
Diharapkan Jadi Pusat Edukasi Sejarah dan Kebudayaan Masyarakat
DENPASAR, KEN-KEN — Proses revitalisasi Monumen Perjuangan Puputan Badung akhirnya rampung. Setelah melalui tahapan pemugaran patung, pembaruan pedestal, penataan kolam, hingga penghijauan taman, kini monumen yang menjadi ikon perjuangan rakyat Badung itu tampil megah dan tertata.
Peresmian ditandai dengan penandatanganan prasasti dan pengguntingan pita oleh Wali Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara, usai digelarnya prosesi melaspas dan mecaru sejak pagi hari. Acara ini bertepatan dengan Hari Sugihan Bali, yang dimaknai sebagai momen penyucian diri dan keharmonisan antara manusia dengan alam semesta.
Turut hadir dalam kesempatan tersebut Wakil Wali Kota Denpasar, I Kadek Agus Arya Wibawa, Ketua DPRD Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Gede, unsur Forkopimda, serta para penglingsir Puri Denpasar, Pemecutan, Kesiman, dan Jro Kuta.
Dalam sambutannya, Wali Kota Jaya Negara menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang berkontribusi dalam proses revitalisasi. Ia menegaskan, Monumen Perjuangan Puputan Badung bukan sekadar simbol heroisme masa lalu, tetapi juga wadah edukasi dan pelestarian kebudayaan Bali.
“Monumen ini bukan hanya simbol kejayaan masa lalu, tetapi juga pusat pembelajaran sejarah dan kebudayaan bagi generasi kini dan mendatang,” ujar Jaya Negara.
Menurutnya, pemilihan Hari Sugihan Bali sebagai waktu peresmian memiliki makna filosofis mendalam.
“Sugihan Bali adalah hari untuk menyucikan diri dan alam. Kami berharap nilai kesucian ini menjadi landasan masyarakat dalam memaknai perjuangan para pahlawan bahwa keberanian, ketulusan, dan pengorbanan mereka adalah cahaya yang menuntun perjalanan kita sebagai bangsa,” jelasnya.
Jaya Negara menambahkan, kehadiran monumen yang baru direvitalisasi ini diharapkan menjadi ruang interaksi budaya, refleksi sejarah, sekaligus pengingat pentingnya menjaga identitas dan semangat perjuangan rakyat Bali.
“Monumen ini kami dedikasikan untuk masyarakat. Semoga menjadi inspirasi, memperkuat rasa bangga, serta memupuk semangat persatuan dan gotong royong,” tutupnya.
Konseptor Penataan Monumen, Marmar Herayukti, menjelaskan bahwa monumen kini dirancang lebih ramah bagi penyandang disabilitas. Fasilitas ramp untuk pengguna kursi roda dan guiding block bagi penyandang tunanetra telah disesuaikan dengan standar aksesibilitas.
“Ramp menuju area monumen sudah dapat diakses mandiri oleh penyandang disabilitas. Guiding block juga diperbaiki agar memberi isyarat saat ada hambatan di depan atau samping,” ujarnya.
Herayukti menambahkan, meskipun area monumen dikelilingi kolam, desain tata ruangnya tetap aman bagi semua pengunjung. Suara gemericik air digunakan sebagai penanda alami keberadaan kolam, sementara deretan tanaman berfungsi sebagai pembatas alami.
Pada bagian pedestal, monumen dihiasi relief berbahan kuningan yang menggambarkan kisah perjuangan rakyat Badung. Tiga patung utama yang menjadi ikon monumen kini menghadap ke utara, tepat ke arah rumah jabatan Gubernur Bali, berbeda dari posisi sebelumnya yang menghadap ke selatan.
“Dengan revitalisasi ini, Monumen Perjuangan Puputan Badung diharapkan menjadi ruang publik yang tidak hanya memperindah kota, tetapi juga menanamkan nilai-nilai sejarah dan heroisme bagi masyarakat,” pungkas Marmar.
Editor: Ken
