Universitas Warmadewa Gelar Visiting Lecture Internasional, Bahas Arsitektur Vernakular Bali di Tengah Ekonomi Pariwisata

0
83
Foto: Program Studi Magister Administrasi Publik menggelar kegiatan Visiting Lecture bertema “When Traditional Meets the Market: Vernacular Architecture in the Tourism Economy”, (28/4).

DENPASAR, KEN-KEN – Fakultas Pascasarjana Universitas Warmadewa melalui Program Studi Magister Administrasi Publik menggelar kegiatan Visiting Lecture bertema “When Traditional Meets the Market: Vernacular Architecture in the Tourism Economy”, Selasa, 28 April 2026, bertempat di Ruang Shri Wijaya Mahadewi, Lantai 4 Fakultas Pascasarjana Universitas Warmadewa.

Kegiatan ini menghadirkan narasumber internasional Mr. Joseph Aranha dari Texas Tech University dengan moderator Dr. I Nyoman Gede Mahaputra, S.T., M.Sc., Ph.D. Acara tersebut juga menjadi bagian dari rangkaian HUT Program Studi Magister Administrasi Publik Fakultas Pascasarjana Universitas Warmadewa. Dalam undangan kegiatan, visiting lecture ini ditujukan kepada mahasiswa/karyasiswa di lingkungan Fakultas Pascasarjana Universitas Warmadewa, dengan permohonan peserta dari masing-masing program studi.

Dalam pemaparannya, Joseph Aranha menyoroti persoalan penting mengenai hubungan antara arsitektur vernakular, identitas budaya, dan tekanan ekonomi pariwisata. Ia menegaskan bahwa pariwisata tidak hanya membawa manfaat ekonomi, tetapi juga memiliki kemampuan besar untuk mengubah makna ruang, simbol, dan arsitektur lokal.

Menurutnya, dalam konteks Bali, banyak bangunan pariwisata hari ini memakai simbol-simbol budaya Bali hanya sebagai citra visual. Candi bentar, ukiran, atap tradisional, dan elemen-elemen arsitektur lainnya sering digunakan untuk menciptakan kesan “Bali”, tetapi tidak selalu disertai pemahaman terhadap nilai, fungsi, dan makna sakralnya.

Baca Juga:  Bali di Tengah Arus Globalisasi: Antara Identitas Budaya dan Komodifikasi Pariwisata

“Pariwisata memiliki kemampuan untuk menggunakan arsitektur sebagai alat menciptakan lingkungan yang tampak tradisional, tetapi belum tentu autentik. Wisatawan sering kali tidak mengetahui perbedaannya,” ujar Joseph Aranha dalam pemaparannya.

Ia menjelaskan, persoalan utama terjadi ketika arsitektur tradisional diperlakukan sebagai komoditas. Simbol-simbol budaya diambil, diperbesar, dipindahkan, dan ditempelkan pada bangunan komersial tanpa memperhatikan aturan adat, makna filosofis, maupun nilai spiritual yang melatarbelakanginya.

“Masalah terbesarnya adalah ketika arsitektur vernakular diperlakukan seperti barang dagangan. Ia diambil dan digunakan tanpa memperhatikan aturan, makna, dan nilai yang terkandung di dalamnya,” jelasnya.

Joseph Aranha memberi contoh tentang penggunaan candi bentar di Bali. Menurutnya, pada masa lalu candi bentar memiliki kedudukan yang sangat terbatas dan sakral, terutama pada lingkungan pura atau puri. Namun kini, bentuk candi bentar dapat ditemukan di hotel, restoran, jalan raya, bandara, hingga kawasan pariwisata.

Baca Juga:  Pemkot Denpasar Dorong Sektor Pariwisata, Destinasi, dan Horeka Terapkan Ekonomi Sirkular

Perubahan tersebut menunjukkan adanya pergeseran makna. Candi bentar yang dahulu memiliki nilai simbolik dan sakral kini banyak dipakai sebagai ikon visual pariwisata. Seolah-olah, cukup dengan menghadirkan candi bentar, sebuah bangunan langsung dianggap mewakili arsitektur Bali.

“Dulu candi bentar memiliki makna sakral dan tidak digunakan sembarangan. Sekarang candi bentar ada di mana-mana. Ia berubah dari simbol sakral menjadi ikon pariwisata,” ungkapnya.

Dalam forum tersebut, Joseph juga menekankan pentingnya membedakan antara bangunan yang benar-benar autentik, bangunan vernakular, dan bangunan yang hanya meniru tampilan tradisional. Menurutnya, arsitektur vernakular bukan sekadar bentuk luar, melainkan sistem pengetahuan yang lahir dari masyarakat lokal, iklim, material, teknik membangun, nilai sosial, dan cara hidup masyarakat setempat.

Baca Juga:  Sekda Eddy Mulya Pimpin Apel Hari Otonomi Daerah ke-30 di Kota Denpasar, Himbau ASN Jaga Profesionalisme dalam Pelayanan Publik

Pandangan tersebut sejalan dengan pokok gagasan bahwa tidak semua bangunan yang “terlihat Bali” otomatis mencerminkan arsitektur Bali yang autentik. Bangunan Bali yang autentik bukan hanya menampilkan gapura, ukiran, atau atap tradisional, tetapi juga menjaga makna, fungsi, tata ruang, dan nilai budaya Bali.

Dalam konteks Bali, arsitektur Bali yang autentik dapat dilihat dari keterhubungannya dengan nilai-nilai seperti Tri Hita Karana, Tri Mandala, orientasi kaja-kelod, kangin-kauh, keberadaan natah, merajan, serta fungsi ruang yang hidup dalam keseharian masyarakat. Arsitektur Bali tidak hanya menjadi bentuk fisik, tetapi juga ruang sosial, ruang spiritual, dan ruang budaya.

Joseph Aranha juga menegaskan bahwa menjaga arsitektur vernakular bukan berarti menolak perubahan. Ia menyebut perubahan adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. Namun, perubahan perlu dikendalikan agar tidak memutus hubungan antara arsitektur dengan akar budaya dan kehidupan masyarakat.

“Perubahan pasti terjadi. Kita tidak bisa menghentikannya. Tetapi yang penting adalah bagaimana perubahan itu tetap menghormati karakter tempat, nilai lokal, dan kehidupan masyarakatnya,” ujarnya.

Ia mencontohkan beberapa praktik internasional dalam pengembangan arsitektur vernakular yang tidak sekadar meniru bentuk, tetapi memahami cara kerja bangunan tradisional lalu mengadaptasikannya untuk kebutuhan modern. Menurutnya, pendekatan seperti ini dapat menjadi inspirasi bagi Bali dalam menghadapi tekanan globalisasi dan ekonomi pariwisata.

Baca Juga:  Gubernur Koster dan Menteri Imipas Teken MoU Optimalisasi Tugas dan Fungsi Imigrasi

“Arsitektur vernakular seharusnya tidak hanya disalin bentuknya. Yang lebih penting adalah memahami bagaimana ia bekerja, mengapa ia lahir, dan bagaimana ia dapat diadaptasi secara cerdas untuk kebutuhan masa kini,” tegasnya.

Kegiatan visiting lecture ini juga menjadi ruang refleksi akademik bagi mahasiswa, dosen, dan peserta seminar untuk melihat kembali posisi Bali dalam arus pariwisata global. Bali tidak hanya dikenal karena keindahan alamnya, tetapi juga karena kekuatan budaya, adat, dan arsitekturnya. Namun, di tengah derasnya pariwisata, muncul pertanyaan penting: apakah Bali masih mampu menjaga keaslian identitasnya ketika simbol-simbol budaya terus dijadikan komoditas?

Dalam rilis akademik yang berkembang dari materi kegiatan tersebut, ditegaskan bahwa pariwisata memang memberikan manfaat ekonomi besar bagi Bali. Akan tetapi, apabila tidak dikendalikan, pariwisata dapat menyederhanakan budaya menjadi sekadar tontonan. Arsitektur yang semula memiliki nilai spiritual, sosial, dan filosofis dapat berubah menjadi latar foto, dekorasi hotel, dan strategi promosi.

Karena itu, seminar ini menekankan pentingnya keterlibatan pemerintah daerah, desa adat, akademisi, arsitek, pelaku pariwisata, dan masyarakat dalam merumuskan batas yang jelas antara pelestarian, adaptasi, dan komodifikasi. Unsur-unsur arsitektur yang memiliki makna sakral perlu dihormati, sementara pengembangan arsitektur modern perlu tetap berpijak pada nilai lokal.

Baca Juga:  Peringatan Hari OTDA ke-30, Pemkot Denpasar Kembali Raih Prestasi Kinerja Tinggi

Melalui kegiatan ini, Fakultas Pascasarjana Universitas Warmadewa mendorong diskusi kritis mengenai masa depan arsitektur Bali dalam ekonomi pariwisata. Pariwisata Bali dinilai harus naik kelas, bukan hanya menjual “nuansa Bali” secara visual, melainkan menghadirkan pengalaman yang jujur, bermakna, dan menghormati budaya lokal.

Pada akhirnya, pesan utama dari visiting lecture ini adalah bahwa arsitektur Bali tidak boleh hanya dipahami sebagai bentuk dekoratif. Arsitektur Bali adalah sistem nilai. Bangunan Bali yang baik bukan sekadar bangunan yang terlihat Bali, tetapi bangunan yang berpikir secara Bali, hidup dalam nilai Bali, dan tetap memberi ruang bagi masyarakat Bali untuk menjaga identitasnya.

“Jika arsitektur hanya memakai wajah Bali tetapi kehilangan jiwa Bali, maka yang tersisa hanyalah citra. Tantangannya adalah bagaimana Bali tetap terbuka pada dunia, tetapi tidak kehilangan dirinya sendiri,” demikian refleksi utama yang mengemuka dalam kegiatan tersebut. (aw)

Editor: Ken

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here