Dramatis Hingga Menit Terakhir, Pemilihan Ketum IGNITY 2026–2028 Jadi Momentum Pendewasaan Demokrasi Organisasi

0
148
Foto: Jamnas II IGNITY di Jogja.

DENPASAR, KEN-KEN – Proses demokrasi internal Indonesia Ignis Community (IGNITY) berlangsung dinamis dalam Pemilihan Ketua Umum IGNITY Periode 2026–2028 yang dilaksanakan pada Sabtu, 13 Juni 2026. Kontestasi tersebut mempertemukan tiga kandidat, yakni IGN-0099 Om I Nyoman Arta Wirawan, dari IGNITY Chapter Bali, IGN-0532 Om Sugen dari IGNITY DKI Jakarta, dan IGN-0772, Tante Tya dari IGNITY Bandung.

Pemilihan ini dilaksanakan melalui mekanisme voting di WhatsApp Group Nasional dengan Ketua Panitia Pemilihan Darurat Budiarto Soemardji, IGN-0305, dan Sekretaris Pemilihan AB Haedar IGN-0509. Berdasarkan hasil akhir, sebanyak 154 anggota tercatat berpartisipasi, dengan rincian 24 abstain, IGN-0099 memperoleh 49 suara, IGN-0532 memperoleh 15 suara, dan IGN-0772 memperoleh 66 suara.

Sejak voting dibuka, dinamika perolehan suara berlangsung ketat. Para kandidat sempat saling mengejar perolehan dukungan, bahkan perubahan suara terjadi hingga menjelang penutupan pemungutan suara. Kondisi tersebut menjadikan pemilihan kali ini sebagai salah satu momen penting dalam perjalanan organisasi IGNITY.

Founder IGNITY, Arief Prakoso, dalam pernyataannya menyampaikan apresiasi kepada tiga kandidat yang telah berani maju menjadi calon Ketua Umum IGNITY.

“Pertama, sebagai salah satu anggota IGNITY yang mendapat predikat founder yang kebetulan berada di WAGrup ini, maka saya memberi apresiasi tinggi kepada tiga anggota IGNITY yaitu IGN_0099, IGN_0532, dan IGN_0772. Tentu mereka bertiga bukan tanpa alasan untuk berani menjadi kandidat nahkoda baru IGNITY yang statusnya saat ini bisa kita sepakati bersama agak kehilangan arah dan cukup lama vakum berkegiatan,” ujar Arie Prakoso.

Arief juga memberikan catatan penting terkait mekanisme pemungutan suara yang dilakukan melalui WhatsApp Group. Menurutnya, proses pemungutan suara pada prinsipnya idealnya mengacu pada asas yang dikenal luas di Indonesia, yakni langsung, umum, bebas, dan rahasia atau LUBER.

“Perihal sebagai peserta pemungutan suara untuk kepentingan pemilihan, maka seumur hidup saya, peristiwa ini termasuk yang tidak biasa. Mengingat prinsip pemungutan suara yang sudah diajarkan dan saya ketahui sejak bangku sekolah di berbagai kesempatan adalah menganut asas yang biasa berlaku di NKRI ini, yaitu langsung, umum, bebas, dan rahasia,” ungkapnya.

Ia menilai, proses voting yang dilakukan secara terbuka di WhatsApp Group belum sepenuhnya memenuhi asas kerahasiaan suara.

“Menurut prinsip yang saya anut tersebut, proses pemungutan suara yang sudah dilakukan di WAGrup ini belum memenuhi asas rahasia. Atas dasar itu, meski saya berterima kasih sudah ditambahkan masuk ke WAGrup ini, namun saya mohon maaf untuk akhirnya memilih tidak memilih atau abstain,” lanjutnya.

Meski memilih abstain, Arief menegaskan bahwa ketiga kandidat memiliki kelebihan dan kapasitas masing-masing. Bahkan menurutnya, apabila dimungkinkan, ia ingin memilih ketiganya karena masing-masing memiliki keunggulan yang dapat saling melengkapi.

Dalam refleksinya, Arief juga mengingat kembali awal pembentukan IGNITY lebih dari sembilan tahun lalu. Saat itu, para founder mulai memformulasikan format kepengurusan, termasuk syarat dasar menjadi Ketua Umum IGNITY. Beberapa syarat tersebut antara lain pemilik sah unit Suzuki Ignis, anggota resmi IGNITY, tidak sedang menjadi ketua atau pengurus komunitas otomotif lain, sehat jasmani dan rohani, memiliki integritas, kapasitas, kemampuan organisasi, serta bersedia patuh kepada AD/ART IGNITY.

Ia juga menekankan pentingnya mengembalikan marwah IGNITY sebagai klub otomotif yang dibangun atas dasar kebersamaan, penghormatan, serta kepatuhan terhadap AD/ART yang telah disusun dengan proses panjang.

Foto: Kegiatan IGNITY

“Seyogyanya alangkah bijak jika segala proses yang direncanakan dilakukan dengan cara yang baik, santun, menjunjung sikap saling menghormati, serta tentunya merujuk kepada AD/ART IGNITY yang telah disusun selama tiga tahun dengan effort yang tentu tidak sedikit,” tegasnya.

Baca Juga:  Suzuki Fronx Jadi Primadona di GIIAS 2025, Paling Banyak Diuji Coba Pengunjung

Lebih jauh, Arief mengajak seluruh anggota untuk merenungkan kembali apakah proses yang telah berlangsung sudah sesuai dengan marwah IGNITY sebelum keputusan final diekspos ke berbagai pihak di luar forum internal.

“Sebelum akhirnya jadi keputusan final dan diekspos ke berbagai pihak di luar WAGrup ini dalam beragam bentuk, marilah kita renungkan kembali dengan kepala dingin dan hati yang jernih, apakah proses yang telah dilakukan ini sudah sesuai marwahnya IGNITY?” ujarnya.

Baca Juga:  Suzuki Tampilkan eVITARA dan Deretan Mobil Hybrid di GIIAS 2025, Perkuat Komitmen Menuju Mobilitas Berkelanjutan

Pemilihan Ketua Umum IGNITY 2026–2028 tidak hanya menjadi ajang kontestasi kepemimpinan, tetapi juga momentum penting untuk mengevaluasi tata kelola organisasi. Sejumlah catatan muncul, mulai dari kebutuhan sistem pemilihan yang lebih tertib, asas kerahasiaan suara, mekanisme keberatan, masa sanggah, hingga penguatan kembali AD/ART sebagai pedoman utama organisasi.

Di tengah segala dinamika tersebut, semangat persaudaraan tetap menjadi fondasi utama. Para anggota berharap hasil pemilihan ini dapat menjadi awal konsolidasi baru bagi IGNITY untuk kembali aktif, solid, dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi anggota maupun masyarakat.

Pada akhirnya, kontestasi memiliki batas waktu, tetapi persaudaraan harus terus dijaga. IGNITY diharapkan tetap menjadi rumah besar bagi para pemilik dan pecinta Suzuki Ignis, sekaligus komunitas otomotif yang menjunjung tinggi kebersamaan, integritas, dan marwah organisasi.

Editor: Ken

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here