Jaya Negara Ngayah Nyangging di Metatah Massal Desa Adat Panjer

0
1046
Foto: Wali Kota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara turut ngayah nyangging dalam pelaksanaan Upacara Metatah (Mesangih) Massal Desa Adat Panjer di Lapangan Wantilan Desa Adat Panjer, Sabtu (29/8/2026).

Pemkot Denpasar Kucurkan Rp1 Miliar, 266 Peserta Ikuti Metatah Massal Tanpa Biaya

DENPASAR, KEN-KEN KHABARE – Wali Kota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara turut ngayah nyangging dalam pelaksanaan Upacara Metatah (Mesangih) Massal yang digelar Desa Adat Panjer di Lapangan Wantilan Desa Adat Panjer, Sabtu (29/8/2026).

Kehadiran Jaya Negara tidak hanya sebagai bentuk dukungan Pemerintah Kota Denpasar terhadap pelaksanaan yadnya, tetapi juga menjadi wujud partisipasi langsung dalam kegiatan keagamaan masyarakat Desa Adat Panjer.

Metatah Massal tersebut merupakan bagian dari rangkaian Karya Manusa Yadnya dan Pitra Yadnya Atma Wedana (Nyekah Kurung Nyatur Muka) yang dilaksanakan Desa Adat Panjer.

Turut hadir Wakil Wali Kota Denpasar I Kadek Agus Arya Wibawa, anggota DPD RI IB Rai Dharmawijaya Mantra, anggota DPRD Provinsi Bali I Gusti Ngurah Gede Marhaendra Jaya, serta sejumlah tokoh masyarakat Kota Denpasar.

Jaya Negara menyampaikan apresiasi kepada Jero Bendesa Adat Panjer beserta jajaran dan seluruh krama yang telah melaksanakan karya secara gotong royong.

“Atas nama Pemerintah Kota Denpasar, kami mengucapkan terima kasih kepada Jero Bendesa Adat Panjer beserta seluruh jajaran yang telah melaksanakan karya ini. Ini merupakan wujud dharma, termasuk dharmaning negara, melalui kerja sama antara Pemerintah Kota Denpasar dengan Desa Adat Panjer,” ujar Jaya Negara.

Menurutnya, pelaksanaan upacara secara massal menjadi salah satu bentuk nyata kolaborasi pemerintah dengan desa adat dalam membantu meringankan beban masyarakat menjalankan swadharma keagamaan.

Dalam pelaksanaan karya tersebut, Pemerintah Kota Denpasar memberikan dukungan dana sebesar Rp1 miliar.

Jaya Negara mengatakan bantuan tersebut menjadi bagian dari dukungan pemerintah terhadap kegiatan masyarakat, sementara kebutuhan lainnya dipenuhi melalui semangat gotong royong.

“Walaupun bantuan ini tidak maksimal, kami memberikan dukungan sebesar Rp1 miliar, sementara kekurangannya dilaksanakan secara gotong royong. Saya kira tidak ada masyarakat yang mengeluarkan biaya,” jelasnya.

Ia berharap pola kebersamaan tersebut dapat terus dikembangkan tidak hanya dalam bidang spiritual dan mental, tetapi juga dalam berbagai bidang kehidupan masyarakat.

Menurutnya, semangat gotong royong menjadi modal penting untuk membangun harmonisasi di tengah dinamika masyarakat yang terus berkembang.

Bendesa Adat Panjer AA Ketut Oka Adnyana mengatakan pelaksanaan karya merupakan bagian dari komitmen Desa Adat Panjer untuk membantu meringankan beban finansial krama dalam menjalankan kewajiban keagamaan.

Rangkaian karya diawali dengan Pitra Yadnya berupa upacara Warak Kururon, Ngelungah, dan Nglangkir yang telah dilaksanakan pada 24 dan 25 Mei 2026.

Rangkaian tersebut kemudian dilanjutkan dengan Metatah atau Mesangih Massal sebagai bagian dari persiapan menuju upacara Atma Wedana atau Memukur.

“Upacara Atma Wedana ini bertujuan untuk meningkatkan penyucian roh pitara menuju Sunia Loka. Namun sebelum puncak Memukur dilaksanakan, kami menyelenggarakan upacara Metatah Massal,” ujar Oka Adnyana.

Baca Juga:  MPLS SMPN 2 Selemadeg Barat, Ajak Siswa Bijak Bermedia Sosial

Dalam Metatah Massal tahun ini tercatat 266 peserta mengikuti prosesi.

Sementara prosesi Memukur nantinya akan diikuti sebanyak 212 puspa dan dijadwalkan berlangsung pada 6 September 2026.

Peserta Metatah Massal tidak hanya berasal dari krama Desa Adat Panjer, tetapi juga terbuka bagi masyarakat di luar wilayah Desa Adat Panjer.

Jumlah peserta tahun ini disebut menjadi yang terbesar sepanjang pelaksanaan kegiatan yang rutin digelar setiap empat tahun sekali tersebut.

Yang menarik, seluruh rangkaian upacara dilaksanakan tanpa membebani krama dengan biaya pelaksanaan.

Pembiayaan ditopang melalui kas Desa Adat Panjer, LPD, serta unit-unit usaha yang dikelola desa adat. Selain itu, kegiatan juga mendapat dukungan dana Rp1 miliar dari Pemerintah Kota Denpasar.

“Krama tidak dibebani biaya alias gratis. Kami tidak menetapkan standar biaya sama sekali. Hanya memberikan punia, kami persilakan seikhlasnya sebagai wujud rasa syukur,” ungkap Oka Adnyana.

Selain Wali Kota Jaya Negara, anggota DPD RI IB Rai Dharmawijaya Mantra dan anggota DPRD Provinsi Bali I Gusti Ngurah Gede Marhaendra Jaya juga turut ngayah nyangging dalam pelaksanaan Metatah Massal.

Keterlibatan para tokoh tersebut menjadi bentuk partisipasi sekaligus dukungan terhadap pelaksanaan yadnya yang dilaksanakan Desa Adat Panjer.

Oka Adnyana berharap seluruh krama dapat mengikuti rangkaian karya dengan penuh ketenangan dan kesucian serta berlandaskan nilai-nilai Tri Kaya Parisudha.

Nilai tersebut diharapkan menjadi tuntunan bagi umat dalam mengendalikan hawa nafsu serta Sad Ripu, enam musuh yang terdapat dalam diri manusia.

Baca Juga:  Wawali Arya Wibawa Perkenalkan Graha Nawasena Dihadapan Komisi VIII DPR RI, Wujudkan Denpasar sebagai kota inklusif Ramah Disabilitas

Ke depan, Oka Adnyana berharap pelaksanaan karya yang rutin digelar setiap empat tahun sekali tersebut terus mendapatkan dukungan masyarakat.

Dengan penyelenggaraan upacara massal yang pembiayaannya ditanggung desa adat, krama diharapkan tidak lagi terbebani kebutuhan biaya besar secara mandiri.

Pola tersebut sekaligus menunjukkan bagaimana kolaborasi antara desa adat, masyarakat, dan pemerintah dapat menjadi kekuatan dalam menjaga keberlangsungan tradisi dan pelaksanaan yadnya sekaligus meringankan beban ekonomi masyarakat.

Editor: I N Arta W
Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here