
Gerakan Tanam Padi di Subak Tanah Yeng Jadi Langkah Awal, Pemkab Badung Siapkan Perluasan 194 Hektare
BADUNG, KEN-KEN KHABARE – Pemerintah Kabupaten Badung mulai mendorong modernisasi sektor pertanian melalui Gerakan Tanam Padi dengan metode Pertanian Modern Advanced Agriculture System (PMAAS) di Subak Tanah Yeng, Desa Sedang, Kecamatan Abiansemal, Sabtu (29/8/2026).
Program tersebut dipimpin langsung Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa dan diarahkan untuk meningkatkan produktivitas padi, menjaga keberlanjutan lahan pertanian, sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah di tengah keterbatasan lahan.
Gerakan tanam tersebut juga dirangkaikan dengan penandatanganan kerja sama antara Perumda Pasar dan Pangan Mangu Giri Sedana dengan Subak Tanah Yeng sebagai offtaker atau penjamin pasar hasil pertanian.
Pada kesempatan itu, Adi Arnawa menyerahkan bantuan benih padi kepada Pekaseh serta pupuk kepada Pangliman sebagai modal awal penerapan budidaya dengan teknologi PMAAS.
“Astungkara, pada hari yang baik ini kita dapat melaksanakan penanaman padi berbasis teknologi baru melalui PMAAS. Saya minta setelah menanam, jangan kemudian ditinggalkan. Ini harus dikawal terus oleh seluruh pihak untuk mengantisipasi tantangan lapangan dan memastikan teknologi ini memberikan hasil riil,” tegas Adi Arnawa.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Badung Anak Agung Ngurah Raka Sukadana menjelaskan, PMAAS merupakan program sinergis antara Kementerian Pertanian RI, Pemerintah Provinsi Bali, Pemerintah Kabupaten Badung, kelembagaan petani, dan BBRMP Bali.
Penerapan metode tersebut dilakukan dengan standar budidaya yang lebih terukur, mulai dari pengolahan dan kesiapan lahan, tata kelola air, pemupukan, pemeliharaan hingga pengendalian hama.
Pengawasan juga memanfaatkan data satelit dan sensor serta dilakukan secara intensif oleh penyuluh pertanian lapangan hingga memasuki tahap panen.
“Dengan pengawalan ketat ini, kami menargetkan produktivitas padi melonjak hingga 10-12 ton per hektar,” ungkap Raka Sukadana.
Gerakan tanam di Subak Tanah Yeng kali ini mencakup lahan seluas 50 hektare, dengan proyeksi produksi mencapai sekitar 500-550 ton Gabah Kering Panen (GKP).
Selain penerapan di Subak Tanah Yeng, Pemkab Badung juga menyiapkan lahan percontohan atau demplot masing-masing seluas 5 are di seluruh kecamatan se-Badung.
Demplot tersebut menjadi ruang edukasi bagi petani untuk melihat secara langsung penerapan metode pertanian modern dengan pendampingan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL).
Pemkab Badung juga telah memetakan keberlanjutan program melalui dukungan anggaran pada 2026.
Dari APBD Perubahan Kabupaten Badung 2026, dialokasikan Rp1 miliar untuk pengembangan lahan seluas 40 hektare di empat kecamatan.
Rinciannya:
- Abiansemal: 16 hektare
- Mengwi: 10 hektare
- Kuta Utara: 10 hektare
- Petang: 4 hektare
Selain itu, melalui APBN Kementerian Pertanian RI 2026, direncanakan perluasan program hingga 194 hektare di wilayah Kabupaten Badung.
Modernisasi pertanian, menurut Adi Arnawa, tidak boleh berhenti pada peningkatan produksi. Aspek pemasaran dan kepastian harga bagi petani juga menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem pertanian.
Karena itu, Bupati menegaskan Perumda Pasar harus hadir sebagai penyerap hasil produksi petani dengan harga yang menguntungkan.
“Perumda Pasar harus menyiapkan anggaran untuk menyerap produk petani kita. Ini ekosistem pasar yang pasti,” imbuhnya.
Dengan pola tersebut, petani diharapkan tidak hanya mendapatkan manfaat dari peningkatan produktivitas, tetapi juga memperoleh kepastian pasar setelah masa panen.
Adi Arnawa menegaskan modernisasi pertanian merupakan bagian dari strategi Pemkab Badung dalam menjaga sektor pertanian tetap produktif sekaligus memberikan kenyamanan bagi petani.
Pemkab Badung juga telah menggulirkan sejumlah program yang diarahkan untuk memberikan insentif kepada keluarga petani, antara lain beasiswa pendidikan S1 bagi anak petani, pembebasan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), serta akses kesehatan dan pendidikan gratis.
Bupati juga meminta aparatur desa, penyuluh, dan pengurus subak memastikan informasi mengenai berbagai program tersebut dapat diterima secara merata oleh para petani penggarap.
Melalui integrasi antara teknologi, produksi, pendampingan, dan kepastian pasar, PMAAS diharapkan dapat menjadi salah satu model pertanian modern berkelanjutan di Bali.
Program tersebut sekaligus diarahkan untuk menjaga keseimbangan antara peningkatan produksi pangan dan kesejahteraan petani di tengah tekanan terhadap ketersediaan lahan pertanian. Kegiatan turut dihadiri anggota DPRD Badung I Gede Budiyoga mewakili Ketua DPRD, Ketua Komisi II DPRD Badung Made Sada, perwakilan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, Asisten Perekonomian dan Pembangunan I Made Agus Aryawan, pimpinan OPD terkait, Kepala BBRMP Bali, Direktur Utama Perumda Pasar, Majelis Madya Subak, serta jajaran Tripika, Perbekel, dan Bendesa Adat Sedang.
Editor: I N Arta W


