
Dukung Penataan Kawasan, Karya Libatkan Sekitar 1.800 Krama dari 10 Banjar Adat
DENPASAR, KEN-KEN KHABARE – Wali Kota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara menghadiri puncak Karya Padudusan Alit, Mlaspas, Mendem Pedagingan, dan Mecaru Panca Kelud Wrespati Kalpa Agung di Kawasan Pantai Matahari Terbit, Sanur, Jumat (28/8/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Jaya Negara juga menyerahkan punia sebagai bentuk dukungan Pemerintah Kota Denpasar terhadap pelaksanaan karya yang digelar krama Desa Adat Sanur.
Kehadiran Wali Kota Jaya Negara menjadi bentuk dukungan pemerintah terhadap pelaksanaan kegiatan keagamaan sekaligus upaya menjaga keberadaan adat, budaya, dan tradisi Bali di tengah perkembangan kawasan Sanur.
Jaya Negara mengatakan, pelaksanaan karya menjadi momentum untuk meningkatkan sradha dan bhakti ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Selain aspek keagamaan, karya tersebut juga dinilai menjadi ruang memperkuat rasa syukur, kebersamaan, dan semangat gotong royong masyarakat.
“Semoga pelaksanaan karya ini dapat berjalan dengan lancar serta memberikan kerahayuan bagi seluruh krama. Momentum ini juga hendaknya semakin memperkuat kebersamaan kita dalam menjaga adat, budaya, lingkungan, dan keharmonisan kehidupan berlandaskan nilai-nilai Tri Hita Karana,” ujar Jaya Negara.
Menurutnya, pelestarian adat dan budaya perlu berjalan beriringan dengan penataan kawasan dan pembangunan, sehingga kemajuan wilayah tetap memiliki landasan nilai yang kuat.
Wakil Ketua Panitia Karya sekaligus Ketua Baga Parahyangan Desa Adat Sanur, Ida Bagus Kompiang Partama, menjelaskan rangkaian karya telah dimulai sejak 19 Agustus 2026 melalui pelaksanaan upacara Nuwasen.
Puncak karya dilaksanakan pada Jumat (28/8/2026) dan dipuput oleh Ida Pedanda Putra Telaga, Ida Pedanda Buda, serta Jelantik Gunung Sari Ubud.
Menurut Partama, pelaksanaan karya merupakan wujud rasa syukur krama Desa Adat Sanur atas waranugraha Ida Sang Hyang Widhi Wasa sekaligus memohon kerahayuan dalam proses penataan dan pembangunan kawasan.
“Pelaksanaan karya ini juga berkaitan dengan penataan Kawasan Pantai Matahari Terbit yang dilaksanakan secara berlandaskan konsep Tri Hita Karana, meliputi keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan lingkungan,” ujarnya.
Penataan Kawasan Pantai Matahari Terbit mencakup sejumlah pembangunan dan fasilitas yang diharapkan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.
Di antaranya penataan Petunon sebagai tempat pelaksanaan upacara Ngaben warga Sanur, pembangunan kawasan UMKM, pembangunan Kantor Desa Adat, renovasi Kantor LPD, penataan areal parkir, hingga pembangunan Patung Monumen Nelayan Lokal.
Selain itu, karya juga dilaksanakan dalam rangka mendirikan Pelinggih Padma sebagai pengulun Kawasan Matahari Terbit serta menstanakan Ida Bhatara Melanting sebagai pengayom kawasan ekonomi di pesisir pantai dan sekitarnya.
Penataan kawasan tersebut diharapkan tidak hanya memperkuat fungsi ruang publik dan ekonomi masyarakat, tetapi juga tetap menjaga nilai spiritual, adat, budaya, serta lingkungan pesisir Sanur.
Partama mengatakan seluruh rangkaian karya melibatkan krama dari 10 banjar adat dengan jumlah sekitar 1.800 orang.
Keterlibatan krama dalam jumlah besar tersebut menunjukkan kuatnya semangat gotong royong masyarakat Desa Adat Sanur dalam melaksanakan karya sekaligus mendukung penataan kawasan.
Pihaknya juga menyampaikan terima kasih atas kehadiran dan dukungan Wali Kota Denpasar bersama jajaran Pemerintah Kota Denpasar.
“Dukungan ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus menjaga adat, budaya, dan keharmonisan Desa Adat Sanur,” kata Partama.
Pelaksanaan Karya Padudusan Alit di Kawasan Pantai Matahari Terbit diharapkan semakin memperkuat sradha dan bhakti masyarakat sekaligus mempererat sinergi antara Desa Adat Sanur, masyarakat, dan Pemerintah Kota Denpasar.
Sinergi tersebut menjadi penting dalam memastikan penataan kawasan pesisir tetap berjalan dengan memperhatikan aspek sosial, ekonomi, budaya, spiritual, dan lingkungan.
Dengan berlandaskan nilai Tri Hita Karana, penataan Kawasan Pantai Matahari Terbit diharapkan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat sekaligus tetap menjaga karakter dan keberlanjutan Sanur.
Editor: I N Arta W


