Gubernur Koster Buka Seminar Nasional “Mawali Ring Uluning Kertha”Cegah dan Tangkal Intervensi Sampradaya Asing Ideologi Transnasional

0
14
Foto: Gubernur Wayan Koster membuka Seminar Mawali Ring Uluning Kertha di Denpasar, (3/4).

DENPASAR, KEN-KEN – Gubernur Bali Wayan Koster membuka Seminar Nasional “Mawali Ring Uluning Kertha” yang mengangkat tema Strategi Penguatan Dresta Bali dalam Mencegah dan Menangkal Intervensi Sampradaya Asing Ideologi Transnasional, di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Jumat (3/4/2026) pagi.

Kegiatan yang diselenggarakan oleh Forum Gerakan Adat Se-Nusantara (FORGAS) Provinsi Bali ini menjadi ruang penting untuk membahas langkah strategis menjaga tradisi, adat, dan kearifan lokal Bali di tengah tantangan modernisasi, digitalisasi, serta masuknya pengaruh eksternal.

Dalam sambutannya, Gubernur Koster menegaskan bahwa para pemimpin dan masyarakat Bali dituntut menjaga Dresta Bali secara sistematis, tanpa bersikap reaktif maupun emosional. Menurutnya, langkah yang diambil harus tetap terukur agar tidak memicu konflik horizontal yang justru dapat mengganggu stabilitas pariwisata dan ekonomi Bali.

Ia menekankan bahwa seminar yang digelar bukan sekadar forum diskusi, melainkan bagian dari langkah strategis dalam memperkuat ideologi bangsa yang berlandaskan Pancasila dengan akar kuat pada tradisi dan kearifan lokal, khususnya yang tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat adat.

Baca Juga:  Hari Pertama IBTK 2026 di Besakih Berjalan Lancar, Kebersihan Kawasan Jadi Fokus Arahan Gubernur Bali Tekankan Kenyamanan Pemedek hingga Detail Fasilitas

“Bali tidak memiliki kekayaan sumber daya alam tambang seperti minyak, gas, atau batu bara. Anugerah terbesar Bali adalah kebudayaan, yang menjadi hulu atau penggerak utama sektor pariwisata dan ekonomi. Jika budaya rusak, maka daya tarik Bali akan hilang,” tegas Koster.

Koster menjelaskan, fondasi utama dalam menjaga budaya Bali adalah desa adat. Berbeda dengan desa dinas yang merupakan bentukan negara, desa adat disebutnya sebagai warisan sosiologis-historis dari leluhur Bali.

Karena itu, penguatan kelembagaan desa adat terus dilakukan melalui Perda Nomor 4 Tahun 2019 tentang Desa Adat di Bali, termasuk berbagai regulasi turunan yang melindungi bahasa, aksara, dan busana Bali.

Baca Juga:  Gubernur Koster Tegaskan Karya IBTK di Besakih Harus Berjalan Tertib dan Khidmat

“Membangun atau mempertahankan budaya tidak bisa dibeli dengan uang. Ia membutuhkan rekayasa sosial, pemahaman ideologis, dan konsistensi, karena yang dihadapi adalah benda hidup, yaitu masyarakat, yang terus digempur oleh pengaruh eksternal,” terangnya.

Lebih lanjut, Koster mengingatkan bahwa Bali merupakan etalase dunia yang sarat kepentingan. Karena itu, setiap kebijakan yang diambil tidak boleh dilakukan secara tergesa-gesa atau konfrontatif. Pendekatan yang digunakan, menurutnya, harus arif, cermat, dan penuh pertimbangan.

Ia menekankan adanya konsekuensi atau trade-off dalam menjaga Bali. Di satu sisi, pemerintah dan masyarakat harus tegas menjaga budaya. Namun di sisi lain, pelaksanaannya tidak boleh menimbulkan distorsi, masalah baru, atau konflik horizontal yang justru dapat merusak iklim pariwisata dan ekonomi Bali.

Baca Juga:  Pemkot Denpasar Laksanakan Bhakti Penyineban Pujawali Pura Agung Lokanatha

“Ini yang menjadi tantangan besar kita ke depan semuanya. Yang harus kita jaga sama-sama di Bali ini. Karena kita tengah menghadapi faktor eksternal yang ingin berkembang di Bali. Ada yang positif, ada yang tidak. Salah satu yang bisa mengancam kalau kita tidak waspada dan tidak bekerja secara sistematis, maka Bali ini akan rusak. Untuk itu, Dresta Bali ini harus dijaga dengan kuat,” tambahnya.

Gubernur Koster berharap seminar yang diselenggarakan FORGAS mampu mengedukasi masyarakat, khususnya generasi muda dan para tokoh masyarakat, agar tetap kuat dan teguh dalam menjalankan ajaran Hindu secara utuh berdasarkan tattwa, susila, dan acara yang berpijak pada Dresta Bali.

Ia juga menegaskan bahwa penguatan desa adat dan tokoh-tokoh masyarakat adat perlu terus dilakukan agar pemahaman terhadap ajaran Hindu Bali dan Hindu Nusantara yang adiluhung semakin kokoh di tengah masyarakat.

Editor: Ken

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here