DENPASAR, KEN-KEN — Umat Hindu di Bali kembali merayakan Hari Raya Galungan, Buda Kliwon, Dungulan, (19/11), berdasarkan kalender Bali dan sepuluh hari setelah Galungan dirayakan Hari Raya Kuningan, Saniscara Kliwon, wuku Kuningan, (29/11). Dua hari suci yang menjadi simbol kemenangan Dharma atas Adharma sekaligus momen pemberian anugerah suci dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Perayaan yang jatuh setiap 210 hari ini tidak hanya berdimensi religius, melainkan juga menyimpan nilai historis, filosofis, dan sosiologis yang kuat dalam kehidupan masyarakat Bali.
Perayaan dimulai dengan rangkaian upacara dari Tumpek Wariga, Sugihan Jawa, Sugihan Bali, Penyekeban, hingga Penampahan Galungan, sebelum puncaknya diperingati pada Rabu Kliwon Dungulan. Sepuluh hari setelah Galungan, umat merayakan Kuningan, sebagai penutup rangkaian suci ini.
Sejumlah lontar utama, seperti Lontar Sundarigama, Lontar Purana Bali Dwipa, dan Lontar Bhagawan Kasyapa, memuat penjelasan awal mengenai tata upacara Galungan dan Kuningan. Lontar Sundarigama menyebut bahwa Galungan adalah wuku suci saat umat memuliakan kekuatan Tuhan yang menjaga keseimbangan alam.
Dalam lontar tersebut tertulis:
“Ika ring rahina Galungan, umat ngaturang bhakti ring Hyang Widhi, ngunggahang dharma ring sarira.”
Artinya, pada hari Galungan, umat diingatkan untuk menegakkan Dharma dalam dirinya melalui pengendalian pikiran, perkataan, dan perbuatan.
Secara historis, tradisi ini diperkirakan berkembang sejak masa pemerintahan raja-raja Bali Kuna, lalu diperkokoh pada masa Mpu Kuturan, ketika sistem desa adat dan struktur kahyangan tiga mulai dimantapkan. Sejak saat itu, perayaan Galungan dan Kuningan menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas religius masyarakat Bali.
Filosofi perayaan Galungan bersumber dari ajaran Dharma dalam Bhagavad Gita, terutama pada Bab IV dan Bab XVIII. Pada Bhagavad Gita IV:7–8, Sri Krishna menyampaikan bahwa Dharma akan selalu bangkit ketika manusia menjaga kesucian hidup.
“Dharma selalu akan bangkit ketika kebenaran dijalankan dengan tulus.”
Ajaran tersebut menjadi pondasi spiritual bagi makna Galungan sebagai kemenangan Dharma atas Adharma, bukan dalam arti peperangan fisik, melainkan kemenangan batin terhadap ketidakseimbangan moral, ego, kemarahan, dan keserakahan.
Sementara itu, Kuningan dimaknai sebagai momentum turunnya cahaya suci dan anugerah (waranugraha) dari para leluhur atau Dewa Hyang. Ajaran dalam Wrhaspati Tattwa menegaskan bahwa pada hari ini, alam sakala dan niskala berada dalam harmoni, memberi kesempatan umat untuk memohon bimbingan spiritual.
Ragam simbol yang muncul dalam perayaan Kuningan memiliki makna filosofis sendiri: Tamiang melambangkan perlindungan Dharma; Endongan menggambarkan bekal perjalanan spiritual; dan Klabang merepresentasikan kemakmuran dan keberlanjutan hidup.
Penjor yang menghiasi setiap pekarangan rumah dan jalan desa melambangkan Gunung Agung, sebagai poros energi dan pusat kesucian.
Perayaan Galungan dan Kuningan tidak hanya berfungsi sebagai ritual keagamaan, tetapi juga memperkuat struktur sosial masyarakat Bali. Aktivitas persiapan upacara, pembuatan klakat, penjor, dan banten dilakukan secara gotong royong, mencerminkan nilai metetulung yang telah mengakar dalam sistem sosial Bali.
Dalam perspektif Tri Hita Karana, perayaan ini menghubungkan tiga harmoni utama:
- Parhyangan – hubungan manusia dengan Tuhan.
- Pawongan – hubungan manusia dengan sesama.
- Palemahan – hubungan manusia dengan alam.
Tradisi “ngaturang ayah” atau saling membantu antarwarga semakin menegaskan bahwa Galungan dan Kuningan adalah wahana untuk memperkokoh solidaritas komunal. Pada saat yang sama, perayaan ini menjadi sarana pendidikan budaya bagi generasi muda, memperkenalkan nilai susila, estetika, dan spiritualitas Hindu Bali.
Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan sosial, perayaan Galungan dan Kuningan tetap bertahan sebagai pilar budaya Bali. Nilai-nilai Dharma yang dibawa dalam ajaran ini dinilai relevan untuk menghadapi tantangan zaman, seperti degradasi moral, polarisasi sosial, dan krisis lingkungan.
Sejumlah pemuka agama Hindu menekankan bahwa Galungan seharusnya menjadi momentum introspeksi untuk menjaga kesucian diri, integritas sosial, dan keseimbangan dengan alam. Pada saat yang sama, Kuningan mengingatkan umat akan pentingnya kebijaksanaan, keteguhan moral, dan rasa syukur.
Dengan jejak sejarah yang panjang, dasar filosofi mendalam dalam lontar dan Bhagavad Gita, serta nilai sosiologis yang kuat dalam kehidupan masyarakat, perayaan Galungan dan Kuningan bukan sekadar hari raya keagamaan, tetapi merupakan refleksi mendalam tentang keseimbangan, harmoni, dan kemenangan Dharma dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui perayaan ini, umat Hindu di Bali menegaskan kembali jati diri spiritual sekaligus komitmennya untuk menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
*Sumber: Dikutip dari berbagai sumber
Editor: Ken

