Made Ariandi: Gotong Royong Tak Hanya Saat Suka, Dunia Usaha Harus Hadir Saat Duka

0
1073
Foto: Ketua KADIN Bali Made Ariandi saat menerima plakat dari pimpinan Museum Bung Karno Gus Marhen, saat hari ulang tahunnya Minggu (6/9/2026).

DENPASAR, KEN-KENKHABARE – Ketua Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Bali Made Ariandi mendorong dunia usaha memperkuat semangat gotong royong sebagai bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan, terutama ketika masyarakat menghadapi bencana dan kondisi sulit

Menurut Ariandi, gotong royong bukan sekadar aktivitas sosial, tetapi telah menjadi bagian dari tradisi dan budaya masyarakat Bali. Semangat tersebut tidak hanya diperlukan dalam suasana suka, tetapi juga harus hadir ketika masyarakat menghadapi kedukaan maupun bencana.

“Pada saat duka pun harus bergotong royong. Gotong royong itu sebuah tradisi,” kata Ariandi, Selasa (8/9/2026) di kediamannya, Desa Pering, Gianyar.

Ia menilai semangat gotong royong tersebut sejalan dengan gagasan Indonesia Incorporated, yakni seluruh komponen bangsa mengambil peran sesuai kapasitas masing-masing untuk memperkuat ketahanan dan pembangunan nasional.

Baca Juga:  Peringatan Hari OTDA ke-30, Pemkot Denpasar Kembali Raih Prestasi Kinerja Tinggi

Dalam konteks dunia usaha, Ariandi melihat Corporate Social Responsibility (CSR) sebagai salah satu instrumen untuk menerjemahkan semangat tersebut dalam tindakan nyata.

Menurutnya, CSR harus dilaksanakan secara terbuka dan akuntabel sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat dan dapat meringankan beban pemerintah maupun masyarakat yang terdampak.

“Pelaksanaan CSR itu harus terbuka, accountable. Jadi itu benar-benar bisa meringankan beban semua pihak,” ujarnya.

BACA JUGA:

> KADIN Bali Ajak Pengusaha Bali Bangun Ekosistem Ekonomi dan Kepedulian Sosial

Ariandi mengatakan kepedulian dunia usaha semakin penting mengingat Bali dan Indonesia menghadapi berbagai potensi bencana.

Mulai dari kondisi cuaca ekstrem, El Niño, kekeringan berkepanjangan, kebakaran, erupsi gunung berapi hingga potensi gempa merupakan risiko yang harus diantisipasi bersama.

Karena itu, KADIN Bali mendorong sektor swasta mengambil bagian melalui program CSR untuk membantu masyarakat ketika bencana terjadi.

“Melalui CSR ini KADIN mendorong betul-betul bisa ambil bagian, meringankan kehadiran negara. Bukan berarti negara tidak hadir. Negara sudah sangat hadir, kita yang harus bergotong royong,” tegasnya.

Baca Juga:  Tumpek Krulut, Wali Kota Jaya Negara Pimpin Persembahyangan Bersama dan Tinjau Layanan Cek Kesehatan Gratis

Menurut Ariandi, pemerintah, BUMN, dunia usaha, dan masyarakat tidak seharusnya berjalan sendiri-sendiri. Masing-masing memiliki kemampuan dan peran yang dapat dikolaborasikan dalam menghadapi berbagai persoalan.

“Intinya kan semua mendapat peran,” katanya.

Ariandi juga mendorong agar kepedulian sosial dunia usaha tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Setiap perusahaan, menurutnya, perlu menyadari bahwa keberadaan dan aktivitas bisnisnya tidak terlepas dari lingkungan sosial tempat perusahaan beroperasi.

Karena itu, kontribusi CSR perlu diarahkan secara lebih nyata, terbuka, dan terukur.

Ia mencontohkan perusahaan yang memiliki unit usaha di Bali. Meskipun keputusan CSR berada pada tingkat pusat atau holding, menurut Ariandi, unit usaha yang beroperasi di Bali juga memiliki tanggung jawab untuk memberikan kontribusi terhadap masyarakat dan lingkungan setempat.

“Yang kami tanya untuk Bali khususnya, yang di Bali sumbernya siapa? Apa untung Anda? Kalau swasta 1 persen, kalau itu 3 persen,” ujarnya.

Ariandi menekankan, pendekatan tersebut bukan untuk menyalahkan atau menuduh perusahaan. Sebaliknya, KADIN ingin membangun kesadaran bahwa dunia usaha memiliki potensi besar untuk berkontribusi dalam pembangunan dan penanganan persoalan sosial.

Menurut Ariandi, tantangan terbesar bukan terletak pada ada atau tidaknya potensi, tetapi bagaimana seluruh potensi tersebut diorganisasi dan digerakkan secara bersama-sama.

Karena itu, KADIN sebagai organisasi yang menaungi dunia usaha memiliki posisi strategis untuk membangun kesadaran tersebut.

“Kita mengembalikan jiwa patriotismenya, kesadaran solidaritas, rasa persatuan dan kesatuannya,” katanya.

Ia menilai pendekatan persuasif dan kolaboratif jauh lebih penting daripada saling menuduh. Dunia usaha perlu diajak memahami bahwa keberhasilan bisnis juga tidak terlepas dari peran negara dalam menyediakan infrastruktur, regulasi, keamanan, serta berbagai fasilitas pendukung kegiatan ekonomi.

Di sisi lain, pemerintah dan masyarakat juga membutuhkan kontribusi dunia usaha ketika menghadapi persoalan sosial maupun bencana.

“Semua potensinya ada, tinggal mengorganize. Nah, bahkan di situlah peran KADIN, karena sebagai induk organisasi,” ujar Ariandi.

Dengan pendekatan tersebut, KADIN Bali ingin mendorong terbentuknya ekosistem dunia usaha yang tidak hanya kuat secara ekonomi, tetapi juga memiliki solidaritas sosial dan kepedulian terhadap Bali.

Penulis/Editor: I Nyoman Arta Wirawan
Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here