DENPASAR, KEN-KENKHABARE – Antrean kendaraan di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Denpasar dilaporkan mulai berangsur normal setelah penerapan kebijakan ganjil-genap dalam pengisian bahan bakar minyak (BBM). Di tengah upaya penataan antrean tersebut, Gubernur Bali Wayan Koster turun langsung memantau kondisi SPBU di Kabupaten Gianyar dan Bangli, Minggu (18/10/2026), untuk memastikan pelayanan dan distribusi BBM berjalan lebih baik.
Penerapan ganjil-genap menjadi salah satu langkah pengaturan pelayanan BBM di tengah antrean panjang yang sebelumnya terjadi di sejumlah SPBU. Berdasarkan kondisi yang dilaporkan di lapangan, antrean kendaraan di beberapa SPBU Denpasar mulai mendekati keadaan normal.
Kebijakan ini diharapkan membantu mengurai kepadatan kendaraan sekaligus membuat proses pengisian BBM lebih tertib. Namun, kelancaran antrean tetap bergantung pada ketepatan distribusi, ketersediaan BBM di masing-masing SPBU, dan kepatuhan masyarakat terhadap ketentuan yang berlaku.
Dalam siaran persnya, Pertamina menyebutkan pengaturan pengisian BBM berdasarkan nomor polisi ganjil dan genap diberlakukan selama tiga hari, mulai Sabtu (17/10/2026) hingga Senin (19/10/2026).
Pada Sabtu, pengisian BBM diprioritaskan bagi kendaraan dengan pelat nomor ganjil. Pengaturan tersebut mengacu pada Surat Gubernur Bali Nomor B.21.500.1/16673/V/DISKANER.ESDM.
Kebijakan ini merupakan bagian dari upaya mengatur pelayanan di SPBU ketika distribusi BBM sedang dipercepat. Masyarakat diimbau memperhatikan ketentuan yang berlaku sebelum datang untuk mengisi BBM agar proses pelayanan berlangsung tertib.
Penerapan ganjil-genap diharapkan tidak hanya mengurangi penumpukan kendaraan, tetapi juga membantu petugas SPBU mengelola arus kendaraan yang datang untuk mengisi bahan bakar.
Pegawai salah satu SPBU di Denpasar bahkan menyampaikan tidak terjadi antrean panjang dengan pemberlakuan ganjil genap.
“Saat ini pasokan BBM lancar dan antrean sudah tidak seperti sebelumnya, sehingga SPBU tutup seperti biasa tidak 24 jam,” kata pegawai yang tidak mau disebutkan namanya.
Meski demikian, pengaturan antrean perlu berjalan beriringan dengan pemantauan stok dan percepatan pengiriman. Antrean yang berkurang belum dengan sendirinya menunjukkan bahwa seluruh jenis BBM telah tersedia secara merata di setiap SPBU.
Perkembangan antrean di Denpasar yang mulai mendekati normal menjadi sinyal positif dalam penataan pelayanan BBM. Namun, kondisi di lapangan masih perlu dipantau, terutama untuk memastikan tidak terjadi kekosongan jenis BBM tertentu di SPBU lain.
Koordinasi antara Pemerintah Provinsi Bali dan Pertamina menjadi penting agar informasi mengenai persediaan, kebutuhan, serta jadwal pengiriman dapat ditindaklanjuti dengan cepat. Apabila terdapat SPBU yang mengalami kekosongan, percepatan distribusi diperlukan untuk memulihkan pelayanan.
Masyarakat juga diharapkan mengikuti pengaturan pengisian BBM sesuai ketentuan yang berlaku dan membeli bahan bakar secara wajar sesuai kebutuhan. Langkah tersebut dapat membantu mengurangi tekanan pada pelayanan SPBU selama masa penataan distribusi.
Pemantauan yang dilakukan Koster di Gianyar dan Bangli sekaligus menegaskan pentingnya memastikan kebijakan pengaturan antrean berjalan seiring dengan ketersediaan pasokan. Keberhasilan penanganan persoalan BBM tidak cukup diukur dari panjang atau pendeknya antrean, tetapi juga dari kemampuan distribusi menjaga ketersediaan bahan bakar bagi masyarakat.
Dengan penerapan pengaturan kendaraan, percepatan pengiriman, dan pemantauan di lapangan, pelayanan BBM di Bali diharapkan semakin tertib dan kembali berjalan normal secara merata.
Reporter: Tim Redaksi
Editor: I Nyoman Arta Wirawan



