
“Integrasikan Narasi Budaya dan Pelayanan Wisata Bahari Berbasis Kearifan Lokal“
BADUNG, KEN-KEN – Universitas Warmadewa melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat bertajuk “Capacity Building for Bendega as Marine Ecotourism Ambassadors: Integrating Cultural Narratives and Marine Tourism Services” di Jaba Pura Segara Bendega Canggu, Jalan Nelayan, Desa Canggu, Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung, Senin (6/7/2026).
Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kapasitas Krama Bendega agar mampu berperan sebagai duta ekowisata bahari. Melalui kegiatan tersebut, Bendega tidak hanya didorong memberikan pelayanan kepada wisatawan, tetapi juga mampu menyampaikan nilai budaya, tradisi, dan kearifan lokal masyarakat nelayan Bali.
Kegiatan ini menghadirkan sejumlah narasumber dari kalangan akademisi serta dunia usaha dan dunia industri. Mereka yakni Dr. Drs. I Ketut Darma, M.Si., dosen Universitas Warmadewa; Dr. Mohd Raziff Jamaluddin, dosen Universiti Teknologi MARA Malaysia; serta I Dewa Gede Boyke Sanjaya, General Manager ZIN Canggu Resort & Villas.
Dalam sesi berbagi pengalaman, para narasumber membahas penguatan kelembagaan Bendega, pengembangan layanan wisata bahari, penyusunan paket wisata, serta peluang kerja sama antara masyarakat nelayan dan industri pariwisata di kawasan Canggu.
Pada kesempatan tersebut, tim dosen Universitas Warmadewa juga menyerahkan bantuan 50 jaket keselamatan kepada 50 anggota Bendega Canggu sebagai bentuk dukungan terhadap peningkatan standar keselamatan wisata bahari.
Dr. Drs. I Ketut Darma, M.Si., menyampaikan hasil kajian dan gagasan pengembangan ekowisata berbasis Bendega Adat. Ia menekankan pentingnya menempatkan Bendega sebagai pelaku utama dalam pengelolaan wisata bahari dengan tetap menjaga fungsi sosial, budaya, religius, dan konservasi lingkungan.
Sementara itu, Dr. Mohd Raziff Jamaluddin dari Universiti Teknologi MARA Malaysia berbagi pengetahuan dan pengalaman mengenai pengembangan ekowisata berkelanjutan, peningkatan kapasitas masyarakat, serta pentingnya pelayanan wisata yang berkualitas. Kehadiran akademisi dari Malaysia tersebut juga memperkuat kerja sama dan pertukaran pengetahuan internasional dalam pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat.
Dari sisi industri pariwisata, I Dewa Gede Boyke Sanjaya memberikan perspektif praktis terkait kebutuhan dan harapan wisatawan, standar pelayanan, pengembangan pengalaman wisata yang autentik, serta peluang pemasaran paket wisata Bendega melalui jaringan hotel dan vila di kawasan Canggu.
Bendega sebagai Duta Ekowisata Bahari
Bendega merupakan lembaga tradisional masyarakat pesisir Bali yang memiliki fungsi ekonomi, sosial, budaya, religius, dan ekologis. Bendega tidak hanya terlibat dalam aktivitas penangkapan ikan, tetapi juga berperan menjaga tradisi, mengatur kehidupan masyarakat nelayan, serta melestarikan wilayah laut dan pesisir.
Melalui kegiatan ini, Krama Bendega didorong menjadi duta ekowisata bahari yang mampu menerima dan mendampingi wisatawan, menjelaskan kehidupan masyarakat nelayan, memperkenalkan penggunaan jukung, menceritakan ritual sebelum melaut, serta menyampaikan nilai-nilai kearifan lokal yang berkaitan dengan pelestarian laut.
Kemampuan menyampaikan narasi budaya menjadi bagian penting dalam pengembangan ekowisata. Dengan demikian, wisatawan tidak hanya memperoleh pengalaman rekreasi, tetapi juga mendapatkan pengetahuan mengenai sejarah Bendega, Pura Segara, awig-awig, kehidupan Krama Bendega, serta filosofi Tri Hita Karana sebagai dasar hubungan harmonis antara manusia, Tuhan, dan lingkungan.
Selain narasi budaya, peningkatan kualitas pelayanan wisata bahari juga menjadi perhatian. Krama Bendega diberikan pemahaman mengenai keselamatan wisatawan, komunikasi dasar, kebersihan, penyusunan alur perjalanan wisata, penanganan keluhan, serta pelayanan yang ramah dan profesional.

Kembangkan Tiga Model Ekowisata
Kegiatan ini juga memperkenalkan tiga model ekowisata yang dapat dikembangkan oleh Bendega Adat Canggu.
Model pertama adalah Mina Wisata Melaut Adat, yakni kegiatan wisata yang mengajak wisatawan melaut bersama nelayan menggunakan jukung tradisional. Dalam kegiatan ini, wisatawan dapat menyaksikan doa sebelum melaut, mempelajari teknik penangkapan ikan, serta mengolah hasil tangkapan bersama Krama Bendega.
Model kedua adalah Wisata Konservasi Pesisir, yang meliputi edukasi mengenai awig-awig, zonasi penangkapan ikan, pengenalan rumpon, kebersihan pantai, serta perlindungan ekosistem laut dan pesisir.
Model ketiga adalah Wisata Kuliner dan Olahan Hasil Laut. Melalui model ini, wisatawan dapat mengikuti proses pengolahan hasil tangkapan menjadi makanan maupun produk olahan, seperti ikan asap, abon ikan, kerupuk ikan, dan paket oleh-oleh hasil laut.
Ketiga model tersebut diharapkan dapat membuka sumber pendapatan tambahan bagi masyarakat nelayan, terutama ketika kondisi cuaca tidak memungkinkan mereka melaut. Selain itu, pengembangan ekowisata juga dapat memperkuat posisi Bendega sebagai pelaku ekonomi sekaligus penjaga budaya dan lingkungan pesisir.
Perkuat Kolaborasi Akademisi, Bendega, dan DUDI
Pelaksanaan kegiatan ini melibatkan Universitas Warmadewa, Universiti Teknologi MARA Malaysia, Bendega Adat Canggu, perangkat desa, tokoh adat, serta ZIN Canggu Resort & Villas sebagai mitra dunia usaha dan dunia industri.
Kolaborasi tersebut dinilai penting agar pengembangan ekowisata tidak hanya berhenti pada konsep akademik, tetapi juga dapat diterapkan sesuai kondisi masyarakat dan kebutuhan pasar pariwisata.
Perguruan tinggi memberikan dukungan kajian dan pendampingan, sedangkan mitra industri memberikan masukan terkait pelayanan, pemasaran, serta kebutuhan wisatawan. Dengan demikian, pengembangan ekowisata bahari berbasis Bendega dapat berjalan lebih terarah, realistis, dan berkelanjutan.
Kegiatan ini diharapkan menghasilkan kesepahaman mengenai model ekowisata yang akan diprioritaskan, meningkatkan kemampuan Krama Bendega, serta membangun kerja sama berkelanjutan antara masyarakat nelayan dan pelaku industri pariwisata.
Pengembangan ekowisata bahari di Canggu tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat, tetapi juga menjadi sarana menjaga identitas budaya, memperkuat kelembagaan adat, melestarikan lingkungan laut, serta mewariskan pengetahuan masyarakat nelayan kepada generasi berikutnya.
Editor: Ken


