Desa Adat Sesetan Gelar Karya Atma Wedana dan Mapandes Kinambulan, Diikuti Ratusan Krama

0
1039
Foto: Wali Kota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara saat menghadiri sekaligus ngayah nyangging dalam Karya Atma Wedana dan Mapandes Kinambulan di Pemelisan Desa Adat Sesetan, Rabu (9/9/2026).

DENPASAR, KEN-KEN – Desa Adat Sesetan kembali menggelar Karya Atma Wedana dan Mapandes Kinambulan secara massal di Pemelisan Desa Adat Sesetan, Rabu (9/9/2026). Kegiatan ini diikuti ratusan krama dari Desa Adat Sesetan maupun masyarakat dari luar wilayah.

Wali Kota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara turut hadir dalam pelaksanaan karya tersebut sekaligus ngayah nyangging pada upacara mapandes atau matatah massal.

Sejak pagi, areal bale peyadnyan di Pemelisan Desa Adat Sesetan dipadati warga yang mengikuti rangkaian prosesi Matatah Kinambulan. Tahun ini, mapandes massal diikuti 138 peserta dengan melibatkan 21 orang sangging yang bertugas melaksanakan prosesi pengasahan gigi.

Turut hadir Wakil Wali Kota Denpasar I Kadek Agus Arya Wibawa, Anggota DPRD Provinsi Bali I Gusti Ngurah Gede Marhaendra Jaya, Kepala Dinas Kebudayaan Kota Denpasar Raka Purwantara, Kabag Kesra Kota Denpasar I Putu Agus Jayadi, Camat Denpasar Selatan Kadek Hermanto, serta tokoh masyarakat dan krama Desa Adat Sesetan.

Di sela-sela kegiatan, Wali Kota Jaya Negara mengatakan upacara mapandes atau potong gigi merupakan salah satu rangkaian upacara Manusa Yadnya yang penting bagi umat Hindu.

“Mapandes wajib dilakukan ketika anak menginjak usia remaja atau sudah dewasa. Ritual ini bertujuan untuk mengendalikan enam sifat buruk manusia yang menurut agama Hindu dikenal dengan istilah Sad Ripu atau enam musuh dalam diri manusia,” ujar Jaya Negara.

Baca Juga:  Gubernur Koster Bertemu DJSN, Bali Siap Jadi Pilot Project Reformasi Sistem Rujukan Kesehatan Nasional

Ia menjelaskan, Sad Ripu terdiri atas kama, yakni sifat penuh nafsu indria; lobha, sifat loba dan serakah; krodha, sifat kejam dan pemarah; mada, sifat mabuk atau kemabukan; matsarya, sifat dengki dan iri hati; serta moha, sifat kebingungan atau kesulitan dalam menentukan sesuatu.

Menurut Jaya Negara, pelaksanaan mapandes tidak hanya berkaitan dengan kewajiban keagamaan, tetapi juga memiliki makna dalam membentuk kehidupan manusia agar mampu mengendalikan diri dan menjalani kehidupan secara lebih baik.

Sebagai bentuk dukungan terhadap pelaksanaan karya tersebut, Pemerintah Kota Denpasar memberikan bantuan dana hibah sebesar Rp300 juta.

Baca Juga:  Peringatan HUT Ke-81 RI di Badung, Adi Arnawa Ajak Jajaran Perkuat Gotong Royong Menuju Indonesia Emas 2045

Sementara itu, Bendesa Adat Sesetan I Made Sudarma mengatakan, Desa Adat Sesetan telah memiliki program matatah atau mapandes massal yang dilaksanakan secara berkala.

“Program ini sudah ada sejak lama dan dirancang setiap dua tahun sekali sebagai wujud sradha bhakti umat kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, sekaligus sebagai bentuk kepedulian dan kebersamaan untuk membantu sesama umat di Desa Adat Sesetan,” ungkapnya.

Menurut Made Sudarma, pelaksanaan matatah massal bertujuan membantu meringankan beban masyarakat, terutama dalam pembiayaan pelaksanaan yadnya. Pelaksanaan secara bersama-sama dinilai dapat membantu masyarakat menekan biaya dalam menjalankan kewajiban keagamaan.

Menariknya, Karya Atma Wedana dan Mapandes Kinambulan tidak hanya diperuntukkan bagi krama Desa Adat Sesetan. Masyarakat dari luar desa adat juga diberikan kesempatan untuk mengikuti rangkaian karya tersebut.

Untuk mapandes, krama Desa Adat Sesetan dikenakan biaya Rp500 ribu per peserta, sedangkan peserta dari luar Desa Adat Sesetan dikenakan Rp750 ribu.

Sementara untuk Atma Wedana atau memukur, krama Desa Adat Sesetan dikenakan biaya Rp1 juta, sedangkan peserta dari luar Desa Adat Sesetan dikenakan Rp3,5 juta.

“Ini merupakan bentuk upaya kami untuk membantu meringankan beban masyarakat dalam melaksanakan yadnya. Kami memberikan kesempatan tidak hanya kepada warga Sesetan, tetapi juga masyarakat dari luar Desa Adat Sesetan yang ingin mengikuti karya ini,” jelas Made Sudarma.

Selain matatah massal, rangkaian Karya Atma Wedana kali ini juga diikuti 142 sawa.

Made Sudarma menegaskan, program mapandes massal akan terus dilaksanakan secara rutin sebagai bagian dari program Desa Adat Sesetan.

“Mapandes massal kali ini diikuti 138 orang peserta dari warga Desa Adat Sesetan dengan melibatkan 21 orang sangging. Upacara ini nantinya akan terus kami adakan secara rutin ke depannya,” katanya.

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Kota Denpasar, khususnya Wali Kota Jaya Negara, atas kehadiran dan dukungan berupa stimulan dalam pelaksanaan karya tersebut.

“Semoga upacara ini bisa terus kami laksanakan untuk masyarakat ke depannya,” tandasnya.

Editor: I Nyoman Arta Wirawan
Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here