Desa Adat Denpasar Komitmen Dukung Penanganan Sampah Organik dari Sumber

0
259
Foto: Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara bersama Bendesa Adat Denpasar, I Gusti Ngurah Alit Wirakesumabsaat menghadiri sosialisasi pengolahan sampah berbasis sumber di Wantilan Setra Agung Badung, Desa Adat Denpasar, Minggu (19/4).

Sinergi adat dan dinas diperkuat, lahan penampungan kompos disiapkan untuk ruang terbuka hijau

DENPASAR, KEN-KEN – Komitmen penanganan sampah berbasis sumber terus mendapat dukungan dari berbagai pihak. Kali ini, dukungan datang dari Desa Adat Denpasar yang menyatakan kesiapan untuk memperkuat pengolahan sampah organik dari sumber sebagai bagian dari upaya bersama mengatasi persoalan sampah di Kota Denpasar.

Komitmen tersebut disampaikan Bendesa Adat Denpasar, I Gusti Ngurah Alit Wirakesuma, di hadapan Wali Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara, dalam kegiatan sosialisasi pengolahan sampah berbasis sumber yang digelar di Wantilan Setra Agung Badung, Desa Adat Denpasar, Minggu (19/4/2026).

Dalam kesempatan itu, Alit Wirakesuma menegaskan bahwa persoalan sampah merupakan tantangan bersama yang tidak bisa dibebankan hanya kepada pemerintah. Karena itu, penanganannya membutuhkan komitmen kolektif dari seluruh unsur, mulai dari pemerintah, lembaga adat, hingga masyarakat.

Baca Juga:  Wawali Arya Wibawa Apresiasi Aksi Peduli Lingkungan MPK SMAN 2 Denpasar di Pantai Mertasari

Menurutnya, sinergi antara unsur dinas dan adat merupakan kekuatan penting dalam mempercepat penanganan sampah di lapangan. Terlebih, Desa Adat Denpasar yang mewilayahi 106 banjar memiliki cakupan wilayah yang luas, sehingga memerlukan kesepakatan dan kesepahaman yang kuat di tingkat masyarakat adat.

“Tentunya kami berkomitmen untuk penanganan sampah, utamanya sampah organik dari sumber, dan ini juga sudah disepakati oleh para Prajuru Banjar Adat yang hadir. Harapan kami, penanganan sampah organik di sumber dapat berjalan optimal,” ujarnya.

Alit Wirakesuma menjelaskan, saat ini Desa Adat Denpasar terus berupaya menangani sampah organik secara mandiri, terutama sampah yang berasal dari upakara. Namun, upaya tersebut akan berjalan lebih efektif apabila masyarakat ikut mendukung dengan melakukan pemilahan dan pencacahan sampah organik sejak dari rumah tangga.

Baca Juga:  Gubernur Koster Terima Forum Swakelola Sampah Bali, Sampah Organik Diizinkan Masuk TPA Suwung Dua Kali Seminggu

Ia juga menegaskan bahwa pembagian peran antara pemerintah dan masyarakat harus dibangun secara jelas. Pemerintah, menurutnya, dapat berfokus pada penanganan sampah anorganik dan residu, sementara masyarakat bersama Desa Adat mengambil peran lebih besar dalam pengolahan sampah organik.

“Yang paling penting, jika nanti ada tong komposter, teba modern, dan bag komposter yang siap panen namun tidak tertampung di wilayah Desa Adat Denpasar, kami sudah menyiapkan lahan penampungan yang nantinya akan dijadikan taman atau ruang terbuka hijau,” jelasnya.

Sementara itu, Wali Kota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara menyampaikan apresiasi atas sinergi dan komitmen yang ditunjukkan Desa Adat Denpasar. Menurutnya, dukungan ini menjadi bukti nyata bahwa penanganan persampahan memang harus dilakukan secara bersama-sama dan berbasis kolaborasi.

“Kami berharap budaya baik dalam memilah sampah agar terus ditularkan, sehingga nanti kita di Kota Denpasar bisa optimal dalam penanganan sampah sampai PSEL beroperasi. Dan kami sangat berterima kasih atas komitmen dari Desa Adat Denpasar,” ujarnya.

Baca Juga:  Pemkot Denpasar Gelar Persembahyangan Rahina Suci Tumpek Landep di Pura Agung Lokanatha

Jaya Negara menegaskan bahwa meskipun ke depan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PSEL) mampu mengolah sampah campuran, kualitas dan dampak pengolahannya sangat ditentukan oleh kondisi sampah yang masuk ke dalam sistem. Karena itu, pemilahan sampah dari sumber tetap menjadi syarat penting untuk menghasilkan bahan baku yang lebih berkualitas bagi operasional PSEL.

“Untuk diketahui bersama, bahwa waste to energy memerlukan sampah berkualitas. Karena itu, sampah yang terpilah akan sangat mendukung optimalisasi dari PSEL tersebut,” jelasnya.

Ia menambahkan, sampah yang telah dipilah sejak awal—antara organik, anorganik, dan residu—akan memiliki nilai kalor yang lebih stabil dan kandungan air yang lebih rendah. Kondisi tersebut membuat proses pembakaran di fasilitas PSEL menjadi lebih efisien, menghasilkan energi listrik yang lebih optimal, sekaligus menekan potensi emisi berbahaya.

Di akhir kegiatan, Jaya Negara kembali menyampaikan terima kasih kepada Bendesa Adat Denpasar serta seluruh prajuru banjar adat yang hadir atas komitmen dan dukungan yang diberikan untuk memperkuat penanganan sampah di Kota Denpasar.

“Terima kasih kepada Bendesa Adat Denpasar serta seluruh prajuru banjar adat yang hadir. Semoga sinergi ini dapat optimal mendukung penanganan sampah di Kota Denpasar,” ujarnya.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Kepala DLHK Kota Denpasar Ida Bagus Putra Wirabawa, Camat Denpasar Barat I Wayan Yusswara, para perbekel/lurah di wilayah Desa Adat Denpasar, klian adat/prajuru adat, serta pecalang Desa Adat Denpasar.

Editor: Ken

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here