Dunia Pers Bali Berduka, Wayan Suyadnya Tutup Usia

0
117
Foto: Jurnalis Senior Bali, I Wayan Suyadnya (alm).

DENPASAR, KEN-KEN – Kabar duka datang dari dunia jurnalistik Bali. Wartawan senior sekaligus Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Bali, Wayan Suyadnya, meninggal dunia pada Jumat (20/3/2026) sekitar pukul 10.29 Wita di RS Bali Mandara. Almarhum berpulang dalam usia 61 tahun setelah berjuang melawan sakit jantung.

Kepergian Suyadnya meninggalkan kehilangan mendalam bagi insan pers di Bali. Ia dikenal sebagai sosok jurnalis yang teguh memegang prinsip, lugas dalam bersikap, serta memiliki keberanian tinggi dalam menyuarakan kebenaran.

Lahir di Mataram, Nusa Tenggara Barat, pada 6 Oktober 1965, Suyadnya memulai perjalanan jurnalistiknya di Bali Post pada awal 1990-an. Ia sempat menjalankan tugas di Mataram sebelum akhirnya aktif dalam dinamika dunia pers di Bali.

Di mata rekan-rekannya, almarhum adalah pribadi yang konsisten dan tidak mudah berkompromi terhadap nilai-nilai yang diyakininya.

“Beliau sangat tegas, lugas, dan idealis. Tidak ragu berdiri di garis depan demi kebenaran,” kenang Komang Suarsana, rekan seangkatannya di Bali Post.

Baca Juga:  Wawali Arya Wibawa Buka SHOF 2026, Apresiasi Konsistensi Yowana Sesetan Lestarikan Budaya

Kariernya terus berkembang. Pada 2013, ia memilih keluar dari Bali Post dan turut mendirikan Harian Pos Bali bersama sejumlah tokoh pers Bali, termasuk Made Nariana. Tak berhenti di sana, semangat independensinya mendorongnya mendirikan Koran Media Bali serta media siber mediabali.id.

Media yang dirintisnya menjadi ruang yang menggabungkan nilai-nilai jurnalisme klasik dengan pendekatan digital modern, sekaligus menjadi wadah diskusi publik yang kritis dan terbuka.

Dedikasi Suyadnya juga meluas di luar ruang redaksi. Ia dipercaya sebagai Komisioner KPID Bali periode 2022–2025, dan kembali terpilih untuk periode 2025–2028 dengan tanggung jawab di bidang isi siaran. Dalam perannya tersebut, ia dikenal aktif menjaga kualitas penyiaran serta menegakkan etika media di Bali.

Kepergiannya yang bertepatan dengan momen Ngembak Geni, sehari setelah Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1948, menambah nuansa reflektif atas perjalanan hidupnya.

“Nyepi seolah menjadi keheningan terakhir yang beliau jalani sebelum berpulang,” ujar Dewa Sumerta, salah satu koleganya.

Ucapan duka pun mengalir dari berbagai kalangan. Nyoman Sunaya menyampaikan, “Amor Ing Acintya… turut berdukacita, semoga almarhum mendapat tempat terbaik.” Hal senada juga disampaikan Djoko Purnomo dari SMSI Bali serta Nyoman Ady Irawan dari JMSI Bali yang mengenang almarhum dengan penuh hormat.

Baca Juga:  "Sapa Warang" Ribuan Warga Terpukau, Ogoh-Ogoh Sapa Warang Jadi Bintang Malam Pengerupukan

“Pertama kali bertemu almarhum, saat ngopi bareng di kedai kopi di jalan Kaliasem sambil ngobrol dan berdiskusi seputar isu, dan berlanjut di grup Whatsapp. Kabar duka disampaikan bro. Hendrico Kleden melalui pesan Whatsapp. Dumogi Amor Ing Acintya” ujar I Nyoman Arta Wirawan dari Sekretaris SMSI Kab. Tabanan.

Di akhir hayatnya, Suyadnya masih aktif menuangkan gagasan kritis melalui tulisan-tulisan opini yang dikenal dengan seri “Catatan Paradoks”, membahas isu jurnalisme, sosial, hingga politik.

Kini, dunia pers Bali kehilangan salah satu figur penting yang telah memberikan kontribusi besar bagi perkembangan jurnalisme. Namun, jejak pemikiran, keberanian, dan idealisme yang ditinggalkannya akan terus hidup dan menjadi inspirasi bagi generasi berikutnya.

Selamat jalan, Wayan Suyadnya. Pengabdianmu untuk kebenaran akan selalu dikenang.

Editor: Ken

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here