Anindya Bakrie Dorong BRICS Perkuat Perdagangan Jasa dan Sistem Pembayaran Lintas Negara

0
1072
Foto: Ketua Umum KADIN Indonesia Anindya Novyan Bakrie menyampaikan pandangan dalam forum BRICS Business Council di India, mendorong penguatan perdagangan jasa dan konektivitas ekonomi lintas negara, (11/9/2026). Ist.

Sampaikan tiga prioritas dongkrak perdagangan antarnegara BRICS

NEW DELHI, KEN-KENKHABARE – Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia, Anindya Novyan Bakrie, mendorong negara-negara anggota BRICS memperkuat integrasi ekonomi melalui kemudahan perdagangan jasa, konektivitas sistem pembayaran lintas negara, serta investasi pada sumber daya manusia dan infrastruktur.

Hal tersebut disampaikan Anindya dalam BRICS Business Forum 2026 yang berlangsung di New Delhi, India, dihadapan para pemimpin dunia seperti Vladimir Putin (Rusia) hingga Cyril Ramaphosa (Afrika Selatan) Jumat (11/9/2026) . Menurutnya, posisi BRICS yang mencakup hampir separuh populasi dunia, sekitar 40 persen perekonomian dunia, dan hampir seperempat perdagangan global memberikan kekuatan strategis bagi kelompok tersebut untuk turut membentuk arah perekonomian dunia.

“Ketika kita berbicara mengenai BRICS, kita berbicara mengenai hampir separuh umat manusia, sekitar 40 persen perekonomian dunia dan hampir seperempat perdagangan global,” ujar Anindya.

Menurutnya, besarnya kekuatan ekonomi tersebut harus diikuti tanggung jawab untuk memastikan pertumbuhan dan integrasi ekonomi memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

Anindya menilai perdagangan jasa menjadi salah satu agenda konkret yang perlu diperkuat dalam integrasi ekonomi BRICS.

Ia mengajukan pertanyaan praktis mengenai sejauh mana integrasi tersebut benar-benar memudahkan dunia usaha. Sebuah perusahaan, kata dia, idealnya dapat menemukan mitra di negara BRICS lainnya, memasuki pasar, memberikan layanan, hingga menerima pembayaran tanpa menghadapi hambatan yang tidak perlu.

“Ini merupakan pertanyaan praktis yang harus kita jawab,” tegasnya.

Ia juga menekankan bahwa perdagangan jasa tidak dapat dipisahkan dari pembangunan industri. Sektor industri membutuhkan berbagai layanan pendukung, mulai dari jasa rekayasa, pembiayaan, perangkat lunak, hingga transportasi dan logistik.

“Jasa dan industrialisasi saling memperkuat,” katanya.

Bagi Indonesia, penguatan perdagangan jasa juga memiliki relevansi dengan agenda hilirisasi dan pengembangan sumber daya manusia yang menjadi salah satu prioritas pembangunan nasional.

Kerja sama jasa, lanjut Anindya, juga berpotensi memperluas akses masyarakat terhadap layanan kesehatan dan pendidikan.

Dalam forum tersebut, Anindya menyampaikan tiga prioritas yang dinilai penting untuk memperkuat perdagangan jasa antarnegara BRICS.

Foto: BRICS Forum

Pertama, mempermudah kegiatan usaha lintas negara.

BRICS Business Council dinilai perlu aktif mengidentifikasi hambatan yang dihadapi dunia usaha dan membawa solusi konkret kepada pemerintah negara-negara anggota.

Langkah tersebut dapat dilakukan melalui penyederhanaan perizinan, penguatan pengakuan kualifikasi untuk profesi tertentu, serta kemudahan perjalanan bisnis. Anindya juga mengusulkan pengembangan Kartu Perjalanan Bisnis BRICS untuk mendukung mobilitas pelaku usaha.

Kedua, memperkuat konektivitas sistem pembayaran.

Menurut Anindya, integrasi ekonomi tidak akan optimal apabila sistem pembayaran lintas negara masih menjadi hambatan bagi pelaku usaha.

Ia mendorong penguatan keterhubungan sistem pembayaran, termasuk pemanfaatan pembayaran digital. India, Brasil, dan China disebut telah menunjukkan perkembangan dalam sistem pembayaran waktu nyata.

“Tugas kita adalah membuat sistem tersebut dapat bekerja lintas batas secara efektif sebagaimana sistem tersebut bekerja di dalam negeri masing-masing,” ujarnya.

Anindya juga mendorong peningkatan penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan sepanjang layak secara komersial, dengan tetap memperhatikan perlindungan data dan stabilitas sistem keuangan.

“Kedaulatan keuangan tidak harus berarti keterisolasian keuangan,” tegasnya.

Ketiga, berinvestasi pada manusia dan infrastruktur.

Anindya menilai pengembangan perdagangan jasa membutuhkan tenaga kerja terampil dan infrastruktur yang memadai.

Karena itu, dunia usaha didorong meningkatkan pelatihan tenaga kerja, memperkuat kolaborasi dengan perguruan tinggi, serta membantu UMKM memanfaatkan kecerdasan buatan.

Ia juga mengusulkan agar setiap perwakilan BRICS Business Council mempublikasikan jumlah tenaga kerja yang dilatih oleh anggotanya setiap tahun.

Baca Juga:  Menteri Kebudayaan Apresiasi Gubernur Koster Dukung CHANDI Summit 2025

Sementara itu, New Development Bank dinilai dapat mengambil peran dalam mendukung pembiayaan jaringan digital, pelatihan tenaga kerja, dan pembangunan infrastruktur yang dibutuhkan.

Indonesia Jangan Hanya Menjadi Pasar

Sebagai anggota baru BRICS, Anindya menekankan pentingnya Indonesia mengambil peran aktif dalam membentuk agenda kerja sama.

Menurutnya, Indonesia tidak boleh hanya menjadi pasar bagi negara-negara BRICS lainnya, tetapi harus mampu meningkatkan kapasitas nasional dan ikut menentukan arah kerja sama.

“Anggota baru, termasuk Indonesia, harus ikut membentuk agenda ini, bukan sekadar menjadi pasar baru.”

Ia menilai kerja sama BRICS harus mampu membangun kapasitas ekonomi di masing-masing negara anggota. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya menjadi konsumen barang dan jasa, tetapi juga mampu menghasilkan serta menyediakan jasa untuk pasar BRICS.

UMKM Jadi Ukuran Integrasi

Anindya menilai salah satu ukuran keberhasilan integrasi ekonomi BRICS adalah kemampuan UMKM menembus pasar negara anggota.

Ia memberikan gambaran, UMKM di Surabaya idealnya dapat menemukan pelanggan di São Paulo, Durban, maupun Alexandria, menawarkan jasa, memberikan layanan lintas negara, dan menerima pembayaran dengan mudah.

“Itulah ujian bagi integrasi BRICS yang bermakna,” ujarnya.

Anindya juga mengaitkan penguatan kerja sama BRICS dengan Semangat Bandung 1955, yang menurutnya tetap relevan dalam membangun kerja sama yang lebih erat di antara negara-negara berkembang.

Baca Juga:  Bali Raih Penghargaan Sebagai Provinsi Dengan Pendataan KUMKM Terbaik Tahun 2022

“Indonesia siap membantu membangun koneksi tersebut,” kata Anindya.

Ia berharap masa depan BRICS tidak hanya menghasilkan pertumbuhan ekonomi bagi negara-negara anggotanya, tetapi juga menghadirkan manfaat yang dapat dirasakan langsung masyarakat.

“Mari kita wujudkan masa depan BRICS sebagai masa depan yang dapat kita bagi bersama dan membawa kemakmuran bagi masyarakat kita.”

KADIN Dorong Dunia Usaha Indonesia Ambil Peran

Pandangan Anindya tersebut menegaskan pentingnya keterlibatan dunia usaha Indonesia dalam memanfaatkan keanggotaan Indonesia di BRICS.

Bagi pelaku usaha nasional, BRICS tidak hanya menjadi forum kerja sama ekonomi antarnegara, tetapi juga membuka peluang untuk memperluas pasar, membangun jaringan bisnis, meningkatkan kapasitas tenaga kerja, memperkuat UMKM, serta menciptakan konektivitas ekonomi lintas negara.

Dengan demikian, keterlibatan Indonesia di BRICS diharapkan tidak berhenti pada kerja sama antarpemerintah, tetapi berkembang menjadi kerja sama ekonomi yang memberikan dampak lebih nyata bagi dunia usaha dan masyarakat.

Penulis/Editor: I Nyoman Arta Wirawan
Sumber: Kanal Youtube Berita Terbaru Indonesia
Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here