dan terutama atlet-atlet berprestasi bisa diangkat,” ujarnya.
Rencana pengembangan sirkuit dan Sport Center di Buleleng tersebut kini menjadi bagian dari harapan lebih besar untuk memperkuat ekosistem olahraga Bali Utara. Dengan dukungan pemerintah, KONI, masyarakat pemilik lahan, dunia usaha, dan komunitas olahraga, proses menuju terwujudnya fasilitas tersebut masih membutuhkan tahapan lanjutan, terutama terkait akses dan penataan lahan.
Penulis: I Nyoman Arta Wirawan
Editor: Arta W


