Dies Natalis ke-42, Warmadewa Didorong Tak Sekadar Cetak Sarjana, tapi Siapkan Lulusan Siap Kerja

0
1070
Foto: Koordinator Pengembangan Kurikulum (KPK) Prodi Magister Hukum Fakultas Pascasarjana Universitas Warmadewa, Dr. I Wayan Rideng, S.H., M.H., saat menyampaikan pandangannya mengenai tantangan perguruan tinggi, penguatan kompetensi mahasiswa, serta pentingnya kolaborasi perguruan tinggi dengan pemerintah daerah dan dunia usaha, Senin (7/9/2026).

DENPASARDies Natalis ke-42 Universitas Warmadewa menjadi momentum untuk melakukan evaluasi terhadap perjalanan perguruan tinggi sekaligus membaca tantangan pendidikan tinggi di masa depan. Dengan jumlah mahasiswa yang mencapai hampir 14 ribu orang, Warmadewa dinilai perlu terus memperkuat kualitas Tridharma Perguruan Tinggi serta memastikan lulusannya memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.

Hal tersebut disampaikan Koordinator Pengembangan Kurikulmu (KPK) Prodi Magister Hukum Fakultas Pascasarjana Universitas Warmadewa, Dr. I Wayan Rideng, S.H., M.H. Menurutnya, peringatan Dies Natalis tidak seharusnya hanya dimaknai sebagai perayaan bertambahnya usia, tetapi juga menjadi momentum untuk melihat kembali capaian, melakukan evaluasi, serta menyiapkan strategi menghadapi tantangan ke depan.

“Bisa dimaknai sebagai ulang tahun, membawa beberapa sisi. Sisi yang pertama adalah bahwa kita melihat kilas balik, evaluasi, monitoring terhadap apa yang sudah diperbuat sebelumnya. Lalu tantangan ke depan seperti apa,” ujar Rideng.

BACA JUGA:

> Ulang Tahun Made Ariandi, KADIN Bali Perkuat Kebersamaan dan Kepedulian Sosial

Menurut Rideng, dengan student body hampir 14 ribu mahasiswa, Universitas Warmadewa menghadapi dinamika yang cukup kompleks dalam pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi. Kondisi tersebut menuntut kesiapan sumber daya manusia serta pengelolaan perguruan tinggi yang semakin adaptif.

Rideng menilai tantangan perguruan tinggi saat ini tidak cukup hanya menghasilkan lulusan dengan gelar akademik. Perguruan tinggi juga harus mampu membekali mahasiswa dengan kompetensi tambahan atau upskill yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.

“Bagaimana sebenarnya tidak saja mencetak para sarjana, tetapi mampu menyiapkan upskill untuk bisa diterima di bursa lapangan kerja. Inilah menjadi tantangan tersendiri,” tegasnya.

Karena itu, keberadaan program studi dan fakultas yang mendapat kepercayaan masyarakat harus dibarengi dengan penguatan kualitas penyelenggaraan pendidikan. Menurut Rideng, diperlukan kolaborasi antara yayasan sebagai penyelenggara, rektorat sebagai pengelola, serta berbagai pihak terkait untuk menjawab tantangan tersebut.

Rideng juga melihat persaingan perguruan tinggi saat ini semakin dinamis, termasuk dengan perkembangan teknologi informasi (IT). Kondisi tersebut menuntut perguruan tinggi untuk terus beradaptasi tanpa menghilangkan hakikat proses pembelajaran.

Di sisi lain, akses pendidikan bagi masyarakat yang memiliki keterbatasan ekonomi tetapi mempunyai minat tinggi untuk melanjutkan pendidikan juga menjadi perhatian.

Baca Juga:  Sekda Kota Denpasar Hadiri Smoke-Free Fun Walk 2026

“PTS di Bali itu cukup kompetitif. Bagi masyarakat yang, dalam tanda petik, kurang mampu tetapi memiliki minat yang tinggi, ini juga harus disesuaikan, tetapi tanpa mengurangi hakikat proses pembelajaran,” ujarnya.

Menurutnya, tantangan tersebut membutuhkan kolaborasi yang lebih kuat antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat.

Salah satu bentuk kolaborasi yang dapat diperkuat adalah pelaksanaan KKN tematik. Rideng menilai KKN tidak semestinya hanya menjadi kegiatan akademik mahasiswa, tetapi juga dapat dirancang untuk memberikan kontribusi nyata terhadap kebutuhan masyarakat dan program pemerintah daerah.

“Peran dalam arti misalnya bagaimana pelaksanaan KKN yang tematik, memiliki kontribusi terhadap lembaga dan juga pemerintah daerah,” katanya.

Dengan pola tersebut, perguruan tinggi dapat semakin dekat dengan persoalan riil yang dihadapi masyarakat. Mahasiswa juga memperoleh kesempatan mengaplikasikan ilmu yang diperoleh selama proses pembelajaran.

Reporter: Wirawan
Editor: I Nyoman Arta Wirawan

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here