
DENPASAR, KEN-KEN – Penampilan Sekaa Gong Tri Tunggal, Desa Adat Tanjung Bungkak, Desa Sumerta Kelod, Kecamatan Denpasar Timur, sukses menyihir ribuan penonton yang memadati area Panggung Terbuka Ardha Candra, Denpasar, Minggu (5/7) malam.
Sekaa Gong Tri Tunggal tampil sebagai Duta Kota Denpasar dalam Utsawa atau Parade Gong Kebyar Dewasa serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XVIII Tahun 2026. Pada kesempatan tersebut, Duta Kota Denpasar tampil berdampingan dengan Duta Kabupaten Jembrana yang diwakili Sekaa Gong Widya Taruna, Desa Pohsanten, Kecamatan Mendoyo.
Pertunjukan yang berlangsung atraktif dan penuh totalitas tersebut turut disaksikan Gubernur Bali, I Wayan Koster, serta Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara. Hadir pula Ketua TP PKK Kota Denpasar, Ny. Sagung Antari Jaya Negara, dan Sekretaris Daerah Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Eddy Mulya.
Koordinator Sekaa Gong Tri Tunggal, I Kadek Bhaswara Dwitiya, didampingi Kepala Bidang Kesenian Dinas Kebudayaan Kota Denpasar, I Wayan Narta, menjelaskan bahwa Duta Kota Denpasar membawakan tiga garapan karya dalam pementasan tersebut.
Garapan pertama yakni Tabuh Lima Lelambatan Gora Kala Aci. Karya tabuh lelambatan kreasi ini terinspirasi dari ritual persembahan suci dalam upacara karya melaspas Paryangan Kawitan I Gusti Ngurah Sentong, yang dikenal sebagai pakar Gamelan Gambang.
Dalam garapan tersebut, penata tabuh berupaya menuangkan musikal konseptual melalui transformasi permainan arpeggio atau permainan nada-nada akor gamelan gambang. Komposisi tersebut dikemas apik menjadi Tabuh Lima Lelambatan dengan tetap menerapkan pola-pola tradisi tabuh pegongan.
Garapan kedua adalah Tari Kreasi Gagak Pitru Loka. Karya tari kreasi ini menginterpretasikan keterkaitan burung gagak sebagai simbol transformasi atau pembawa pesan menuju tempat persemayaman pitri atau roh leluhur sebelum reinkarnasi.
Karya tari tersebut menerjemahkan nilai filosofi Gagak Ora yang memiliki konsep purusa-pradana, sebagaimana tersirat dalam gending Gambang Pura Kelaci. Secara umum, karya ini mengandung makna ngelelatik atau saling mengisi dalam bhakti karma, yakni perbuatan dalam pengabdian hidup sebagai bekal menuju akhirat.
Menurut Kadek Bhaswara, inspirasi tari ini diimplementasikan melalui struktur karya dan motif gerak tari yang menjadi kompilasi simbol sesuai makna ekologis kehidupan manusia, roh, serta burung gagak sebagai ceciren atau karakteristik kehidupan alam. Karya ini juga memuat pesan tentang Gagak Ora sebagai pangungkab lawang swargaloka.
Adapun garapan ketiga adalah fragmentasi tari bertajuk Ngumbara Jiwa. Karya ini merepresentasikan laku lampah, semita, dan dinamika pengembaraan I Gusti Ngurah Sentong atas titah Raja Sweca Linggarsapura Gelgel untuk mencari gending gambang sebagai pengantar jiwa saat sang raja kelak mangkat menuju alam akhirat.
Secara garis besar, karya ini menarasikan perjalanan Ngumbara Jiwa I Gusti Ngurah Sentong hingga menemukan karya gending Gambang mistik monumental. Karya tersebut disebut memiliki dimensi spiritual dan metafisik berskala besar, serta berdampak historis dalam kaitannya dengan pelaksanaan pitra yadnya ageng di Bali.
“Seluruh persiapan tiga garapan karya ini telah kami laksanakan sejak beberapa waktu lalu. Sebagai Duta Kota Denpasar, kami ingin tampil sebaik mungkin,” ungkap Kadek Bhaswara.
Sementara itu, Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara, menyampaikan apresiasi tinggi atas penampilan Sekaa Gong Tri Tunggal sebagai Duta Kota Denpasar. Ia menilai seluruh garapan yang ditampilkan sangat apik, luar biasa, dan mampu menghadirkan kekuatan taksu seni budaya Bali.
Menurut Jaya Negara, penampilan para seniman Kota Denpasar tersebut tidak sekadar menjadi pementasan seni budaya, tetapi juga menjadi refleksi kuatnya dedikasi dalam menjaga, merawat, dan melestarikan warisan budaya serta kesenian Bali.
“Astungkara, penampilan Sekaa Gong Tri Tunggal Desa Adat Tanjung Bungkak, Sumerta Kelod, sangat luar biasa dan metaksu. Terima kasih atas dedikasi luar biasa para seniman Kota Denpasar,” kata Jaya Negara.
Melalui penampilan ini, Sekaa Gong Tri Tunggal tidak hanya membawa nama Kota Denpasar di panggung bergengsi PKB XVIII Tahun 2026, tetapi juga mempertegas komitmen seniman Denpasar dalam menjaga keberlanjutan seni tradisi Bali melalui karya yang kreatif, filosofis, dan berakar kuat pada nilai budaya.
Editor: Ken


