“Sapa Warang” Ribuan Warga Terpukau, Ogoh-Ogoh Sapa Warang Jadi Bintang Malam Pengerupukan

0
117
Foto: Ogoh-ogoh "Sapa Warang", Br. Gemeh.

DENPASAR, KEN-KEN – Malam upacara Pangerupukan yang sebelumnya didahului oleh upacara tawur kasanga di Catus Pata, di titik nol Kota Denpasar, Ogoh-ogoh berkumpul, dan bukan sekadar parade ogoh-ogoh yang berlangsung. Ada sesuatu yang lebih dari sekadar tontonan sebuah perenungan yang diam-diam merasuk ke dalam hati ribuan orang yang hadir.

Di tengah gemuruh suara, kilatan kamera, dan riuh tepuk tangan, satu karya berhasil mencuri perhatian: Sapa Warang, ogoh-ogoh karya krama Banjar Gemeh.

Begitu ogoh-ogoh itu muncul, suasana seketika berubah. Mata-mata terpaku. Kamera ponsel terangkat serempak. Kilatan cahaya bersahutan, seolah tak ingin melewatkan satu detik pun dari kehadiran karya tersebut.

Namun yang membuatnya istimewa bukan hanya bentuknya. Ada cerita di dalamnya, ada jiwa yang berbicara.

Sapa Warang menghadirkan refleksi tentang awal kehidupan manusia, tentang tangisan pertama yang lahir ke dunia. Tangisan yang selama ini sering dianggap sederhana, namun dalam karya ini dimaknai sebagai simbol awal kesadaran manusia.

Tangisan itu bukan sekadar suara. Ia adalah getaran kehidupan. Sebuah tanda bahwa manusia hadir, hidup, dan memulai perjalanan panjangnya.

Dalam filosofi yang diusung, tangisan pertama itu adalah janji suci sebuah pengingat bahwa hidup adalah proses belajar yang tiada henti.

Seiring waktu, manusia tumbuh. Ia mengenal dunia. Ia mengejar mimpi, ambisi, dan harapan. Namun dalam perjalanan itu, sering kali manusia kehilangan sesuatu yang paling mendasar: kejujuran terhadap dirinya sendiri.

Sapa Warang menggambarkan bagaimana manusia perlahan terjebak dalam ketakutan, tekanan, dan ambisi yang tidak berasal dari kesadaran sejati. Tubuh yang seharusnya menjadi media paling jujur dalam membaca kehidupan justru sering diabaikan.

Dan di situlah manusia mulai tersesat.

Ia lupa siapa dirinya. Ia lupa ke mana ia berjalan. Ia kehilangan arah dalam mencari makna hidup.

Melalui ogoh-ogoh ini, Banjar Gemeh seakan mengajak setiap orang untuk berhenti sejenak merenung, dan kembali mendengarkan “suara pertama” dalam dirinya.

Bahwa hidup bukan hanya tentang bergerak maju, tetapi juga tentang memahami perjalanan itu sendiri.

Bahwa di balik hiruk-pikuk dunia, manusia selalu memiliki ruang untuk kembali kepada kesadaran, kepada kejujuran, kepada jati dirinya.

Tak heran jika Sapa Warang bukan hanya menjadi tontonan, tetapi juga pengalaman batin bagi banyak orang yang menyaksikannya.

Di tengah tradisi Pengerupukan yang identik dengan energi, kreativitas, dan euforia, karya ini justru menghadirkan sisi lain hening, reflektif, dan penuh makna.

Mungkin itulah kekuatan sejati ogoh-ogoh hari ini.

Bukan hanya sebagai simbol bhuta kala yang dinetralisir, tetapi juga sebagai cermin bagi manusia untuk melihat dirinya sendiri.

Dan malam itu, di tengah gemerlap Denpasar, Sapa Warang berhasil melakukan hal yang tidak mudah membuat orang berhenti sejenak, dan diam-diam bertanya dalam hati:

“Apakah aku masih mengenal diriku sendiri?”

*Dikutip: My Tampaksiring.

Editor: Ken

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here