
DENPASAR, KEN-KEN — Perbedaan penetapan Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah antara Muhammadiyah dan pemerintah justru menghadirkan wajah toleransi yang hangat di Bali. Di tengah perbedaan waktu perayaan, suasana tetap damai, bahkan menjadi contoh nyata harmoni lintas umat.
Melansir dari situs Muhammadiya Bali, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Bali, Husnul Fahmi, menegaskan bahwa perbedaan tersebut harus dimaknai sebagai rahmat, bukan sumber perpecahan.
“Perbedaan ini adalah bagian dari dinamika umat. Yang terpenting adalah bagaimana kita tetap menjaga persaudaraan dan saling menghormati,” ujarnya.
Warga Muhammadiyah di Bali melaksanakan Shalat Idulfitri pada Jumat (20/3), sehari setelah umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Momen ini menjadi unik karena dua perayaan besar berlangsung hampir beriringan, namun tetap berjalan tertib dan penuh penghormatan.
Di berbagai titik seperti Lapangan Niti Mandala Renon, Mushalla KH Ahmad Dahlan, hingga Gedung PWM Bali, ribuan jamaah melaksanakan Salat Id dengan khidmat. Bahkan di sejumlah daerah seperti Buleleng, Jembrana, Tabanan, dan Klungkung, pelaksanaan berjalan serentak tanpa kendala berarti.
Menariknya, di balik pelaksanaan tersebut terdapat cerita toleransi yang jarang terekspos.
Selama Hari Raya Nyepi, lokasi yang akan digunakan untuk Salat Id dijaga oleh pecalang selama 24 jam. Ini menjadi simbol nyata kolaborasi antara umat Hindu dan Muslim di Bali.
“Saat kami tidak bisa beraktivitas karena Nyepi, justru saudara-saudara pecalang yang menjaga tempat kami. Ini bukan hanya toleransi, ini persaudaraan,” ungkap salah satu jamaah di Renon.
Meski sempat diguyur hujan ringan, pelaksanaan Salat Id tetap berlangsung lancar. Bahkan, suasana terasa lebih khidmat karena jamaah datang dengan kesadaran penuh untuk menjaga ketertiban.
Sebagai bentuk penghormatan terhadap situasi Bali, warga Muhammadiyah juga memilih melaksanakan takbiran secara sederhana dari rumah, tanpa pawai dan pengeras suara berlebihan.
Langkah ini dinilai sebagai bentuk kedewasaan beragama di tengah perbedaan.
Khatib Salat Id di Lapangan Renon, Sya’ban, dalam khutbahnya menegaskan bahwa perbedaan waktu Idulfitri tidak boleh merusak ukhuwah Islamiah.
“Jangan sampai kita terpecah hanya karena perbedaan penetapan hari. Justru ini mengajarkan kita untuk lebih dewasa dalam beragama,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa esensi Idulfitri bukan hanya pada hari perayaannya, melainkan pada kualitas ibadah setelah Ramadan.
“Kalau setelah Ramadan kita tetap menjaga salat berjamaah, membaca Al-Qur’an, dan memperbaiki akhlak, itulah tanda ibadah kita diterima,” tambahnya.
Fenomena ini menjadi gambaran bahwa Bali bukan hanya dikenal sebagai destinasi wisata dunia, tetapi juga sebagai ruang hidup toleransi yang nyata.
Di saat perbedaan sering memicu konflik di berbagai tempat, Bali justru menunjukkan bahwa perbedaan bisa dikelola menjadi kekuatan sosial.
Seorang tokoh masyarakat bahkan menyebut momen ini sebagai “laboratorium toleransi”.
“Di Bali, kita tidak hanya bicara toleransi, tapi menjalankannya. Bahkan dalam situasi yang sensitif seperti ini,” ujarnya.
Perbedaan Lebaran tahun ini pun menjadi pelajaran berharga: bahwa harmoni tidak lahir dari kesamaan, tetapi dari kesadaran untuk saling menghormati.
Dan Bali, sekali lagi, berhasil membuktikannya.
Editor: Ken


