Prabowo Luncurkan PLTS 100 GWp di Jembrana, Bali Jadi Titik Awal Kemandirian Energi Nasional

0
1020
Presiden Prabowo meluncurkan PLTS 100 GWp di Jembrana Bali
Foto: Kedatangan Presiden Prabowo Subianto meluncurkan dan melakukan groundbreaking Program PLTS 100 GWp di Monumen Operasi Lintas Laut Jawa-Bali, Gilimanuk, Kabupaten Jembrana, Bali, Selasa (25/8/2026). (foto Ist.)

JEMBRANA, KEN-KEN KHABARE – Presiden RI Prabowo Subianto meluncurkan sekaligus melakukan groundbreaking Program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 100 gigawatt peak (GWp) di Monumen Operasi Lintas Laut Jawa-Bali, Gilimanuk, Kabupaten Jembrana, Selasa (25/8/2026).

Peluncuran program strategis nasional tersebut menempatkan Jembrana, Bali, sebagai titik awal pembangunan energi surya berskala besar untuk memperkuat kemandirian dan ketahanan energi Indonesia.

Kedatangan Presiden Prabowo di lokasi sekitar pukul 15.30 WITA disambut antusias masyarakat dan pelajar yang berada di sepanjang jalur menuju lokasi kegiatan. Sejumlah pejabat negara turut mendampingi Presiden, di antaranya Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi dan Menteri Koperasi Ferry Juliantono.

Program PLTS 100 GWp merupakan bagian dari Program Kerja Prioritas Nasional Klaster Kemandirian Energi dan Air. Pemerintah menargetkan keseluruhan kapasitas tersebut dapat dibangun hingga 2029 sebagai bagian dari upaya mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil.

Presiden Prabowo sebelumnya menegaskan pemerintah tidak ingin menjadikan pembangunan energi surya sekadar sebagai rencana jangka panjang. Target 100 GW tersebut ditargetkan dapat direalisasikan dalam tiga tahun.

“Kita akan membangun 100 gigawatt dan kita tidak main-main dan target kita adalah 100 gigawatt dalam tiga tahun,” tegas Prabowo dalam peluncuran program tersebut.

Program pembangunan PLTS tersebut akan dilakukan secara bertahap. Pemerintah menargetkan kapasitas 30 GWp dibangun pada 2026 sekaligus mendorong penghentian 13 GW pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD).

Tahapan pengembangan program mencakup 17 GWp pada tahap pertama, 18 GWp pada tahap kedua dan 30 GWp pada tahap ketiga.

Pada peluncuran dan groundbreaking tahap awal di Jembrana, kapasitas proyek yang ditampilkan mencapai sekitar 5,3 GWp yang tersebar di sejumlah wilayah Indonesia.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebut total kebutuhan investasi untuk merealisasikan program PLTS 100 GWp mencapai sekitar 71,3 miliar dolar AS atau setara lebih dari Rp1.140 triliun.

Besarnya nilai investasi tersebut menunjukkan bahwa transisi energi tidak hanya berkaitan dengan pembangunan pembangkit, tetapi juga membuka ruang bagi pertumbuhan industri pendukung, investasi, teknologi dan penciptaan lapangan kerja baru.

Dalam program tahap awal tersebut, Bali juga mendapatkan perhatian khusus. Pemerintah menyiapkan kapasitas PLTS sekitar 1.000 MW yang dilengkapi sistem penyimpanan energi atau baterai.

Menurut Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, pembangunan di Bali menjadi bagian dari groundbreaking tahap awal program PLTS 100 GWp.

Kehadiran kapasitas energi surya yang besar di Bali memiliki arti strategis. Sebagai salah satu destinasi pariwisata utama Indonesia, kebutuhan energi Bali terus berkembang seiring pertumbuhan aktivitas ekonomi, pariwisata, industri kreatif dan mobilitas masyarakat.

Pengembangan energi terbarukan juga dapat menjadi bagian dari transformasi Bali menuju pariwisata yang lebih berkelanjutan, terutama ketika kebutuhan terhadap energi bersih semakin menjadi perhatian dunia.

Pemerintah mencatat Indonesia memiliki potensi energi surya sekitar 3.294 GWp. Namun, kapasitas PLTS yang telah terpasang hingga April 2026 baru sekitar 1,5 GWp.

Kesenjangan antara potensi dan kapasitas terpasang tersebut menjadi salah satu alasan pemerintah mendorong pembangunan PLTS secara lebih masif.

Program 100 GWp diharapkan menjadi langkah konkret untuk mengoptimalkan potensi energi matahari yang dimiliki Indonesia sekaligus memperkuat bauran energi baru terbarukan.

Baca Juga:  Isi Galungan, Desa Adat Pemanis Gelar Ritual Tradisi Enam Bulanan

Pembangunan tersebut juga diproyeksikan memberikan efisiensi biaya listrik sekitar Rp73,9 triliun per tahun apabila program 100 GWp terealisasi sesuai target pemerintah.

Dampak program PLTS 100 GWp tidak hanya diukur dari tambahan kapasitas pembangkit listrik.

Pemerintah memproyeksikan program tersebut dapat menjadi mesin pertumbuhan ekonomi baru melalui investasi pada pembangkit, baterai, jaringan listrik serta penguatan industri solar photovoltaic (solar PV) dalam negeri.

Program transisi energi tersebut juga diproyeksikan membuka lapangan kerja dalam jumlah besar.

Berdasarkan paparan pemerintah, pengembangan PLTS 100 GWp dapat menciptakan peluang pekerjaan dari sektor konstruksi hingga manufaktur. Sementara Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034 secara keseluruhan diproyeksikan menciptakan sekitar 1,7 juta lapangan kerja, dengan lebih dari 760 ribu di antaranya berpotensi menjadi green jobs.

Bagi Bali, peluncuran program PLTS 100 GWp di Jembrana memiliki makna lebih luas daripada sekadar seremoni pembangunan pembangkit energi baru terbarukan.

Momentum tersebut dapat menjadi bagian dari penguatan ekosistem energi bersih Bali yang berkaitan dengan pengembangan kendaraan listrik, infrastruktur pengisian daya, pariwisata berkelanjutan, industri hijau hingga aktivitas ekonomi masyarakat.

Apalagi Bali memiliki posisi strategis sebagai destinasi pariwisata internasional yang semakin dituntut menghadirkan konsep pembangunan rendah emisi dan ramah lingkungan.

Dengan dukungan energi terbarukan, transformasi menuju ekonomi hijau dapat dilakukan secara lebih terintegrasi, mulai dari sumber energi, transportasi, kawasan pariwisata hingga sektor usaha.

Peluncuran PLTS 100 GWp dari Gilimanuk akhirnya bukan hanya menjadi catatan tentang kedatangan Presiden Prabowo ke Bali.

Dari ujung barat Pulau Bali tersebut, pemerintah memulai langkah besar menuju target energi surya nasional sekaligus menegaskan arah baru Indonesia: memanfaatkan kekayaan energi matahari untuk membangun kemandirian energi, memperkuat ekonomi dan menciptakan masa depan yang lebih berkelanjutan.

Editor: I Nyoman Arta W
Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here