
DENPASAR, KEN-KEN — Pemerintah Kota Denpasar menggelar acara budaya tahunan bertajuk Melepas Matahari 2025 di kawasan Catur Muka, Rabu petang. Mengusung tema Bhineka Nusantara, acara ini diawali dengan doa bersama lintas agama, dilanjutkan pementasan ratusan penari di bawah koordinasi Sanggar Sakti Manca, dan ditutup dengan seremonial pelepasan burung merpati sebagai simbol harmoni.
Tema Bhineka Nusantara dipilih sebagai representasi keberagaman etnis, bahasa, agama, dan ekspresi seni yang hidup berdampingan di Kota Denpasar. Sebagai kota kreatif berwawasan budaya, Denpasar tidak hanya menjadi pusat administrasi dan ekonomi Bali, tetapi juga ruang temu identitas Nusantara yang berinteraksi secara dinamis membentuk estetika sosial harmonis.
Hadir langsung dalam acara tersebut Wali Kota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara, Wakil Wali Kota I Kadek Agus Arya Wibawa, Ketua DPRD Kota Denpasar I Gusti Ngurah Gede, Pj. Sekda Kota Denpasar I Gusti Ngurah Eddy Mulya, serta jajaran Forkompinda. Turut hadir pula Ketua TP PKK Kota Denpasar Ny. Sagung Antari Jaya Negara, Ketua GOW Ny. Ayu Kristi Arya Wibawa, Ketua Gatriwara Ny. Purnawati Ngurah Gede, dan Pj. Ketua DWP Ny. Suwandewi Eddy Mulya.

Wali Kota Jaya Negara menegaskan bahwa acara tahun ini dikemas berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. “Melepas Matahari kali ini digelar sederhana tanpa pesta kembang api. Harapannya, acara ini menjadi ruang ekspresi kesenian yang bisa dinikmati masyarakat Denpasar,” ujarnya. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada masyarakat, TNI/Polri, Forkompinda, DPRD, dan seluruh stakeholder atas dukungan terhadap pembangunan kota.
Lebih lanjut, Jaya Negara menekankan bahwa tahun 2026 mendatang persoalan sampah dan antisipasi banjir akan menjadi prioritas utama penanganan. “Harapannya di tahun 2026 ini Kota Denpasar bisa menjadi lebih baik lagi,” tambahnya.
Kepala Dinas Kebudayaan Kota Denpasar Raka Purwantara menjelaskan, pentas budaya dipusatkan di kawasan Catur Muka dan dilanjutkan dengan beragam persembahan di sisi selatan Lapangan Puputan Badung. Sekitar 2000 penari di bawah koordinasi Sanggar Tari Caksu Praba Cita ikut memeriahkan acara. Filosofi garapan inaugurasi menekankan seni pertunjukan sebagai medium lintas budaya, dengan pesan Tat Twam Asi bahwa perbedaan adalah cermin kesatuan.
Selain tarian inaugurasi, acara juga menampilkan Gong Kebyar Wanita dan Anak-Anak calon duta PKB 2026, dolanan tradisional, serta kesenian etnis Nusantara seperti Saman (Aceh), Jaranan Jawa, kesenian Borneo, Tionghoa, dan Jejangeran Bali. Semua dipadukan dalam konsep Vasudaiva Kutumbakam — semangat bahwa seluruh dunia adalah satu keluarga.
Editor: Ken


