Demer: Kerja ke Luar Negeri Bukan Sekadar Migrasi, tapi Jalan Bangun Kesejahteraan

0
1091
Foto: Anggota Komisi VI DPR RI I Gede Sumarjaya Linggih bersama Ketua WMC Dr. I Wayan Rideng, S.H., M.H., dalam momentum penguatan kerja sama penyiapan dan pelindungan pekerja migran di Universitas Warmadewa, Denpasar, Jumat (2/10/2026).

DENPASAR, KEN-KENKHABARE – Kesempatan bekerja di luar negeri dinilai tidak semestinya dipandang hanya sebagai pilihan untuk meninggalkan daerah asal, tetapi dapat menjadi strategi meningkatkan kesejahteraan generasi muda sekaligus membangun aset di kampung halaman.

Anggota Komisi VI DPR RI I Gede Sumarjaya Linggih atau akrab disapa Demer mengatakan, peluang tersebut semakin terbuka seiring kebutuhan tenaga kerja di berbagai negara maju. Namun, peluang kerja global harus diikuti dengan peningkatan kompetensi, kemampuan bahasa, serta keberangkatan melalui prosedur resmi agar pekerja mendapatkan pelindungan negara.

Pandangan Demer itu disampaikan di tengah kunjungan Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Drs. H. Mukhtarudin ke Universitas Warmadewa (Unwar), Denpasar, Jumat (2/10/2026). Kunjungan tersebut dirangkaikan dengan penandatanganan MoU dan PKS antara KP2MI dengan Unwar serta peresmian Warmadewa Migrant Center (WMC).

Momentum tersebut menjadi penting karena pemerintah sedang mendorong peningkatan kualitas pekerja migran dari tenaga kerja berketerampilan rendah menuju tenaga kerja dengan keterampilan menengah dan tinggi.

Demer mengatakan pemerintah perlu melihat migrasi kerja sebagai salah satu alternatif dalam menghadapi pertumbuhan penduduk dan angkatan kerja yang tidak seluruhnya dapat diserap oleh pasar kerja domestik.

Menurutnya, bekerja di luar negeri, khususnya di negara yang membutuhkan tenaga kerja dengan keterampilan tertentu, dapat memberikan kesempatan memperoleh pendapatan yang lebih baik. Penghasilan tersebut selanjutnya dapat digunakan untuk menabung, membeli aset, bahkan membangun usaha di daerah asal.

“Pemerintah harus menyediakan juga kepentingan masyarakat dapat bekerja. Artinya bekerja untuk mengisi perutnya. Salah satunya adalah dengan konsentrasi bekerja di luar negeri,” ujar Demer.

Ia mencontohkan dua orang yang dikenalnya dan kini bekerja serta membangun usaha restoran di Amerika Serikat. Keduanya disebut masih berusia di bawah 40 tahun dan secara berkala kembali ke Indonesia untuk membeli tanah.

“Umurnya di bawah 40 tahun. Mereka pulangnya apa? Beli tanah terus. Tiap enam bulan pulang beli tanah. Saya berharap nanti banyak yang begitu dari masyarakat kita,” katanya.

Bagi Demer, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa bekerja di luar negeri tidak selalu berarti kehilangan keterikatan dengan daerah asal. Sebaliknya, pendapatan yang diperoleh dari luar negeri dapat kembali menjadi modal ekonomi bagi keluarga dan daerah.

Demer melihat Bali memiliki sejumlah modal sosial yang dapat dikembangkan untuk memasuki pasar kerja internasional.

Ia menyebut tiga hal yang menjadi kekuatan, yakni kemampuan bahasa, kejujuran dan keramahan.

“Kalau soal untuk di Indonesia kita sangat bersaing, orang Bali. Yang pertama bahasa. Yang kedua kejujurannya. Yang ketiga keramahan,” katanya.

Namun, Demer mengingatkan bahwa kemampuan tersebut tetap perlu diperkuat melalui pendidikan dan pelatihan. Untuk pasar kerja internasional, tenaga kerja Indonesia harus bersaing dengan pekerja dari berbagai negara, termasuk Filipina dan Thailand.

Karena itu, calon pekerja tidak cukup hanya memiliki keinginan bekerja di luar negeri. Mereka harus dipersiapkan sesuai kebutuhan pekerjaan di negara tujuan, termasuk melalui upskilling, penguasaan bahasa dan keterampilan teknis..

Lebih lanjut Demer menekankan, peluang bekerja ke luar negeri harus berjalan beriringan dengan pelindungan. Karena itu, masyarakat perlu didorong untuk berangkat melalui jalur resmi.

Baca Juga:  Peringatan HANI 2023, Wagub Cok Ace Ajak Generasi Muda Turut Peduli Berantas dan Jauhi Narkoba

Menurutnya, proses resmi membuat calon pekerja memperoleh informasi mengenai negara tujuan, mendapatkan pelatihan, tercatat dalam sistem, serta memiliki akses terhadap fasilitas pelindungan dan asuransi sesuai ketentuan.

“Kalau dari pertama mereka mendapatkan pelatihan, artinya mereka sudah akan mengerti negara tujuannya dan mereka mengerti akan kapasitas dia, meningkatkan kapasitas, upskilling namanya,” jelas Demer.

Ia berharap keberadaan Kementerian P2MI semakin memperkuat sistem tersebut sehingga masyarakat tidak berangkat sendiri tanpa informasi dan perlindungan yang memadai.

“Ini pelindungan. Jadi kita dilindungi kalau kita keluar negeri dengan kementerian ini,” tegasnya.

Kunjungan Menteri P2MI ke Unwar sekaligus memperlihatkan arah baru penyiapan pekerja migran: perguruan tinggi tidak hanya menjadi tempat pendidikan, tetapi juga dapat menjadi simpul informasi, peningkatan kompetensi dan penyiapan sumber daya manusia untuk pasar kerja internasional.

Dalam konteks tersebut, kehadiran Warmadewa Migrant Center dinilai menjadi bagian penting dari ekosistem penyiapan calon pekerja migran di Bali.

Ketua WMC Universitas Warmadewa, Dr. Wayan Rideng, S.H., M.H., mengatakan kehadiran Menteri P2MI dan penandatanganan kerja sama dengan Unwar memiliki arti strategis bagi pengembangan WMC ke depan.

Dengan jumlah mahasiswa Unwar sekitar 14 ribu orang, menurut Rideng, perguruan tinggi tidak hanya dituntut melakukan transfer pengetahuan, tetapi juga membekali lulusan dengan kemampuan upskilling agar mampu diterima di pasar kerja, termasuk menjadi PMI.

Rideng menyebut berdasarkan informasi dari Kementerian P2MI, Bali mendapat target kesempatan pelatihan peningkatan kapasitas calon PMI hingga 3.000 orang. Sementara kapasitas WMC saat ini sekitar 300 peserta setiap gelombang.

“Hal ini menjadi tantangan untuk terus berkembang menjadi betul-betul pusat mempersiapkan calon PMI yang mempunyai kualitas daya saing global,” ungkap Rideng.

Baca Juga:  Ganjar Pranowo Ditemani Istri Atikoh Jenguk Relawan Korban Penganiayaan Oknum TNI di Boyolali

Rideng mengatakan WMC memiliki prospek pengembangan karena didukung lokasi strategis, sarana yang tersedia, serta sumber daya manusia sebagai instruktur yang terdiri dari guru besar dan doktor. Program pelatihan juga diberikan tanpa pungutan biaya, termasuk fasilitas penginapan, makan dan minum, pakaian, perlengkapan serta uang saku harian

Di sisi lain, Wayan Rideng mengajak anak muda, lulusan SMA, SMK, diploma maupun sarjana yang belum memiliki pekerjaan tetap untuk memanfaatkan kesempatan pelatihan melalui WMC Unwar dan memperoleh informasi pendaftaran melalui BP3MI Bali.

Reporter: Tim Redaksi
Editor: I Nyoman Arta Wirawan

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here