
Gubernur Koster Ajak Mahasiswa Manfaatkan AI Tanpa Tinggalkan Jati Diri
DENPASAR, KEN-KEN – Gubernur Bali Wayan Koster hadir dan menyimak kuliah umum Pengamat Politik dan Akademisi Rocky Gerung yang digelar di Auditorium Universitas Mahasaraswati (Unmas) Denpasar. Kuliah umum ini mengangkat tema “Dialektika dan Retorika: Menguatkan Logika dan Nalar di Era Artificial Intelligence”.
Dalam pengantarnya, Gubernur Koster menilai tema tersebut sangat relevan dengan perkembangan teknologi digital, khususnya pemanfaatan Artificial Intelligence (AI). Ia mengingatkan mahasiswa agar mampu memanfaatkan AI tanpa meninggalkan jati diri sebagai orang Bali, dengan tetap merawat tradisi, budaya, dan kearifan lokal.
“Pengetahuan tradisional dan modern harus saling menghidupi, tidak boleh saling mematikan,” tegasnya.
Sebagai pemimpin Bali, Koster menekankan komitmennya menjaga adat dan budaya melalui Visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali, yang kini diperkuat dengan Haluan Pembangunan Bali 100 Tahun. Ia pun meminta waktu khusus untuk mensosialisasikan haluan pembangunan tersebut kepada civitas akademika Unmas.

“Haluan Pembangunan Bali 100 Tahun ini sangat penting sebagai fondasi Bali yang lebih baik di masa mendatang,” ujarnya.
Koster juga menyampaikan ikatan personal dengan Universitas Mahasaraswati, di mana semasa duduk di DPR RI ia turut berkontribusi dalam pengalokasian dana APBN untuk pembangunan fasilitas kampus, seperti aula, laboratorium, perpustakaan, dan peralatan kedokteran gigi. Ia memuji langkah Unmas mendatangkan Rocky Gerung sebagai narasumber.
“Bung Rocky adalah sahabat baik saya, sosok yang memotivasi dan menginspirasi. Kehadirannya di Bali adalah sebuah kehormatan bagi Universitas Saraswati,” katanya.
Dalam kuliah umumnya, Rocky Gerung menekankan bahwa kehadiran AI harus dipahami sebagai tantangan bagi manusia untuk terus berpikir kritis.
“AI membantu kita memperkuat kemampuan berpikir. Prinsipnya sederhana, jangan hanya bertanya, tetapi kritisi dan uji argumennya,” jelasnya.
Rocky menegaskan bahwa AI bekerja berbasis komputasi dan pembelajaran artifisial, sementara manusia bertumpu pada pengalaman, nilai, dan kesadaran.
“AI tidak memiliki moralitas. Kita adalah makhluk bermoral, dan passion hadir dalam diri kita,” terangnya.
Ia mengapresiasi langkah Unmas mengangkat tema logika, dialektika, dan retorika di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital.
“Saya berharap dari Bali lahir komunitas yang konsisten menjaga nalar sehat, dan Unmas dapat menjadi salah satu penjaganya,” pungkasnya.
Selain Gubernur Koster, kegiatan ini juga dihadiri Ketua Yayasan Perguruan Rakyat Saraswati Pusat Denpasar, Tjok Istri Sri Ramaswati, SH, MM, serta Rektor Unmas Prof. Dr. Sukawati Lanang P. Perbawa, SH, MH, dengan peserta terdiri dari dosen dan mahasiswa Universitas Mahasaraswati.
Editor: Ken

