Dipuput Sembilan Sulinggih, Wali Kota Jaya Negara Hadiri Puncak Karya Padudusan Agung di Segara Rupek

0
51
Foto: Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara yang juga selaku Penglingsir Puri Penatih, Ketua Umum Paiketan Warga Arya Wang Bang Pinatih sekaligus Pengrajeg Karya tersebut didampingi Ketua TP PKK Kota Denpasar, Ny. Sagung Antari Jaya Negara saat mengikuti rangkaian Puncak Karya Mamungkah, Ngenteg Linggih, Tawur Tabuh Gentuh, dan Padudusan Agung Menawa Ratna di Pura Dang Kahyangan Payogan Agung Segara Rupek dan Pura Taman Beji Segara Rupek, Desa Sumberklampok, Kecamatan Gerokgak, Minggu (14/6) .

BULELENG, KEN-KEN – Wali Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara, menghadiri Puncak Karya Padudusan Agung Menawa Ratna di Pura Dang Kahyangan Payogan Agung Segara Rupek dan Pura Taman Beji Segara Rupek, Desa Sumberklampok, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, Minggu (14/6).

Puncak karya tersebut bertepatan dengan Tilem Sasih Sadha dan berlangsung khidmat sejak pagi hari.

Kehadiran Jaya Negara yang juga selaku Penglingsir Puri Penatih, Ketua Umum Paiketan Warga Arya Wang Bang Pinatih, sekaligus Pengrajeg Karya, didampingi Ketua TP PKK Kota Denpasar, Ny. Sagung Antari Jaya Negara.

Baca Juga:  Hadirkan Kekayaan Tradisi dan Spirit Agraris, Tabanan Semarakkan Peed Aya PKB XLVIII Tahun 2026

Puncak karya dipuput oleh sembilan sulinggih dari berbagai griya di Bali.

Sembilan sulinggih tersebut yakni Ida Pedanda Gede Sukawati Manuaba selaku Wiku Yajamana; Ida Pedanda Bhoda dari Griya Gede Tegal Jadi Tabanan; Ida Rsi Bhujangga Hari Dantam dari Griya Tumbak Bayuh Badung; Ida Pedanda Reshi Agung Pinatih Kusuma Yoga dari Griya Agung Tulikup Gianyar; serta Ida Rsi Agung Sidemen Sumurdha Gotama Karang dari Griya Bhuda Klungkung.

Selain itu, turut muput Ida Pedanda Gede Putra Sidhanta Manuaba dari Griya Gede Bantas Gali Ukir Pupuan Tabanan; Ida Rsi Agung Wayabya Suprabhu Sogata Karang dari Griya Agung Buduk Badung; Ida Rsi Agung Putra Sidhimantra dari Griya Agung Bumbak Badung; serta Ida Pedanda Gede Dwija Putra Manuaba dari Griya Bedulu, Jembrana.

Jaya Negara menjelaskan, sebelum pelaksanaan puncak karya, terlebih dahulu telah dilaksanakan prosesi Melasti dan Mulang Pakelem sebagai bagian dari rangkaian Karya Mamungkah, Ngenteg Linggih, Tawur Tabuh Gentuh, dan Padudusan Agung Menawa Ratna pada Sabtu (13/6).

Baca Juga:  Gubernur Koster Lepas Peed Aya, Tandai Pembukaan Pesta Kesenian Bali XLVIII

Upacara Melasti tersebut dipuput oleh Ida Pedanda Gede Putra Dalem dari Griya Dalem Sibang; Ida Pedanda Dwija Padang Rata dari Griya Kutri Gianyar; serta Ida Pedanda Nabe Istri Rai Sigaran dari Griya Manistutu, Jembrana.

Menurut Jaya Negara, rangkaian Melasti memiliki makna penting sebagai prosesi penyucian dan permohonan kerahayuan sebelum memasuki puncak karya.

Melalui upacara tersebut, umat memohon agar seluruh rangkaian yadnya dapat berjalan lancar serta memberikan keselamatan dan keseimbangan bagi alam semesta.

“Melalui pelaksanaan Melasti ini, diharapkan seluruh rangkaian Karya Agung di Pura Dang Kahyangan Payogan Agung Segara Rupek dapat berlangsung lancar dan memberikan kerahayuan bagi umat serta alam semesta,” ujar Jaya Negara.

Lebih lanjut, Jaya Negara mengapresiasi semangat pengabdian seluruh pihak yang terlibat dalam pelaksanaan karya.

Menurutnya, yadnya yang dilaksanakan tidak hanya menjadi sarana meningkatkan sradha dan bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, tetapi juga mempererat persaudaraan umat serta memperkuat nilai-nilai kebersamaan yang menjadi fondasi kehidupan masyarakat Bali.

Dalam kesempatan tersebut, Jaya Negara juga menyampaikan terima kasih kepada para sulinggih, pemerintah, pengempon dan pengemong pura, para donatur, serta masyarakat yang turut ngayah dan memberikan punia.

Dukungan yang diberikan, baik moril maupun materiil, menjadi bukti nyata semangat gotong royong dalam menjaga keberlangsungan warisan spiritual dan budaya Bali.

Jaya Negara menjelaskan bahwa Pura Dang Kahyangan Payogan Agung Segara Rupek merupakan salah satu pura kahyangan jagat yang memiliki nilai sejarah dan spiritual tinggi bagi umat Hindu.

Karena itu, keberadaan pura tersebut perlu terus dijaga, dipelihara, dan diwariskan kepada generasi mendatang sebagai bagian dari kekayaan budaya dan spiritual Bali.

“Karya ini merupakan wujud bhakti yang tulus kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa serta bentuk tanggung jawab bersama dalam menjaga kesucian dan kelestarian Pura Dang Kahyangan Payogan Agung Segara Rupek sebagai pura kahyangan jagat,” ujar Jaya Negara.

Jaya Negara juga mengapresiasi dukungan Gubernur Bali, Wayan Koster, pemerintah daerah se-Bali, Bank BPD Bali, serta seluruh pihak yang telah berkontribusi sehingga pelaksanaan karya dapat berlangsung dengan baik.

Menurutnya, sinergi dan kebersamaan tersebut menjadi kekuatan utama dalam menjaga eksistensi pura dan tradisi keagamaan yang diwariskan para leluhur.

Jaya Negara menambahkan, karya yang dipuput para sulinggih dari berbagai soroh dan wangsa di Bali tersebut tidak hanya bertujuan menyucikan kawasan pura, tetapi juga menyucikan Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit.

“Melalui karya ini kita bersama-sama memohon agar alam semesta senantiasa dianugerahi keselamatan, kedamaian, dan kerahayuan. Nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, dan bhakti yang terbangun selama pelaksanaan karya menjadi kekuatan penting dalam menjaga keharmonisan kehidupan masyarakat Bali,” ujar Jaya Negara.

Melalui Puncak Karya Padudusan Agung Menawa Ratna ini, umat diharapkan semakin memperkuat sradha bhakti, menjaga kesucian pura, serta merawat nilai-nilai spiritual yang telah diwariskan para leluhur.

Pelaksanaan karya juga menjadi momentum memperkokoh harmoni sekala dan niskala sebagai fondasi kehidupan masyarakat Bali yang religius, berbudaya, dan berlandaskan semangat Tri Hita Karana.

Editor: Ken

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here