Tim Banggar DPR RI Kunjungi Bali, Bupati Badung Harap Pembiayaan Infrastruktur Diperjuangkan

0
1064
Foto: Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa mendampingi Gubernur Bali Wayan Koster menerima kunjungan kerja Tim Banggar DPR RI di Gedung Wiswa Sabha Utama, Kantor Gubernur Bali, Denpasar, Jumat (2/10/2026).

DENPASAR, KEN-KENKHABARE – Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa mendampingi Gubernur Bali Wayan Koster menerima kunjungan kerja Tim Badan Anggaran (Banggar) DPR RI di Gedung Wiswa Sabha Utama, Kantor Gubernur Bali, Jumat (2/10/2026).

Kunjungan kerja tersebut menjadi bagian dari upaya Banggar DPR RI menghimpun masukan, saran, dan rekomendasi terkait kebijakan penerimaan serta pengalokasian dana transfer ke daerah dalam APBN.

Kegiatan turut dihadiri Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan Kementerian Keuangan RI beserta jajaran, perwakilan Direktorat Jenderal Pajak, Bea dan Cukai, Kekayaan Negara, Perbendaharaan Provinsi Bali, Bank Indonesia, serta para bupati dan wali kota se-Bali. Hadir pula Sekretaris Daerah Kabupaten Badung I.B. Surya Suamba.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa menyampaikan masukan mengenai kebutuhan pembiayaan pembangunan infrastruktur di Bali, khususnya infrastruktur yang mendukung konektivitas dan daya saing pariwisata.

Menurutnya, sektor pariwisata masih menjadi salah satu lokomotif perekonomian Bali sehingga membutuhkan dukungan infrastruktur yang memadai.

“Intinya, kami di daerah sangat berharap kunjungan Banggar ini dapat memperjuangkan pembiayaan terkait penanganan infrastruktur di Bali. Infrastruktur sangat berdampak terhadap peningkatan daya saing pariwisata kami yang sampai hari ini menjadi salah satu lokomotif ekonomi Bali,” ujar Adi Arnawa.

Baca Juga:  Wali Kota Jaya Negara Hadiri Prosesi Ngratep, Melaspas dan Pasupati Pelawatan Ida Bhatara Pura Puseh Sumerta

Bupati menjelaskan, Kabupaten Badung memiliki posisi strategis dalam perekonomian Bali. Tingginya aktivitas ekonomi dan pariwisata, khususnya di wilayah Badung Selatan, juga berpengaruh terhadap kebutuhan infrastruktur dan penanganan kemacetan.

Saat ini, Pemkab Badung tengah membangun sejumlah ruas jalan strategis dengan nilai pembiayaan sekitar Rp2,8 triliun melalui skema pinjaman daerah.

Pembangunan tersebut diarahkan untuk mengatasi titik-titik kemacetan atau bottleneck sekaligus memperkuat konektivitas kawasan pariwisata.

Adi Arnawa berharap pemerintah pusat melalui Kementerian Keuangan dapat memberikan dukungan dan fasilitasi terhadap pembangunan infrastruktur strategis daerah.

Menurutnya, dukungan tersebut tidak semata berupa tambahan transfer ke daerah, tetapi juga dapat berbentuk kebijakan dan fasilitasi pembiayaan.

Baca Juga:  PPN Pengambengan Dikembangkan Jadi Pusat Ekonomi Kelautan Bali, Koster: Tingkatkan Kesejahteraan Nelayan

Hal tersebut terutama diperlukan untuk pembangunan infrastruktur yang memiliki konektivitas dengan jalan nasional maupun kawasan destinasi pariwisata.

Dengan konektivitas yang lebih baik, pembangunan infrastruktur diharapkan dapat mendukung mobilitas masyarakat sekaligus memperkuat akses menuju kawasan-kawasan ekonomi dan pariwisata di Bali.

Sementara itu, Ketua Tim Kunjungan Kerja Banggar DPR RI H. Syarief Abdullah Alkadrie, S.H., M.H., mengatakan kunjungan kerja tersebut merupakan bagian dari fungsi konstitusional Banggar DPR RI di bidang anggaran.

Kunjungan bertujuan memperoleh gambaran langsung mengenai pelaksanaan APBN di daerah, transfer ke daerah, kebijakan fiskal, pengendalian inflasi, perpajakan, serta pengelolaan keuangan daerah.

Menurut Syarief, kebijakan transfer ke daerah pada 2026 diarahkan pada belanja yang produktif, terukur, dan akuntabel untuk mendukung pelayanan dasar, daya saing daerah, ketahanan pangan, serta prioritas pembangunan nasional.

Pihaknya juga menekankan pentingnya memastikan setiap rupiah dana transfer memberikan manfaat ekonomi dan sosial yang optimal bagi masyarakat.

Syarief menyampaikan, ekonomi Bali pada triwulan II 2026 tumbuh 5,78 persen secara tahunan, di atas pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29 persen.

Namun, struktur ekonomi Bali masih cukup bergantung pada sektor akomodasi dan makan minum yang berkontribusi sekitar 21,91 persen terhadap PDRB.

Karena itu, diversifikasi ekonomi serta penguatan UMKM, pertanian, ekonomi kreatif, dan sektor lainnya dinilai penting untuk memperkuat ketahanan ekonomi Bali.

Sejumlah tantangan turut menjadi perhatian dalam kunjungan tersebut, antara lain pengendalian inflasi, konektivitas dan kemacetan, kualitas infrastruktur, pengelolaan sampah dan lingkungan, ketersediaan air, serta perluasan manfaat pariwisata bagi masyarakat lokal.

Penguatan penerimaan negara, kepatuhan wajib pajak, integrasi data pusat dan daerah, serta fasilitasi ekspor produk UMKM dan industri kreatif juga menjadi bagian pembahasan.

Syarief menegaskan, APBD Provinsi Bali Tahun Anggaran 2026 perlu diarahkan sebagai instrumen transformasi ekonomi daerah melalui belanja produktif, penguatan konektivitas, pelayanan dasar, pariwisata berkualitas dan berkelanjutan, serta pengembangan sektor ekonomi di luar pariwisata.

“Kami berharap kunjungan kerja ini dapat menghasilkan informasi, evaluasi, dan rekomendasi yang konkret bagi Badan Anggaran DPR RI, khususnya dalam memperkuat efektivitas transfer ke daerah serta sinkronisasi APBN dan APBD,” pungkas Syarief.

Pertemuan tersebut menjadi ruang bagi pemerintah daerah se-Bali untuk menyampaikan kebutuhan pembangunan kepada Banggar DPR RI, terutama terkait dukungan pembiayaan infrastruktur dan kebijakan fiskal yang dapat memperkuat konektivitas serta perekonomian daerah.

Editor: I Nyoman Arta Wirawan
Sumber: ProkopimBdg
Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here