Kota Tabanan atau Kota Singasana? Dua Identitas, Satu Kebanggaan

0
1045
Foto: Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Tabanan, Ir. Gde Made Partana, S.T., M.Si. (Ist)

TABANAN, KEN-KENKHABARE — Penataan kawasan Jalan Gajah Mada, Tabanan, tidak sekadar menghadirkan wajah kota yang lebih tertata dan menarik. Penataan tersebut juga menjadi ruang untuk memperkuat identitas, meneguhkan kebanggaan, serta merefleksikan perjalanan sejarah Kabupaten Tabanan.

Keberadaan tulisan “Kota Tabanan” yang masih ditampilkan di kawasan tersebut belakangan menjadi perhatian dan memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat. Hal ini berkaitan dengan penggunaan nama “Singasana” sebagai identitas pusat pemerintahan Kabupaten Tabanan saat ini.

Untuk memahami hal tersebut, identitas suatu daerah perlu dilihat secara lebih luas. Identitas tidak hanya terbentuk melalui penamaan administratif, tetapi juga tumbuh dari sejarah, perkembangan wilayah, nilai-nilai budaya, dan ingatan kolektif masyarakat.

Melalui penataan Jalan Gajah Mada yang menghadirkan lima tulisan, yakni Aman Unggul Madani, Tabanan Era Baru, Jayaning Singasana, Kota Singasana, dan Kota Tabanan, ruang publik tersebut menampilkan beragam representasi identitas daerah. Setiap tulisan membawa pesan mengenai semangat pembangunan, karakter, dan perjalanan Tabanan dari masa ke masa.

Baca Juga:  TP PKK Kota Denpasar Gelar Rakor 2026, Perkuat Sinergi Program hingga Edukasi Sampah Berbasis Sumber

Kota Singasana merepresentasikan identitas yang dikaitkan dengan pusat pemerintahan Kabupaten Tabanan saat ini. Sementara itu, Kota Tabanan menjadi bagian dari identitas historis dan perjalanan perkembangan daerah yang tetap memiliki nilai tersendiri dalam ingatan masyarakat.

Kedua penyebutan tersebut tidak harus ditempatkan dalam posisi yang saling berhadapan. Sebaliknya, keberadaannya dapat menjadi kesempatan untuk memperkaya pemahaman masyarakat tentang sejarah, perkembangan, dan karakter Kabupaten Tabanan.

Penataan ruang publik pun memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar estetika. Ruang publik dapat menjadi media komunikasi visual yang menyampaikan pesan tentang jati diri daerah, arah pembangunan, serta nilai-nilai yang ingin diwariskan kepada generasi mendatang.

Karena itu, merawat jejak masa lalu sekaligus memperkuat identitas masa kini merupakan bagian dari upaya membangun daerah yang berkarakter. Kemajuan tidak mengharuskan suatu daerah meninggalkan sejarahnya. Justru, pengalaman masa lalu dapat menjadi pijakan untuk melangkah menuju masa depan.

Baca Juga:  Pemkot Denpasar Ngaturang Bhakti Penganyar Serangkaian Pujawali Ngusaba Kedasa di Pura Ulun Danu Batur

Tabanan memiliki sejarah, Singasana memiliki identitas, dan keduanya menjadi bagian dari kebanggaan masyarakat terhadap daerahnya.

Beragam tulisan yang hadir di ruang publik diharapkan dapat memperkuat rasa memiliki masyarakat sekaligus menumbuhkan pemahaman bahwa identitas Tabanan terbentuk melalui perjalanan panjang yang terus berkembang.

Berbeda tulisan, satu kebanggaan. Beragam identitas, satu Tabanan.

Editor: I Nyoman Arta Wirawan
Sumber: Prokopimtabanan
Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here