Nyepi 2026 di Bali: Pengerupukan dan Ogoh-Ogoh Semarak, Pemerintah Tekankan Harmoni dan Ketertiban

0
152
Foto: Suasana Pengerupukan sehari menjelan Nyepi Caka 1948, (18/3).

DENPASAR, KEN-KEN — Rangkaian perayaan Hari Suci Nyepi Tahun Baru Caka 1948 di Bali berlangsung penuh khidmat sekaligus semarak, diawali dengan prosesi Tawur Agung Kesanga dan dilanjutkan dengan malam Pengerupukan yang identik dengan pawai ogoh-ogoh di berbagai wilayah, Rabu (18/3/2026).

Sejak sore hari, masyarakat Bali telah memadati pusat-pusat kegiatan adat, termasuk kawasan Catus Pata Patung Catur Muka Denpasar, yang menjadi salah satu titik utama pelaksanaan ritual penyucian alam (Bhuta Yadnya). Prosesi sakral tersebut diiringi gambelan, kidung suci, serta tarian wali yang menambah suasana religius dan magis.

Memasuki malam hari, suasana berubah menjadi lebih dinamis dengan digelarnya pawai ogoh-ogoh oleh sekaa teruna di masing-masing desa adat. Ribuan masyarakat tumpah ruah menyaksikan kreativitas generasi muda yang menampilkan ogoh-ogoh dengan konsep artistik, bahkan dipadukan teknologi modern yang mampu menghadirkan gerakan dinamis.

Ogoh-Ogoh: Antara Seni, Kritik Sosial, dan Spirit Ritual

Pawai ogoh-ogoh bukan sekadar atraksi budaya, melainkan simbolisasi Bhuta Kala yang harus dinetralisir sebelum memasuki Nyepi. Setiap ogoh-ogoh membawa pesan filosofis, mulai dari kritik sosial, isu lingkungan, hingga refleksi kehidupan manusia.

Wali Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara, menegaskan bahwa pelaksanaan malam Pengerupukan tetap mengacu pada nilai adat dan kearifan lokal yang berlaku di masing-masing desa adat.

“Pelaksanaan malam Pengerupukan dan Nyepi kami serahkan kepada Desa Adat sesuai dresta, adat istiadat, dan awig-awig yang berlaku. Namun tetap harus dilaksanakan dengan tertib, aman, dan penuh tanggung jawab,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa keberadaan Perda Kota Denpasar Nomor 9 Tahun 2024 tentang Pelestarian Ogoh-Ogoh menjadi landasan penting dalam menjaga keberlanjutan tradisi ini agar tetap ajeg dan tidak kehilangan nilai sakralnya.

Nyepi Momentum Harmoni dan Pengendalian Diri

Sementara itu, Gubernur Bali, Wayan Koster, sebelumnya juga menekankan bahwa perayaan Nyepi tahun ini memiliki tantangan tersendiri karena beriringan dengan Hari Raya Idul Fitri.

Menurutnya, seluruh elemen masyarakat harus menjaga toleransi dan keharmonisan, terutama dalam pelaksanaan kegiatan yang berpotensi menimbulkan keramaian seperti pawai ogoh-ogoh.

“Saya mengajak seluruh masyarakat Bali untuk menjaga ketertiban, keamanan, serta mengedepankan toleransi antar umat beragama. Ini sudah menjadi komitmen kita bersama agar Bali tetap aman dan kondusif,” tegas Koster.

Baca Juga:  Perbedaan Lebaran di Bali Jadi Pelajaran Toleransi, Muhammadiyah: “Bukan Konflik, Ini Rahmat”

Tradisi yang Terus Berkembang di Tengah Modernitas

Fenomena ogoh-ogoh tahun 2026 menunjukkan perkembangan signifikan. Tidak hanya dari segi ukuran dan estetika, tetapi juga penggunaan teknologi mekanik dan pencahayaan yang semakin canggih.

Di berbagai daerah seperti Denpasar, Badung, dan Tabanan, ogoh-ogoh kini tidak hanya diarak, tetapi juga dipentaskan sebagai karya seni pertunjukan yang terkonsep matang. Hal ini menjadi bukti bahwa tradisi Bali mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai filosofisnya.

Namun demikian, pemerintah daerah tetap mengingatkan agar euforia tidak mengesampingkan makna utama Nyepi sebagai momentum introspeksi diri (mulat sarira).

Baca Juga:  Presiden Prabowo Salat Id dan Rayakan Idul Fitri Bersama Korban Bencana di Aceh Tamiang

Menuju Hari Hening

Setelah malam Pengerupukan, seluruh aktivitas di Bali akan dihentikan total selama 24 jam pada Hari Nyepi, yang dimulai pukul 06.00 Wita.

Umat Hindu menjalankan Catur Brata Penyepian, yakni: (1) Amati Geni (tidak menyalakan api); (2) Amati Karya (tidak bekerja); (3) Amati Lelungan (tidak bepergian); (4) Amati Lelanguan (tidak bersenang-senang)

Dalam keheningan tersebut, Bali seolah “beristirahat”, memberikan ruang bagi alam untuk pulih sekaligus menjadi refleksi mendalam bagi manusia.

Baca Juga:  Wawali Arya Wibawa Buka SHOF 2026, Apresiasi Konsistensi Yowana Sesetan Lestarikan Budaya

Di tengah gemerlap ogoh-ogoh dan semarak pengerupukan, Bali kembali menunjukkan jati dirinya: budaya yang hidup, spiritualitas yang kuat, dan harmoni yang terjaga.

Nyepi bukan sekadar sunyi, tetapi pesan besar bahwa dalam diam, manusia belajar memahami dirinya dan alam semesta.

Editor: Ken

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here