BULELENG, KEN-KEN – Pura Batu Kursi yang berada di Desa Pemuteran, Buleleng pada hari Siwaratri, (17/1) ramai didatangi oleh warga umat Hindu untuk melakukan persembahyangan. Hari Siwaratri merupakan hari suci umat Hindu yang dipercaya sebagai hari perenungan suci dan sebagai malam penebusan dosa dengan melakukan jagra atau tidak tidur semalam suntuk.
Pada hari Siwaratri rombongan Suzuki Gianyar melakukan persembahyangan bersama dimulai dari Pura Pemuteran selanjutnya ke Pura Bukit Kursi yang ada di atas bukit dengan pemandangannya yang indah. Berikut dilanjutkan melakukan persembahyangan ke Pura Pulaki, Pura Pabean, Pura Melanting dan terakhir persembahyangan di Pura Kereta Kawat.
Pura Batu Kursi merupakan kawasan suci yang sejak lama dikeramatkan masyarakat sebelum dikenal sebagai Pura Batu Kursi, batu di kawasan ini disebut Batu Negok dan diyakini angker.
Menurut cerita warga bahkan enggan mengambil rumput atau kayu bakar di sekitar lokasi karena dipercaya dapat mendatangkan penyakit maupun masalah lain.
Sejarah dan asal mula dari penamaan tempat ini tentu ada kisah yang melatar belakanginya sehingga menjadi sejarah atau cerita yang diwariskan ke anak cucu. Dinamakan Batu Kursi karena pada bagian puncak bukit berdiri sebuah pura yang mana terdapat sebuah batu besar berdiameter sekitar 20 meter dan berbentuk kursi. Di pura ini berstana Bhatara Lingsir Bagawan Cakru Geni yang masih ada dengan Pura Pucak Manik.

Konon sekitar tahun 1984, seorang sesepuh dari Puri Pemecutan menerima pawisik (wangsit) untuk menuju sebuah batu di barat daya Pura Pemuteran, sekitar 800 meter dari lokasi. Batu tersebut kemudian dikenal sebagai Batu Mekorsi. Dalam perjalanan bersama para pemuka agama Hindu Desa Pemuteran – Jro Gede Nurjaran, Jro Mangku Putu Surata, dan Jro Gadean – terjadi peristiwa unik: liontin emas milik sang sesepuh terhempas angin besar dan hilang.
Sesampainya di Batu Mekorsi, sang sesepuh terharu karena bentuk batu tersebut sesuai dengan pawisik yang diterimanya. Beliau mengalami kerauhan (kesurupan) dan mendapat petunjuk agar kembali dengan membawa sarana upakara lengkap serta tebu cemeng sebagai tongkat simbolis. Setelah petunjuk itu dipenuhi, liontin emas yang sempat hilang ditemukan kembali.
Sejak fenomena tersebut, Batu Mekorsi semakin dikenal luas dan akhirnya berganti nama menjadi Batu Kursi. Pura Batu Kursi pun ramai dikunjungi para spiritualis dari Bali maupun Jawa. Masyarakat percaya, tempat ini bukan sekadar untuk memohon jabatan, melainkan untuk melancarkan kedudukan dan pekerjaan yang dijalani.
Dengan sejarah dan keyakinan yang melekat, Pura Batu Kursi kini menjadi salah satu destinasi spiritual penting di Bali, sekaligus simbol tuntunan bagi pemimpin dan masyarakat luas.
Hari Siwaratri menjadi momentum dalam melakukan tapa brata, yoga semadi dengan melakukan puasa dan tidak tidur dari malam sampai pagi harinya untuk meningkatkan srada bhakti.
Editor: Ken


