A.A. Istri Rai Setyawati, Seniman Tangguh yang Menjaga Nyala Tari Bali Dedikasi Seumur Hidup untuk Generasi Penerus

0
145
Foto: Penampilan anak-anak dalam seni budaya Bali, (8/3), di Lapangan Puputan Badung I Gusti Ngurah Made Agung.

Denpasar, 8 Maret 2026 – Di tengah riuhnya Kasanga Festival di Lapangan Puputan Badung I Gusti Ngurah Made Agung, (8/3/2026) sosok A.A. Istri Rai Setyawati, SST., tampak membimbing anak-anak yang bersiap tampil. Dengan tatapan lembut namun penuh ketegasan, perempuan berusia 73 tahun itu memastikan setiap gerak tari dilakukan dengan percaya diri.

Perempuan kelahiran Sayan, Gianyar, yang menetap di Denpasar sejak menempuh pendidikan di Kokar ini, telah mendedikasikan hidupnya bagi seni tari Bali. Bagi Rai Setyawati, tari bukan sekadar warisan budaya, melainkan napas kehidupan yang terus ia rawat. Ia tumbuh bersama maestro tari Bali, I Nyoman Suarsa (Pak Yang Pung), dan hingga kini tetap setia mengabdikan diri meski banyak rekan seangkatannya telah berpulang.

Baca Juga:  Sekda Eddy Mulya Buka Musrenbang RKPD Kota Denpasar 2027 Fokus pada Peningkatan SDM dan Transformasi Tata Kelola Perkotaan

“Semangat saya masih tetap berkobar dalam mengabdikan diri di bidang seni. Saat ini saya juga dipercaya menjadi pendidik di PAUD Saraswati 3,” ujarnya dengan senyum hangat. Di sana, ia menanamkan kecintaan pada seni sejak usia dini, membimbing anak-anak mengenal dasar-dasar gerak tari Bali dengan penuh kesabaran.

Selain di PAUD, Rai Setyawati juga aktif membina anak-anak di Sanggar Tari Rimantaka yang ia kelola bersama putrinya. Dari ruang latihan sederhana itu lahir keberanian generasi muda untuk tampil dalam berbagai agenda budaya di Denpasar. Baginya, melihat anak-anak menari dengan semangat adalah kebahagiaan sekaligus tanda bahwa tradisi tetap hidup.

Baca Juga:  Sanksi Tegas Mengancam, Gubernur Koster Minta Perbekel ‘Jengah’ Kelola Sampah Berbasis Sumber

Sebagai ibu dari empat anak, nilai kerja keras dan pengabdian yang ia tanamkan turut membentuk perjalanan hidup keluarganya. Putranya, Dedy Sutrisna Agung, SE., M.Ec.Dev., yang kini mengabdi di salah satu perangkat daerah di Denpasar, menyebut kecintaan sang ibu pada seni sebagai sumber kekuatan keluarga. “Jika ibu diberi kesempatan berkesenian, sakitnya seperti hilang. Berkesenian menjadi obat sekaligus semangat hidupnya,” ungkap Dedy.

Di usia senja, Rai Setyawati masih setia berdiri di ruang latihan, mengajarkan gerak demi gerak kepada generasi penerus. Baginya, selama tubuh masih mampu bergerak dan ada anak-anak yang ingin belajar, seni tari Bali harus terus hidup dan berkembang. Dari tangan seorang guru seperti Rai Setyawati, nyala tradisi itu tetap dijaga agar menari dalam perjalanan waktu dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Editor: Ken

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here