
DENPASAR, KEN-KEN – Gubernur Bali, Wayan Koster, mengapresiasi gerakan penanaman mangrove yang diinisiasi Direktorat Jenderal Politik dan Pemerintahan Umum Kementerian Dalam Negeri RI. Aksi penanaman bibit bakau yang digelar di Mangrove Arboretum Park, Denpasar, Jumat (10/4/2026), dinilai sejalan dengan komitmen Pemerintah Provinsi Bali dalam menjaga kelestarian ekosistem alam.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian Sharing Session Pelaksanaan Urusan Pemerintahan Umum di Daerah yang dilaksanakan Kementerian Dalam Negeri.
Dalam sambutannya, Gubernur Koster menegaskan bahwa gerakan menanam mangrove bukan hal baru bagi Bali. Menurutnya, program tersebut sejalan dengan agenda rutin Pemerintah Provinsi Bali dalam melakukan penanaman pohon, khususnya mangrove, di kawasan-kawasan yang dinilai rawan abrasi.
“Apa yang diprogramkan hari ini merupakan bagian dari agenda rutin kami menanam pohon, khususnya mangrove, dan Bali memang memiliki kawasan yang cocok untuk tanaman ini,” ujarnya.
Koster menjelaskan, gerakan penanaman mangrove memiliki arti penting bagi Bali karena sejumlah kawasan pesisir di Pulau Dewata saat ini mengalami abrasi yang cukup serius. Kondisi itu, kata dia, berdampak langsung pada berkurangnya luas daratan di sejumlah wilayah pesisir, baik di Bali Selatan maupun Bali Utara.
Ia menyebut, dalam kurun waktu sekitar sepuluh tahun, luas daratan Bali disebut berkurang sekitar 40 kilometer persegi akibat abrasi.
“Di Bali Selatan bahkan banyak sawah yang sekarang hanya tersisa sertifikatnya saja,” ungkapnya.
Karena itu, menurut Koster, penanaman mangrove menjadi salah satu langkah penting dan mendesak dalam menangkal abrasi sekaligus menjaga keseimbangan lingkungan pesisir Bali.
Atas dasar itu, Gubernur Koster menyampaikan terima kasih kepada Ditjen Politik dan Pemerintahan Umum Kemendagri atas inisiatif melaksanakan gerakan penanaman mangrove di Bali.
Ia menilai, kegiatan semacam ini akan semakin memotivasi pemerintah daerah dan masyarakat untuk bergerak bersama dalam menjaga lingkungan hidup.
“Kegiatan ini akan semakin memotivasi kami untuk bergerak bersama dalam menjaga lingkungan. Ini adalah hal prioritas dan mendesak yang harus dilakukan dengan melibatkan seluruh komponen masyarakat,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Koster juga menyinggung komitmen Bali dalam menjaga lingkungan yang selama ini telah diperkuat melalui berbagai regulasi daerah. Menurutnya, regulasi yang ada saat ini sebenarnya sudah cukup memadai, sehingga tantangan terbesarnya kini terletak pada implementasi di lapangan.
Ia menjelaskan, bentuk implementasi yang selama ini dijalankan antara lain gerakan penanaman pohon, bersih sungai, bersih laut, hingga bersih danau yang biasanya dilaksanakan secara rutin setiap bulan.
Namun demikian, ia mengakui bahwa saat ini sebagian agenda tersebut sedang mengalami penyesuaian karena Pemerintah Provinsi Bali tengah fokus menangani persoalan sampah, terutama pasca pemberlakuan kebijakan di TPA Suwung yang sejak 1 April 2026 tidak lagi menerima kiriman sampah organik dan direncanakan ditutup total mulai 1 Agustus 2026.
“Sekarang ini kami bersama Wali Kota Denpasar dan Bupati Badung sedang bekerja keras mengendalikan agar tidak ada lagi aliran sampah organik ke TPA Suwung. Masyarakat juga sudah mulai bergerak memilah sampah dari sumber,” ujarnya.
Koster menambahkan, situasi penanganan sampah saat ini mulai menunjukkan kondisi yang lebih kondusif.
Lebih jauh, Gubernur Bali dua periode itu mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama menyelesaikan berbagai persoalan yang sedang dihadapi Bali, baik di bidang lingkungan maupun pembangunan daerah secara umum.
“Bali ini harus kita urus bersama. Karena Bali bukan hanya milik orang Bali, tetapi juga milik Indonesia dan dunia. Kita wujudkan Bali yang aman, nyaman, dan bersih untuk dikunjungi wisatawan,” katanya.
Menutup sambutannya, Koster kembali menegaskan posisi strategis Bali bagi Indonesia, khususnya dalam sektor pariwisata. Ia menyebut, dengan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara mencapai 7.050.000 orang pada tahun 2025, Bali memberikan kontribusi sekitar 45,8 persen terhadap total kunjungan wisatawan asing ke Indonesia.
Menurutnya, rata-rata wisatawan mancanegara menghabiskan belanja sebesar 1.522,44 dolar AS dengan lama tinggal rata-rata 11,9 hari. Jika dikalkulasi, total belanja wisatawan asing di Bali mencapai sekitar Rp176 triliun, sementara secara nasional mencapai sekitar Rp319,9 triliun.
“Artinya, Bali yang kecil ini menyumbang sekitar 55 persen devisa pariwisata untuk negara,” pungkasnya.
Dengan besarnya kontribusi tersebut, Koster menegaskan dirinya akan terus memperjuangkan agar pemerintah pusat memberikan perhatian lebih besar terhadap pembangunan dan peningkatan kualitas infrastruktur penunjang sektor pariwisata di Bali.
Editor: Ken


