ADWITI Resmi Diluncurkan di Bali, Dorong Wisata Spiritual dan Ekonomi Kerakyatan

0
100
Foto: Peresmian dan Pelantikan Pengurus Asosiasi Dharmawisata dan Tirtayatra Indonesia, (2/6) di aula Kantor Dinas Pariwisata Bali.

DENPASAR, KEN-KEN – Pembentukan Asosiasi Dharma Wisata dan Tirta Yatra Indonesia atau ADWITI di Bali bukan sekadar menghadirkan organisasi baru di sektor pariwisata.

Lebih dari itu, asosiasi ini diharapkan menjadi motor penggerak ekonomi kerakyatan melalui pengembangan wisata spiritual, dharma wisata, dan tirta yatra yang terintegrasi serta berpihak kepada pelaku usaha lokal.

ADWITI resmi diluncurkan dalam acara yang digelar di Kantor Dinas Pariwisata Provinsi Bali, Jalan Letjen S. Parman, Renon, Denpasar, Selasa (2/6/2026).

Peresmian tersebut dilakukan oleh anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia, Dr. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III, S.E., M.Si. atau AWK, yang juga menjabat sebagai Dewan Kehormatan ADWITI.

Dalam sambutannya, AWK menegaskan bahwa keberadaan ADWITI harus mampu membuka ruang ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat Bali.

Menurutnya, berbagai program wisata, termasuk study tour, dharma wisata, dan tirta yatra, harus memberikan manfaat langsung kepada UMKM lokal, pelaku transportasi, penyedia akomodasi, usaha katering, hingga sektor oleh-oleh khas daerah.

“Yang penting ekonomi berjalan. Kita cari celah untuk menghidupi masyarakat kita. Jangan sampai peluang ekonomi justru diambil pihak luar, sementara pelaku usaha lokal hanya menjadi penonton,” tegas AWK.

Foto: Sesi foto bersama peresmian dan pelantikan Pengurus ADWITI, (2/6), di Aula Dinas Pariwisata Bali.

Ia mengungkapkan, Bali saat ini memiliki peluang besar melalui dukungan pembiayaan dari pemerintah pusat. Dengan adanya program kredit sektor pariwisata yang mencapai sekitar Rp10,9 triliun, berbagai usaha pendukung wisata diyakini dapat berkembang lebih cepat dan memberikan dampak ekonomi yang lebih merata.

AWK juga menyoroti pentingnya menghidupkan kembali program-program perjalanan spiritual yang pernah dijalankan pemerintah. Menurutnya, dana negara semestinya dapat dimanfaatkan secara adil untuk mendukung perjalanan keagamaan seluruh umat beragama di Indonesia.

Baca Juga:  Gubernur Koster Harap Tahun Depan Jangkauan BBTF Lebih Luas

“Kalau umat lain memiliki program perjalanan spiritual ke tempat-tempat suci mereka, Bali juga harus mampu menjadi pusat perjalanan spiritual Hindu ke India, Nepal, Tibet, maupun destinasi sakral lainnya. Tugas saya adalah melakukan pendekatan dan memperjuangkan regulasinya,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua ADWITI, Surya Dharma, S.H., menjelaskan bahwa fokus awal organisasi bukan mengejar program besar dalam waktu singkat, melainkan membangun fondasi yang kuat melalui standarisasi layanan.

Menurut Surya, langkah pertama yang akan dilakukan adalah menata seluruh rantai pelayanan dalam program dharma wisata dan tirta yatra. Hal itu mencakup transportasi, katering, destinasi wisata, hingga sumber daya manusia, termasuk pemandu wisata.

“Kami ingin memastikan seluruh layanan memiliki standar kualitas yang jelas. Bus yang digunakan harus memenuhi standar keselamatan, guide harus memiliki kompetensi dan tata krama pelayanan yang baik, serta seluruh pelaku usaha yang terlibat wajib memiliki legalitas yang lengkap,” katanya.

Ia menegaskan, ADWITI hadir untuk menjawab berbagai persoalan yang selama ini menjadi kekhawatiran masyarakat, termasuk insiden perjalanan wisata yang pernah terjadi.

Baca Juga:  Wali Kota Jaya Negara Pimpin Apel Hari Lahir Pancasila di Denpasar, Ajak Semua Pihak Berkolaborasi Menuju Denpasar Maju

Karena itu, asosiasi akan melakukan kurasi dan seleksi ketat terhadap seluruh anggotanya agar mampu memberikan jaminan kualitas, keamanan, dan kenyamanan dalam penyelenggaraan program wisata.

Menurut Surya, persoalan utama sebenarnya bukan pada program study tour itu sendiri, melainkan bagaimana perputaran ekonomi dari kegiatan tersebut dapat dirasakan langsung oleh masyarakat Bali.

“Study tour hanyalah kendaraan. Yang paling penting adalah bagaimana perputaran ekonominya masuk ke Bali dan dinikmati masyarakat lokal. Karena itu diperlukan wadah yang bertanggung jawab, memiliki standar kualitas, dan mampu memberikan rekomendasi kepada pihak-pihak yang ingin menyelenggarakan program tersebut,” jelasnya.

Meski sempat menghadapi tantangan akibat berbagai kejadian di masa lalu, Surya menilai minat masyarakat terhadap program study tour, dharma wisata, maupun tirta yatra masih sangat tinggi.

Banyak sekolah, lembaga, dan komunitas dari dalam maupun luar Bali yang tetap menginginkan program tersebut berjalan kembali dengan sistem yang lebih profesional, aman, dan terstandarisasi.

Baca Juga:  Pimpin Peringatan Hari Lahir Pancasila 2026, Gubernur Koster Ajak Generasi Muda Pegang Teguh Ideologi Bangsa

Kehadiran ADWITI pun diharapkan menjadi tonggak baru pengembangan wisata spiritual nasional. Tidak hanya memperkuat identitas budaya dan keagamaan, tetapi juga menjadi instrumen untuk menggerakkan ekonomi rakyat.

Melalui asosiasi ini, pelaku UMKM, transportasi lokal, pemandu wisata, penyedia akomodasi, katering, hingga sektor oleh-oleh diharapkan dapat terlibat lebih luas dalam ekosistem wisata spiritual.

ADWITI juga diharapkan mampu memperkuat posisi Bali sebagai pusat wisata spiritual yang berdaya saing di tingkat nasional maupun internasional, dengan tetap menjunjung nilai budaya, dharma, profesionalisme, keselamatan, dan keberpihakan kepada masyarakat lokal.

Editor: Ken

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here